Dalam konteks sosial masyarakat Indonesia modern, seringkali dijumpai istilah “pribumi” yang biasanya mengacu pada identitas orang asli di daerah tertentu. Pribumi merupakan penduduk asli dari suatu wilayah yang telah membangun kebudayaan dengan status asli sebagai kelompok etnis dan bukan datang dari daerah lain.
Klasifikasi umum etnis kesukuan lokal Indonesia sebenarnya masih banyak. Misalnya, orang Batak di Sumatra Utara, Sunda di Banten dan Jawa Barat, Minang di Sumatra Barat, Bugis di Sulawesi Selatan, Dayak di Kalimantan Tengah dan Barat, dan lain sebagainya.
Namun, di sisi lain, istilah “pribumi” kerap digunakan sebagai pembeda antar golongan masyarakat yang dianggap sebagai orang/suku/etnis asli Indonesia dengan mereka yang dianggap sebagai “kaum pendatang”.
Dikotomi antara istilah ‘pribumi’ dan ‘pendatang’ menjadi polemik dalam konteks sosial bermasyarakat di Indonesia. Melansir dari laman Zenius, berikut asal usul kedatangan orang pertama di Indonesia:
Kedatangan 1: Homo erectus
Jauh sebelum manusia modern (homo sapiens) datang ke Indonesia, bangsa tertua yang datang dan menghuni Nusantara adalah Homo erectus yang melakukan migrasi panjang dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu.Bisa dibilang, Homo erectus ialah penduduk yang paling lama tinggal di tanah Nusantara sekitar 1,5 – 1,7 juta tahun. Migrasi panjang Homo erectus dari Afrika ke berbagai penjuru dunia memang cukup fenomenal dan sedikit banyak keberadaan mereka membentuk ekosistem yang kita kenal sekarang ini.
Dari sekian banyak kelompok Homo erectus yang terpencar menuju Eropa, Asia Tengah, India, ada beberapa yang mencoba nekat menyusuri garis pantai selatan sampai ke Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Flores.
Mungkin ada sebagian yang bingung, bagaimana caranya Homo erectus bisa menyeberangi laut? Perlu diingat garis batas daratan dan lautan yang kita kenal sebagai peta dunia modern sekarang itu berbeda dengan keadaan bumi satu sampai dua juta tahun yang lalu.
Sekitar satu sampai dua juta tahun yang lalu, Pulau Jawa, Sumatra, dan lainnya belum terpisah alias masih menyatu. Jadi, 1,8 juta tahun yang lalu Homo erectus bisa berjalan kaki dari Vietnam sampai ke Bali tanpa menyeberangi laut.
Homo erectus kemudian beranak pinak dan menyebar ke seluruh Paparan Sunda (Sunda Shelf) termasuk beberapa di antaranya yang menyeberang laut sampai Flores. Jadi, bisa dibayangkan Homo Erectus sudah mengacak kepulauan Nusantara selama 1,5 juta tahun
Hal ini mereka lakukan dengan berburu, membuat api, membentuk kelompok-kelompok, berperang, dan lain sebagainya sampai akhirnya punah kira-kira 100.000 tahun yang lalu.
Kedatangan 2: Homo sapiens gelombang pertama (Melanesia)
Sama seperti Homo erectus, Homo sapiens atau manusia modern yang jadi cikal bakal pribumi Indonesia juga berasal dari Afrika dan melakukan migrasi besar-besaran ke seluruh penjuru dunia dalam dua gelombang migrasi.Gelombang pertama berlangsung kira-kira 100 ribu tahun yang lalu, sedangkan gelombang kedua berlangsung kira-kira 50-70 ribu tahun yang lalu.
Gelombang pertama keluar dari Afrika lewat selat kecil yang memisahkan Ethiopia dan Yaman, dan berlanjut ke India bagian selatan, menyusuri pantai, lanjut ke Paparan Sunda sampai menyeberang dengan perahu ke Paparan Sahul (Papua, Australia).
Suku bangsa yang pertama kali datang ke Indonesia berciri Melanosoid (seperti ciri orang Papua dan Aborigin). Dalam periode waktu migrasi ini, daerah kepulauan Nusantara tetap tersambung tapi bukan karena faktor tektonik.
Melainkan karena pada masa itu, bumi sedang menjalani masa zaman es (ice age) yang menyebabkan sebagian permukaan laut menyatu menjadi daratan es.
