Kedatangan 3: Homo sapiens (Melayu – Austronesia)
Rumpun Austronesia ini merupakan rumpun yang sangat besar, mencakup suku Melayu, Formosan (Taiwan), Polynesia (Hawaii, Selandia Baru, dan sebagainya). Muka bulat, hidung lebar, rambut hitam tebal sedikit bergelombang, dan kulit kecoklatan, merupakan ciri-ciri bersama satu rumpun Austronesia ini.Suku pribumi Indonesia ini datang tidak hanya modal nekat, tapi juga membawa serta “amunisi” mereka berupa hewan ternak seperti ayam, babi, dan bibit padi, dan lain-lain. Kebiasaan mereka dalam menanam padi menimbulkan kebutuhan adanya lahan pertanian yang luas serta teknologi irigasi yang “canggih”.
Salah satu sisa budaya asli Austronesia yang masih bisa dilihat sekarang adalah sistem irigasi menggunakan sengkedan (terasering). Berbekal kepiawaian dalam berlayar menggunakan teknologi maritim super canggih saat itu (kano bercadik dua yang sangat stabil walaupun diguncang badai dan ombak) dan sistem pertanian yang efektif,
Dalam masa peralihan dari melanesia menuju austronesia, sampai zaman setelah masyarakat Nusantara mengenal tulisan, sudah tidak ada lagi jejak-jejak kebudayaan maupun ciri fisik masyarakat Melanesia di pulau-pulau bagian barat Nusantara (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Lombok).
Sedangkan di kepulauan Nusantara bagian timur, penduduk Indonesia masih bisa melihat jejak hasil pertukaran budaya dan juga gen Melanesia pada masyarakat Kepulauan Maluku, Papua bagian pesisir, dan Kepulauan NTT.
Dari segi morfologis, masyarakat yang berasal dari Indonesia timur merupakan campuran antara rumpun Austronesia (muka bulat, hidung lebar) dan rumpun Melanesia (rambut ikal atau malah keriting kecil, kulit lebih gelap).
Mereka yang tersisa di Kepulauan Nusantara hanyalah mereka yang berhasil menetap tanpa gangguan di pedalaman Papua dan masih setia dengan kebijaksanaan lokal, seperti berkebun dalam skala kecil, berburu binatang, dan hidup dalam masyarakat kesukuan.
Orang-orang Melayu yang datang ke Nusantara juga secara umum bisa dibagi dua, yakni Melayu yang mager (malas gerak) dan Melayu yang tidak bisa diam. Melayu-melayu malas gerak ini bukan berarti memiliki sifat kemalasan, namun, memang sudah berhasil menciptakan masyarakat yang stabil sehingga sudah tidak diperlukan lagi mobilitas penduduk.
Keturunan Melayu golongan pertama ini bisa dilihat pada suku Nias di Pulau Nias dan suku Dayak di pedalaman Kalimantan, yang juga biasa disebut sebagai “Proto Melayu” (Proto = purwa/primitif).
Ada pula golongan Melayu yang karena alasan tertentu (misalnya: kondisi geografis, iklim, bencana) merasa perlu untuk terus berpindah tempat sekaligus berinteraksi dengan kelompok lain di sekitarnya, sehingga memungkinkan adanya percampuran budaya, bahasa, serta gen. Suku tersebut biasanya dinamakan dengan Deutro Melayu (Deutro = Berulang/ulangan).
Suku yang merupakan keturunan asli bangsa Deutro Melayu adalah suku Minangkabau, Jawa, Banjar, Bugis, Makassar, Bali, Lombok, Batak, Aceh, Madura, Minahasa, dan puluhan suku-suku lain yang kita kenal di Indonesia.
Jadi, apa perbedaan Proto dan Deutro Melayu? Bedanya hanya Proto menetap di tempat terpencil sehingga menyulitkan terjadinya percampuran gen yang lebih variatif, sedangkan Deutero menetap di tempat yang memungkinkan untuk terjadinya percampuran gen.
Jadi, proto dan deutro tidak menggambarkan siapa yang lebih dulu datang, tapi hanya satu yang menetap, yang satu lagi pindah-pindah dan membaur. Salah satu pribumi Indonesia, bangsa Melayu dapat dikatakan sangat nyaman tinggal di Kepulauan Nusantara.
Mereka beranak-pinak dan ujung-ujungnya bikin beragam peradaban dan kebudayaan-kebudayaan yang masih bisa kita dinikmati sampai sekarang. Bangunan rumah panggung atap rumbia, tarian, baju daerah yang warna-warni, wajah dan badan yang dibubuhi tato, bahkan bahasa-bahasanya, masih bercirikan Austronesia.
Tidak hanya yang ada di Indonesia maupun Malaysia saja, namun kebudayaan serupa juga bisa ditemukan di orang Maori (Selandia Baru), Rapa Nui (Pulau Paskah), orang asli Taiwan, Madagaskar, dan pelosok-pelosok Austronesia lainnya. Akan tetapi, stabilitas yang sebelumnya terbangun pasti akan menghadapi tantangan baru, perubahan selalu terjadi.