Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek dan efisiensi tidur yang lebih rendah berkaitan dengan peningkatan penumpukan lemak secara keseluruhan dan perut. (Foto: Berwin Coroza/Unsplash.com)
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek dan efisiensi tidur yang lebih rendah berkaitan dengan peningkatan penumpukan lemak secara keseluruhan dan perut. (Foto: Berwin Coroza/Unsplash.com)

Bahaya Kurang Tidur Saat Remaja

Rona tidur remaja
Sri Yanti Nainggolan • 18 Juni 2018 11:59
Jakarta: Durasi tidur sangat berpengaruh pada remaja, terutama terkait kesehatan. Sebuah studi menemukan bahwa kuantitas dan kualitas tidur memiliki efek signifikan pada kesehatan kardiovaskular seperti tekanan darah, tingkat kolesterol, dan deposisi lemak perut. 
 
Studi yang dipublikasi dalam jurnal Pediatrics tersebut melibatkan 829 remaja. Jam tidur malam dan aktivitas fisik keseharian para partisipan diukur selama 7 hingga 10 hari dengan menggunakan aktigragfi, alat yang dipasang di pergelangan tangan untuk merekam gerakan fisik. 
 
Hasilnya, rata-rata durasi tidur semua partisipan adalah 441 menit atau 7,35 jam per hari. Hanya 2,2 persen yang tidur sesuai rekomendasi usia, yaitu sembilan jam untuk usia 11-13 tahun dan delapan jam untuk usia 14-17 tahun. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Durasi tidur kurang dari tujuh jam ditemukan pada 31 partisipan dan lebih dari 58 persen tidur kurang dari waktu rekomendasi. Sementara 85 persen partisipan tidur cukup untuk kelompok usia dewasa. 
 
Bahaya Kurang Tidur Saat Remaja
(Sebuah studi menemukan bahwa kuantitas dan kualitas tidur memiliki efek signifikan pada kesehatan kardiovaskular. Foto: Kinga Cichewicz/Unsplash.com)
 
(Baca juga: Kurang Tidur Timbulkan Masalah Perilaku pada Remaja)
 
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa durasi tidur yang lebih pendek dan efisiensi tidur yang lebih rendah berkaitan dengan peningkatan penumpukan lemak secara keseluruhan dan perut. Kebiasaan tersebut juga berhubungan dengan penyesuaian aktivitas fisik dan konsumsi makanan manis atau cepat saji. 
 
Sementara, durasi tidur yang lebih lama dan efisiensi yang lebih tinggi berkaitan dengan pengurangan risiko kardiometabolik yang didasarkan pada faktor-faktor seperti lingkar pinggang yang lebih kecil, tekanan darah sistolik yang lebih rendah dan tingkat kolesterol lipoprotein densitas tinggi yang lebih tinggi. 
 
"Kuantitas dan kualitas tidur adalah pilar kesehatan pola makan dan aktivitas fisik," kata peneliti utama Elizabeth Cespedes Feliciano dengan Kaiser Permanente Northern California Division of Research.
 
Menurutnya, dokter anak harus menyadari bahwa kualitas tidur yang buruk, sering terbangun dan tidak hanya durasi tidur yang tidak cukup, berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kardiometabolik. 
 

 
(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif