Fenomena ini terjadi karena kalender Hijriah mengikuti siklus Bulan dan memiliki sekitar 354 hari, lebih pendek daripada kalender Gregorian yang umumnya terdiri dari 365 hari. Akibatnya, tanggal-tanggal Islam bergeser sekitar 10-11 hari lebih awal setiap tahun dalam kalender Masehi.
Dilansir dari laman Himpuh News pada Sabtu, 10 Oktober 2026, berdasarkan proyeksi kalender Umm al-Qura yang dikutip The Islamic Information, rangkaian haji pertama yang berkaitan dengan Zulhijah 1460 H diperkirakan berlangsung pada Januari 2039. Wukuf di Arafah diproyeksikan jatuh pada 4 Januari, sedangkan Iduladha pada 5 Januari 2039.
Rangkaian haji berikutnya berasal dari Zulhijah 1461 H. Wukuf di Arafah diperkirakan berlangsung pada 25 Desember, disusul Iduladha pada 26 Desember 2039.
Artinya, dua rangkaian haji tersebut berasal dari dua tahun Hijriah berbeda, bukan dua kali haji dalam satu tahun Hijriah.
Tiga Hari Raya dalam Kalender Masehi
Selain dua Iduladha, umat Islam diproyeksikan merayakan Idulfitri pada 19 Oktober 2039, bertepatan dengan 1 Syawal 1461 H.
Urutannya adalah:
5 Januari 2039: Iduladha
19 Oktober 2039: Idulfitri
26 Desember 2039: Iduladha
Fenomena serupa juga dapat terjadi pada tahun lain. Pada 2030, misalnya, diproyeksikan terdapat dua awal Ramadan dalam satu tahun Masehi, yaitu pada Januari dan Desember. Namun, Ramadan yang dimulai pada Desember tersebut berlanjut hingga 2031.
Namun perlu diperhatikan bahwa tanggal-tanggal tersebut belum menjadi ketetapan resmi. Proyeksi mengacu pada kalender Umm al-Qura, sedangkan penetapan awal bulan Hijriah dapat berbeda bergantung pada metode dan pengumuman otoritas terkait.
Dengan demikian, fenomena tiga hari raya pada 2039 merupakan konsekuensi perbedaan panjang kalender Hijriah dan Gregorian. Dua bulan Zulhijah dari tahun Hijriah yang berbeda diproyeksikan jatuh dalam tahun Masehi yang sama. (Wisa Irena Br Sitepu)