Manusia modern gelombang pertama ini akhirnya menempati Nusantara sampai zaman es berakhir (es mencair menjadi lautan yang memisahkan pulau), sehingga terbentuklah Kepulauan Nusantara seperti yang dikenal seperti sekarang.
Kehadiran petualang awal ini masih bisa kita lihat pada peradaban manusia modern yang lebih akrab kita kenal dengan kebudayaan berciri Melanesia atau golongan etnis Negrito. Beberapa di antaranya adalah:
- Suku Sentinel, Onge, Jarawa di Kepulauan Andaman
- Suku Asli, Semang, Sakai di Malaysia
- Suku Mani di Thailand
- Suku Aeta, Agta, Ati di Filipina
- Suku Dani, Bauzi, Asmat, Amungme di Indonesia & Papua Nugini
- Suku Aborigin Australia dan Tasmania
Kehidupan orang Melanesia berawal dengan budaya berburu dan mengumpulkan makanan (hunter & gatherer) yang kemudian sebagian besar (kecuali Aborigin Australia) mulai mengenal pertanian, perkebunan, dan peternakan dalam skala kecil.
Sayangnya, kebudayaan agrikultur ini tidak berkembang dengan skala luas karena kecenderungan masyarakat Melanesia yang berjumlah kecil dan terpisah jauh dengan suku tetangga lain.
Hal ini juga yang menyebabkan orang Melanesia bisa hidup tanpa perlu mengembangkan pertanian dan peternakan dalam skala besar dan juga tidak ada desakan lingkungan untuk membentuk struktur kemasyarakatan yang kompleks dan sistematis.
Terlepas dari itu, sebetulnya kalau ditanya siapakah orang pribumi Indonesia pertama yang menempati Kepulauan Nusantara? Jawabannya jelas adalah orang-orang Melanesia. Mereka bahkan diduga kuat sebagai penyebab hilangnya Homo erectus di Paparan Sunda (entah dengan cara pembunuhan maupun perkawinan).
Arkeolog dan paleontolog juga menduga kuat manusia modern berciri Melanosoid ini pernah hidup bersama satu pulau dengan human-species lain yang merupakan keturunan dari Homo erectus yaitu Homo floresiensis di Kepulauan Flores.
Tapi, mengapa suku pribumi Indonesia pertama ini cuma tersisa di pedalaman Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya? Sampai saat ini ahli sejarah belum menemukan jawaban yang pasti.
Namun, dugaan terkuat hilangnya komunitas Melanesia di wilayah barat Indonesia diakibatkan kedatangan rombongan manusia modern gelombang berikutnya dalam jumlah besar, yang datang dengan perahu-perahu kecil yang terbilang cukup canggih untuk ukuran waktu itu.
Jadi, bisa dibilang bahwa bangsa tertua yang datang dan menghuni Nusantara adalah Melanesia.
Kedatangan 3: Homo sapiens (Melayu – Austronesia)
Rumpun Austronesia ini merupakan rumpun yang sangat besar, mencakup suku Melayu, Formosan (Taiwan), Polynesia (Hawaii, Selandia Baru, dan sebagainya). Muka bulat, hidung lebar, rambut hitam tebal sedikit bergelombang, dan kulit kecoklatan, merupakan ciri-ciri bersama satu rumpun Austronesia ini.Suku pribumi Indonesia ini datang tidak hanya modal nekat, tapi juga membawa serta “amunisi” mereka berupa hewan ternak seperti ayam, babi, dan bibit padi, dan lain-lain. Kebiasaan mereka dalam menanam padi menimbulkan kebutuhan adanya lahan pertanian yang luas serta teknologi irigasi yang “canggih”.
Salah satu sisa budaya asli Austronesia yang masih bisa dilihat sekarang adalah sistem irigasi menggunakan sengkedan (terasering). Berbekal kepiawaian dalam berlayar menggunakan teknologi maritim super canggih saat itu (kano bercadik dua yang sangat stabil walaupun diguncang badai dan ombak) dan sistem pertanian yang efektif,
Dalam masa peralihan dari melanesia menuju austronesia, sampai zaman setelah masyarakat Nusantara mengenal tulisan, sudah tidak ada lagi jejak-jejak kebudayaan maupun ciri fisik masyarakat Melanesia di pulau-pulau bagian barat Nusantara (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Lombok).
Sedangkan di kepulauan Nusantara bagian timur, penduduk Indonesia masih bisa melihat jejak hasil pertukaran budaya dan juga gen Melanesia pada masyarakat Kepulauan Maluku, Papua bagian pesisir, dan Kepulauan NTT.
Dari segi morfologis, masyarakat yang berasal dari Indonesia timur merupakan campuran antara rumpun Austronesia (muka bulat, hidung lebar) dan rumpun Melanesia (rambut ikal atau malah keriting kecil, kulit lebih gelap).
Mereka yang tersisa di Kepulauan Nusantara hanyalah mereka yang berhasil menetap tanpa gangguan di pedalaman Papua dan masih setia dengan kebijaksanaan lokal, seperti berkebun dalam skala kecil, berburu binatang, dan hidup dalam masyarakat kesukuan.
Orang-orang Melayu yang datang ke Nusantara juga secara umum bisa dibagi dua, yakni Melayu yang mager (malas gerak) dan Melayu yang tidak bisa diam. Melayu-melayu malas gerak ini bukan berarti memiliki sifat kemalasan, namun, memang sudah berhasil menciptakan masyarakat yang stabil sehingga sudah tidak diperlukan lagi mobilitas penduduk.
Keturunan Melayu golongan pertama ini bisa dilihat pada suku Nias di Pulau Nias dan suku Dayak di pedalaman Kalimantan, yang juga biasa disebut sebagai “Proto Melayu” (Proto = purwa/primitif).
Ada pula golongan Melayu yang karena alasan tertentu (misalnya: kondisi geografis, iklim, bencana) merasa perlu untuk terus berpindah tempat sekaligus berinteraksi dengan kelompok lain di sekitarnya, sehingga memungkinkan adanya percampuran budaya, bahasa, serta gen. Suku tersebut biasanya dinamakan dengan Deutro Melayu (Deutro = Berulang/ulangan).
Suku yang merupakan keturunan asli bangsa Deutro Melayu adalah suku Minangkabau, Jawa, Banjar, Bugis, Makassar, Bali, Lombok, Batak, Aceh, Madura, Minahasa, dan puluhan suku-suku lain yang kita kenal di Indonesia.
Jadi, apa perbedaan Proto dan Deutro Melayu? Bedanya hanya Proto menetap di tempat terpencil sehingga menyulitkan terjadinya percampuran gen yang lebih variatif, sedangkan Deutero menetap di tempat yang memungkinkan untuk terjadinya percampuran gen.
Jadi, proto dan deutro tidak menggambarkan siapa yang lebih dulu datang, tapi hanya satu yang menetap, yang satu lagi pindah-pindah dan membaur. Salah satu pribumi Indonesia, bangsa Melayu dapat dikatakan sangat nyaman tinggal di Kepulauan Nusantara.
Mereka beranak-pinak dan ujung-ujungnya bikin beragam peradaban dan kebudayaan-kebudayaan yang masih bisa kita dinikmati sampai sekarang. Bangunan rumah panggung atap rumbia, tarian, baju daerah yang warna-warni, wajah dan badan yang dibubuhi tato, bahkan bahasa-bahasanya, masih bercirikan Austronesia.
Tidak hanya yang ada di Indonesia maupun Malaysia saja, namun kebudayaan serupa juga bisa ditemukan di orang Maori (Selandia Baru), Rapa Nui (Pulau Paskah), orang asli Taiwan, Madagaskar, dan pelosok-pelosok Austronesia lainnya. Akan tetapi, stabilitas yang sebelumnya terbangun pasti akan menghadapi tantangan baru, perubahan selalu terjadi.
Kedatangan 4: Sino-Tibetan, Dravidian, dan Etnis Semitic
Dalam periode kurang lebih seribu tahun setelah kedatangan etnis Melayu di Nusantara, peradaban dan kebudayaan Austronesia berkembang semakin kompleks dan mulai melakukan interaksi perdagangan dengan kebudayaan lainnya, termasuk transaksi logam hasil kebudayaan Dong Son di Vietnam.Transaksi logam dengan peradaban yang jauh di seberang lautan ini juga memicu orang-orang Melayu Austronesia di Nusantara mengembangkan industri metalurgi logam mereka sendiri. Ternyata, interaksi perdagangan sekelompok masyarakat Austronesia di Nusantara ini berkembang menjadi sangat ramai.
Sampai akhirnya Nusantara mengundang kedatangan banyak pedagang dari peradaban luar pada awal abad Masehi, yaitu peradaban Dravidian, Sino-Tibetan, dan etnis Semit. Pendatang pedagang ini sudah pasti bukanlah asli pribumi Indonesia. Mereka hanya meramaikan perdagangan di Nusantara.
