2. Kedatangan Etnik India (Dravida, Tamil, dkk)
Berbeda dengan kedatangan etnis Tionghoa, kedatangan masyarakat India dan Arab tidak ditandai dengan gelombang atau peristiwa khusus. Melainkan, melalui proses yang terjadi secara gradual seiring dengan meningkatnya sektor perdagangan di bumi Nusantara.Semenjak perdagangan mulai ramai di Nusantara, banyak pedagang dari India dan Arab yang datang dan menetap, menyebarkan agama dan menikah dengan orang lokal Nusantara. Pengaruh budaya India di Nusantara, selain ditandai pada corak kerajaan Hindu pada awal abad Masehi, juga sempat dipengaruhi aktivitas perdagangan Eropa di Nusantara.
Pada abad 15-16, banyak pelaut Portugis yang membawa orang-orang India bagian selatan (Tamil) untuk jadi buruh pekerja di pos-pos ataupun perkebunan Portugis. Hal yang sama juga terjadi saat zaman Belanda.
Ketika Kota Medan sedang banyak melakukan pembangunan, pemerintah Hindia Belanda merekrut banyak pekerja dari suku Tamil untuk membuat infrastruktur sejenis jalanan dan perumahan. Bahkan, hingga sekarang keturunan masyarakat Tamil mendiami negara Indonesia dan bisa ditemui di Kampung Madras (dulu bernama Kampung Keling) di Kota Medan!
Berbeda dari suku Tamil, orang-orang dari India bagian utara (Gujarat, Sikh, Bengali, dsb) kedatangannya lebih mirip dengan cara orang Arab, yaitu berdagang. Walaupun jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang keturunan Tionghoa, keberadaan orang-orang India dan cukup menghiasi keanekaragaman asal-usul seluruh penduduk Indonesia zaman modern.
3. Kedatangan etnis Arab (Semit, Arabic, dan lain-lain)
Kedatangan etnis Arab di Kepulauan Nusantara berbeda dengan Tionghoa dan India karena tidak punya gelombang khusus yang menandai kedatangan mereka secara masal, melainkan secara gradual, perlahan namun konsisten.Sejak abad 7 Masehi, etnis Arab datang ke Indonesia untuk berdagang dan sebagian untuk menyebarkan agama Islam. Sebagian dari mereka ada yang kembali tapi tidak sedikit juga yang memutuskan untuk menetap di wilayah Nusantara.
Bahkan, sebagian dari etnis Arab sangat membaur dengan masyarakat lokal seperti pedagang Arab di Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara sehingga mengadopsi nama keluarga lokal di sana.
Beberapa kelompok lain, membuat komunitas semi eksklusif, terutama ketika zaman pendudukan Belanda, di mana etnis Arab juga sempat difasilitasi oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan dibuatkan perkampungan khusus untuk keturunan Arab di daerah Koja Batavia.
Mayoritas keturunan Arab di Indonesia memiliki leluhur dari daerah Hadramaut (Yemen), dan sebagian dari Arab Hijazi (Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, dsb). Lucunya, saat ini jumlah masyarakat keturunan Hadramaut di Indonesia jauh melebihi jumlah masyarakat di tempat asal leluhur mereka sekarang di Republik Yemen.