Kedatangan 4: Sino-Tibetan, Dravidian, dan Etnis Semitic
Dalam periode kurang lebih seribu tahun setelah kedatangan etnis Melayu di Nusantara, peradaban dan kebudayaan Austronesia berkembang semakin kompleks dan mulai melakukan interaksi perdagangan dengan kebudayaan lainnya, termasuk transaksi logam hasil kebudayaan Dong Son di Vietnam.Transaksi logam dengan peradaban yang jauh di seberang lautan ini juga memicu orang-orang Melayu Austronesia di Nusantara mengembangkan industri metalurgi logam mereka sendiri. Ternyata, interaksi perdagangan sekelompok masyarakat Austronesia di Nusantara ini berkembang menjadi sangat ramai.
Sampai akhirnya Nusantara mengundang kedatangan banyak pedagang dari peradaban luar pada awal abad Masehi, yaitu peradaban Dravidian, Sino-Tibetan, dan etnis Semit. Pendatang pedagang ini sudah pasti bukanlah asli pribumi Indonesia. Mereka hanya meramaikan perdagangan di Nusantara.
Dalam dunia modern, peradaban Dravidian lebih akrab kita kenal dengan nama India, sementara peradaban Sino-Tibetan kita kenal sekarang dengan nama Tionghoa dan etnis Semit direpresentasikan dalam dunia modern pada budaya di Asia Tengah seperti Arab dan Yahudi.
Dravida bisa dikatakan sama dengan India, Sino-Tibetan bisa dikatakan sama dengan Tionghoa dan Semit bisa dikatakan sama dengan Arab dalam dunia peradaban. Sementara itu, pedagang Dravida, Sino-Tibetan, dan Semitic yang dulu datang ke wilayah Nusantara, sama sekali tidak membawa atribut kenegaraan yang sekarang dikenal di dunia modern.
Dari antara tiga gelombang pendatang baru ini, orang Dravida (India) memulai perjalanannya lebih dulu ke daerah Nusantara untuk berdagang sejak abad 1 Masehi. Sedangkan pendatang Sino-Tibetan baru melakukan eksplorasi besar-besaran di perdagangan Nusantara sejak dinasti Han runtuh awal abad 3 masehi.
Sementara itu, orang Semit mulai pertama kali berdatangan ke pulau Sumatra untuk berdagang dan menyebarkan agama pada abad 7 Masehi. Pada awal abad masehi, kebudayaan India dijadikan tolak ukur kemajuan suatu suku/daerah.
Penguasa lokal berlomba-lomba mengadopsi budaya India (termasuk agama Hindu, bahasa Sanskerta, dan tulisan Pallawa) agar bisa dianggap luar biasa. Kerajaan-kerajaan awal bercorak India di Nusantara, dari mulai Kerajaan Salaka Nagara, Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara, dan lain-lain.
Sementara itu, catatan sejarah awal tentang kedatangan masyarakat Sino-Tibetan ke wilayah Nusantara ditandai oleh catatan perjalanan biksu bernama Faxian (Fa Hsien) pada awal abad 5 Masehi yang tidak sengaja terdampar ke wilayah Nusantara karena badai.
Selain itu, biksu Yijing (I Tsing) pada abad 8 Masehi dari dinasti Tang juga melaporkan tentang sebuah kerajaan maritim yang sangat besar di Sumatra yang disebut sebagai Sanfordi (padahal yang dia maksud itu Kerajaan Sriwijaya).
Pada abad 7 Masehi, pedagang dari Arab mulai berdatangan ke Pulau Sumatra. Pedagang Arab ini berperan sebagai distributor komoditas dan hasil bumi Nusantara seperti cengkeh dan pala dari Maluku di pasar Timur Tengah maupun Eropa.
Hubungan dagang antara pedagang Arab dan lokal dari Nusantara ini semakin penting untuk sendi perekonomian Timur Tengah hingga gosip politik di kawasan Nusantara menjadi buah bibir di jazirah Arab nun jauh di seberang benua.
Contohnya, cerita tentang Maharaja Zabag (Sri Vijaya) waktu bertengkar dengan raja dari Khmer (Kamboja) yang beritanya sampai tersebar luas di masyarakat Timur Tengah pada abad 13 Masehi.
Jadi, sejak abad pertama Masehi, Nusantara tidak lagi ekslusif dihuni oleh bangsa Austronesia maupun campuran Melanesia, di mana pendatang baru sudah mulai bermunculan dari wilayah Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tengah.
Sebagian besar dari pendatang ini memiliki peran sosial sebagai pedagang dan rohaniawan dan tidak sedikit juga yang memutuskan untuk menetap dan kawin campur dengan orang lokal Indonesia. Mirisnya, kedatangan budaya India, Tiongkok, dan Arab ini masih banyak salah dimengerti masyarakat umum dan sedikit banyak menjadi bahan pemicu konflik rasial di Indonesia.