Dalam dunia modern, peradaban Dravidian lebih akrab kita kenal dengan nama India, sementara peradaban Sino-Tibetan kita kenal sekarang dengan nama Tionghoa dan etnis Semit direpresentasikan dalam dunia modern pada budaya di Asia Tengah seperti Arab dan Yahudi.
Dravida bisa dikatakan sama dengan India, Sino-Tibetan bisa dikatakan sama dengan Tionghoa dan Semit bisa dikatakan sama dengan Arab dalam dunia peradaban. Sementara itu, pedagang Dravida, Sino-Tibetan, dan Semitic yang dulu datang ke wilayah Nusantara, sama sekali tidak membawa atribut kenegaraan yang sekarang dikenal di dunia modern.
Dari antara tiga gelombang pendatang baru ini, orang Dravida (India) memulai perjalanannya lebih dulu ke daerah Nusantara untuk berdagang sejak abad 1 Masehi. Sedangkan pendatang Sino-Tibetan baru melakukan eksplorasi besar-besaran di perdagangan Nusantara sejak dinasti Han runtuh awal abad 3 masehi.
Sementara itu, orang Semit mulai pertama kali berdatangan ke pulau Sumatra untuk berdagang dan menyebarkan agama pada abad 7 Masehi. Pada awal abad masehi, kebudayaan India dijadikan tolak ukur kemajuan suatu suku/daerah.
Penguasa lokal berlomba-lomba mengadopsi budaya India (termasuk agama Hindu, bahasa Sanskerta, dan tulisan Pallawa) agar bisa dianggap luar biasa. Kerajaan-kerajaan awal bercorak India di Nusantara, dari mulai Kerajaan Salaka Nagara, Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, dan lain-lain.
Sementara itu, catatan sejarah awal tentang kedatangan masyarakat Sino-Tibetan ke wilayah Nusantara ditandai oleh catatan perjalanan biksu bernama Faxian (Fa Hsien) pada awal abad 5 Masehi yang tidak sengaja terdampar ke wilayah Nusantara karena badai.
Selain itu, biksu Yijing (I Tsing) pada abad 8 Masehi dari dinasti Tang juga melaporkan tentang sebuah kerajaan maritim yang sangat besar di Sumatra yang disebut sebagai Sanfordi (padahal yang dia maksud itu Kerajaan Sriwijaya).
Pada abad 7 Masehi, pedagang dari Arab mulai berdatangan ke Pulau Sumatra. Pedagang Arab ini berperan sebagai distributor komoditas dan hasil bumi Nusantara seperti cengkeh dan pala dari Maluku di pasar Timur Tengah maupun Eropa.
Hubungan dagang antara pedagang Arab dan lokal dari Nusantara ini semakin penting untuk sendi perekonomian Timur Tengah hingga gosip politik di kawasan Nusantara menjadi buah bibir di jazirah Arab nun jauh di seberang benua.
Contohnya, cerita tentang Maharaja Zabag (Sri Vijaya) waktu bertengkar dengan raja dari Khmer (Kamboja) yang beritanya sampai tersebar luas di masyarakat Timur Tengah pada abad 13 Masehi.
Jadi, sejak abad pertama Masehi, Nusantara tidak lagi ekslusif dihuni oleh bangsa Austronesia maupun campuran Melanesia, di mana pendatang baru sudah mulai bermunculan dari wilayah Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tengah.
Sebagian besar dari pendatang ini memiliki peran sosial sebagai pedagang dan rohaniawan dan tidak sedikit juga yang memutuskan untuk menetap dan kawin campur dengan orang lokal Indonesia. Mirisnya, kedatangan budaya India, Tiongkok, dan Arab ini masih banyak salah dimengerti masyarakat umum dan sedikit banyak menjadi bahan pemicu konflik rasial di Indonesia.
1. Kedatangan etnis Tionghoa (Sino-Tibetan)
Setelah kedatangan Faxian dan Yijing, diaspora masyarakat dari Tiongkok berlangsung dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama yang cukup besar dipengaruhi oleh kebijakan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Wikramawardhana yang liberal.Pemerintahannya memperbolehkan semua orang dari ras dan agama apa pun untuk berdagang dan menyebarkan agamanya di daerah kekuasaan Majapahit. Kebijakan ini membawa peluang bagi Laksamana dari Dinasti Ming, Zheng He (Cheng Ho/Ma Sanbao/Sampokong) yang beragama Islam,
Mereka bolak-balik mengunjungi pantai utara Jawa bagian Tengah untuk berdagang pada awal abad 15. Zheng He sendiri yang beragama Islam membawa rombongan Tionghoa Muslim, Buddha, Tao, dan Konghucu untuk berdagang bersama di Pulau Jawa.
