Ilustrasi peta Indonesia. DOK Zenius
Ilustrasi peta Indonesia. DOK Zenius

Sejarah Panjang Kedatangan Orang Pertama di Indonesia

Medcom • 31 Agustus 2022 09:37
Berikut bahasan khusus kedatangan dari tiga budaya yang masuk pada awal abad Masehi ini:

1. Kedatangan etnis Tionghoa (Sino-Tibetan)

Setelah kedatangan Faxian dan Yijing, diaspora masyarakat dari Tiongkok berlangsung dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama yang cukup besar dipengaruhi oleh kebijakan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Wikramawardhana yang liberal.
 
Pemerintahannya memperbolehkan semua orang dari ras dan agama apa pun untuk berdagang dan menyebarkan agamanya di daerah kekuasaan Majapahit. Kebijakan ini membawa peluang bagi Laksamana dari Dinasti Ming, Zheng He (Cheng Ho/Ma Sanbao/Sampokong) yang beragama Islam,
 
Mereka bolak-balik mengunjungi pantai utara Jawa bagian Tengah untuk berdagang pada awal abad 15. Zheng He sendiri yang beragama Islam membawa rombongan Tionghoa Muslim, Buddha, Tao, dan Konghucu untuk berdagang bersama di Pulau Jawa.

Gelombang migrasi kedua terjadi pada saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Jan Pieterszoon Coen berhasil menguasai Jayakarta (1619) dan membangun kota baru bernama Batavia (dari reruntuhan Jayakarta). Pada masa pembangunan itu, tentu dia memerlukan pekerja, pedagang, dan penduduk kota.
 
Coen yang mungkin saat itu khawatir banyak masyarakat lokal yang masih menyimpan dendam, memutuskan mendatangkan orang-orang dari tanah Tiongkok untuk dipekerjakan menjadi buruh dan pedagang.
 
Tapi di satu sisi, bukan berarti masyarakat pendatang Tionghoa ini berpihak pada Belanda. Seiring dengan semakin kompleksnya interaksi budaya, mulai berkembanglah masalah-masalah sosial.
 
Sampai akhirnya terjadi peristiwa maha akbar yang sayangnya kurang diliput, yaitu Geger Pecinan, yaitu ketika orang-orang Tionghoa dari seluruh pelosok Jawa bahu-membahu dengan masyarakat Jawa lokal untuk melakukan pemberontakan melawan Belanda.
 
Saking dahsyatnya Geger Pecinan, peristiwa ini berujung kepada pemisahan Kesultanan Mataram menjadi empat kekuasaan terpisah. Di sisi lain, ternyata kebijakan Belanda yang antipati dengan masyarakat setempat membuat Belanda juga merekrut pekerja dan pedagang dari Tiongkok (juga India dan Arab). 
 
Perekrutan ini dilakukan untuk bekerja dan berdagang di belahan Nusantara lainnya, seperti Pontianak, Medan, Maluku, Papua, Makassar, Padang, dan lainnya. Saking tidak percayanya Belanda dengan masyarakat lokal, dibuatlah perkampungan-perkampungan Pecinan yang dibuat eksklusif oleh pejabat-pejabat Belanda.
 
Inilah sumber permasalahan berbau rasisme yang sampai sekarang masih menghantui kondisi sosial masyarakat Indonesia. Hanya gara-gara ulah orang Eropa yang pada waktu itu selalu menganggap manusia perlu diklasifikasi, sehingga akhirnya berujung pada justifikasi dan perilaku diskriminatif terhadap golongan etnik tertentu.
 
Hal itu berlarut-larut menjadi dampak yang lebih luas, dari mulai eksklusivitas sampai kecemburuan sosial dan masih terus mengakar pada masyarakat modern Indonesia. Terlepas dari itu semua, masyarakat Tionghoa gelombang pertama dan kedua ini sekarang lebih akrab disebut sebagai “peranakan”, karena relatif lebih membaur dengan masyarakat lokal. 
 
Sementara istilah “totok”, dialamatkan untuk keturunan Tionghoa yang melakukan migrasi pada gelombang ketiga, yaitu pada awal abad 20. Di masa ini, Revolusi Tiongkok yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen membawa pergolakan politik dan sosial sehingga banyak rakyat Tiongkok yang memilih untuk pergi ke Hindia Belanda untuk mengadu nasib. 
 
Singkat cerita, ketiga gelombang migrasi inilah yang memperkaya kebinekaan Indonesia dengan memiliki etnis Tionghoa dengan jumlah sekitar 2,8 juta jiwa.
 
 




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan