Jakarta: Televisi menjadi hiburan paling umum bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu luang. Bahkan banyak orang tua yang memanjakan anak dengan menyediakan televisi di kamar tidur.
Tapi sebenarnya menaruh televisi di kamar tidur anak justru berbahaya. Sebab memengaruhi pertumbuhan anak.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Dengan banyak menonton televisi, anak jadi kurang optimal menjalani masa pertumbuhannya. Dampaknya saat memasuki remaja, anak akan menjalani kebiasaan makan yang buruk dan kesulitan sosio-emosional. Demikian menurut studi yang dimuat pada Desember 2018 oleh Jurnal Pediatrik.
"Tahun-tahun awal adalah periode kritis dalam perkembangan anak," kata penulis studi, Linda Pagani, profesor di Sekolah Pendidikan Psikologi UdeM seperti dikutip dari Science Daily.
"Berjam-jam waktu yang anak habiskan di depan layar berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan mereka, terutama jika televisi berada di tempat pribadi seperti kamar tidur," tegasnya.
Dampak buruk lainnya, menonton televisi membuat anak mengalihkan perhatian dan kurang memiliki aktivitas fisik dan interaksi sosial.
Untuk menguji hipotesis itu, peneliti secara longitudinal mengikuti kohort kelahiran untuk memeriksa apakah ada hubungan antara memiliki televisi di kamar tidur pada usia empat tahun terhadap perkembangan saraf kritis pada usia prasekolah. Dan masalah fisik, mental, dan sosial pada masa awal remaja.
Pagani dan timnya menganalisis data kohort kelahiran Kanada dari 1.859 anak-anak Quebec yang lahir antara musim semi 1997 dan musim semi 1998. Penelitian ini menjadi bagian dari Studi Longitudinal Quebec tentang Perkembangan Anak yang dikoordinasi oleh Institut de la statistique du Québec.
Temuan studi Université de Montréal menyebut menghabiskan terlalu banyak waktu menonton televisi di kamar membahayakan perkembangan anak-anak prasekolah.

Berjam-jam waktu yang anak habiskan di depan layar berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan mereka. (Foto Ilustrasi: Andres Jasso/Unsplash.com)
Pada usia 13 tahun misalnya, para peneliti independen mengukur indeks massa tubuh anak-anak dan remaja yang diambil dari hasil kuesioner versi singkat dari Inventori Depresi Anak-anak. Di situ terdata bagaimana asupan makanan tidak sehat mereka. Sedangkan untuk mengukur masalah psikologis, guru menilai seberapa besar tekanan emosional yang dihadapi anak-anak.
Untuk masalah sosial, guru melaporkan bagaimana anak-anak bergaul dengan teman sebaya mereka dan apakah mereka menjadi korban perisakan. Semua tindakan ini merupakan prediktor yang baik untuk kesehatan fisik dan mental saat dewasa.
Hasilnya: Anak-anak yang memiliki televisi di kamar tidur pada usia empat tahun membuatnya lebih mungkin memiliki indeks massa tubuh lebih tinggi secara signifikan. Anak juga memiliki kebiasaan makan yang lebih tidak sehat dan tingkat sosialisasi yang lebih rendah.
Selain itu, anak memiliki tingkat tekanan emosi yang lebih tinggi, gejala depresi, viktimisasi, dan agresi fisik. Terlepas dari faktor individu dan keluarga yang membuat mereka cenderung mengalami masalah seperti itu.
"Lokasi televisi tampaknya penting. Akses pribadi ke waktu layar di kamar tidur selama tahun-tahun prasekolah bukan pertanda baik untuk kesehatan jangka panjang," katanya.
Dewasa ini, tak hanya televisi, akses gadget juga kian mengancam. American Academy of Pediatrics mendorong zona bebas layar dan lokasi bebas layar di rumah, terutama mengingat implikasi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(FIR)