Gelombang migrasi kedua terjadi pada saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen berhasil menguasai Jayakarta (1619) dan membangun kota baru bernama Batavia (dari reruntuhan Jayakarta). Pada masa pembangunan itu, tentu dia memerlukan pekerja, pedagang, dan penduduk kota.
Coen yang mungkin saat itu khawatir banyak masyarakat lokal yang masih menyimpan dendam, memutuskan mendatangkan orang-orang dari tanah Tiongkok untuk dipekerjakan menjadi buruh dan pedagang.
Tapi di satu sisi, bukan berarti masyarakat pendatang Tionghoa ini berpihak pada Belanda. Seiring dengan semakin kompleksnya interaksi budaya, mulai berkembanglah masalah-masalah sosial.
Sampai akhirnya terjadi peristiwa maha akbar yang sayangnya kurang diliput, yaitu Geger Pecinan, yaitu ketika orang-orang Tionghoa dari seluruh pelosok Jawa bahu-membahu dengan masyarakat Jawa lokal untuk melakukan pemberontakan melawan Belanda.
Saking dahsyatnya Geger Pecinan, peristiwa ini berujung kepada pemisahan Kesultanan Mataram menjadi empat kekuasaan terpisah. Di sisi lain, ternyata kebijakan Belanda yang antipati dengan masyarakat setempat membuat Belanda juga merekrut pekerja dan pedagang dari Tiongkok (juga India dan Arab).
Perekrutan ini dilakukan untuk bekerja dan berdagang di belahan Nusantara lainnya, seperti Pontianak, Medan, Maluku, Papua, Makassar, Padang, dan lainnya. Saking tidak percayanya Belanda dengan masyarakat lokal, dibuatlah perkampungan-perkampungan Pecinan yang dibuat eksklusif oleh pejabat-pejabat Belanda.
Inilah sumber permasalahan berbau rasisme yang sampai sekarang masih menghantui kondisi sosial masyarakat Indonesia. Hanya gara-gara ulah orang Eropa yang pada waktu itu selalu menganggap manusia perlu diklasifikasi, sehingga akhirnya berujung pada justifikasi dan perilaku diskriminatif terhadap golongan etnik tertentu.
Hal itu berlarut-larut menjadi dampak yang lebih luas, dari mulai eksklusivitas sampai kecemburuan sosial dan masih terus mengakar pada masyarakat modern Indonesia. Terlepas dari itu semua, masyarakat Tionghoa gelombang pertama dan kedua ini sekarang lebih akrab disebut sebagai “peranakan”, karena relatif lebih membaur dengan masyarakat lokal.
Sementara istilah “totok”, dialamatkan untuk keturunan Tionghoa yang melakukan migrasi pada gelombang ketiga, yaitu pada awal abad 20. Di masa ini, Revolusi Tiongkok yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen membawa pergolakan politik dan sosial sehingga banyak rakyat Tiongkok yang memilih untuk pergi ke Hindia Belanda untuk mengadu nasib.
Singkat cerita, ketiga gelombang migrasi inilah yang memperkaya kebinekaan Indonesia dengan memiliki etnis Tionghoa dengan jumlah sekitar 2,8 juta jiwa.
2. Kedatangan Etnik India (Dravida, Tamil, dkk)
Berbeda dengan kedatangan etnis Tionghoa, kedatangan masyarakat India dan Arab tidak ditandai dengan gelombang atau peristiwa khusus. Melainkan, melalui proses yang terjadi secara gradual seiring dengan meningkatnya sektor perdagangan di bumi Nusantara.Semenjak perdagangan mulai ramai di Nusantara, banyak pedagang dari India dan Arab yang datang dan menetap, menyebarkan agama dan menikah dengan orang lokal Nusantara. Pengaruh budaya India di Nusantara, selain ditandai pada corak kerajaan Hindu pada awal abad Masehi, juga sempat dipengaruhi aktivitas perdagangan Eropa di Nusantara.
Pada abad 15-16, banyak pelaut Portugis yang membawa orang-orang India bagian selatan (Tamil) untuk jadi buruh pekerja di pos-pos ataupun perkebunan Portugis. Hal yang sama juga terjadi saat zaman Belanda.
Ketika Kota Medan sedang banyak melakukan pembangunan, pemerintah Hindia Belanda merekrut banyak pekerja dari suku Tamil untuk membuat infrastruktur sejenis jalanan dan perumahan. Bahkan, hingga sekarang keturunan masyarakat Tamil mendiami negara Indonesia dan bisa ditemui di Kampung Madras (dulu bernama Kampung Keling) di Kota Medan!
Berbeda dari suku Tamil, orang-orang dari India bagian utara (Gujarat, Sikh, Bengali, dsb) kedatangannya lebih mirip dengan cara orang Arab, yaitu berdagang. Walaupun jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang keturunan Tionghoa, keberadaan orang-orang India dan cukup menghiasi keanekaragaman asal-usul seluruh penduduk Indonesia zaman modern.
3. Kedatangan etnis Arab (Semit, Arabic, dan lain-lain)
Kedatangan etnis Arab di Kepulauan Nusantara berbeda dengan Tionghoa dan India karena tidak punya gelombang khusus yang menandai kedatangan mereka secara masal, melainkan secara gradual, perlahan namun konsisten.Sejak abad 7 Masehi, etnis Arab datang ke Indonesia untuk berdagang dan sebagian untuk menyebarkan agama Islam. Sebagian dari mereka ada yang kembali tapi tidak sedikit juga yang memutuskan untuk menetap di wilayah Nusantara.
Bahkan, sebagian dari etnis Arab sangat membaur dengan masyarakat lokal seperti pedagang Arab di Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara sehingga mengadopsi nama keluarga lokal di sana.
Beberapa kelompok lain, membuat komunitas semi eksklusif, terutama ketika zaman pendudukan Belanda, di mana etnis Arab juga sempat difasilitasi oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan dibuatkan perkampungan khusus untuk keturunan Arab di daerah Koja Batavia.
Mayoritas keturunan Arab di Indonesia memiliki leluhur dari daerah Hadramaut (Yemen), dan sebagian dari Arab Hijazi (Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, dsb). Lucunya, saat ini jumlah masyarakat keturunan Hadramaut di Indonesia jauh melebihi jumlah masyarakat di tempat asal leluhur mereka sekarang di Republik Yemen.
Jadi, siapa orang asli pribumi Indonesia?
Dalam tinjauan sejarah, daerah Nusantara pada mulanya adalah tanah tak bertuan, sampai akhirnya banyak kedatangan pendatang sejak zaman Homo erectus, hingga berbagai banyak jenis dan rumpun manusia datang dan akhirnya menyebut Nusantara ini sebagai rumah mereka.Dalam polemik sosial masyarakat modern Indonesia, sebetulnya definisi dari ‘kaum pribumi’ itu sendiri sangat rancu. Jika indikator ‘pribumi’ adalah masyarakat yang paling lama tinggal, berarti yang pantas disebut pribumi Indonesia yang asli adalah Homo erectus yang tinggal di Nusantara ini selama kurang-lebih 1,5 juta tahun.
Tapi jika definisi pribumi artinya manusia modern (Homo sapiens) yang pertama datang ke Bumi Nusantara, jawabannya adalah rumpun Melanesia yang sekarang direpresentasikan oleh suku-suku di Papua.
Bumi Nusantara dulunya adalah tanah tak bertuan hingga manusia dari berbagai rumpun kesukuan berdatangan silih berganti dan mengeklaim tanah ini adalah milik mereka, kekuasaan jatuh-bangun dari zaman Kerajaan, Hindia Belanda, sampai akhirnya kini menjadi negara Indonesia yang mewarisi keanekaragaman yang luar biasa.
Perlu diingat kekayaan budaya yang kita nikmati sekarang ini lahir dari proses asimilasi, menerima perbedaan budaya, menghasilkan budaya campuran, dan akhirnya menjadi identitas bangsa yang baru, bernama Indonesia.
Itulah latar belakang sejarah mengenai pribumi Indonesia. Ternyata kalau dilihat, panjang sekali sejarahnya ya, Sobat Medcom? (Gabriella Carissa Maharani Prahyta)
| Baca juga: Sejarah Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Eropa di Indonesia Hingga Muncul Kemerdekaan |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News