FAMILY

Popok Mau Pensiun, Bocil Siap Naik Level?

A. Firdaus
Selasa 27 Oktober 2026 / 17:10
Ringkasnya gini..
  • Bagi sebagian orang tua, mengajarkan anak laki-laki menggunakan toilet mungkin terasa menantang.
  • Proses ini tidak harus menjadi pengalaman yang penuh tekanan.
  • Setiap anak memiliki kesiapan dan kecepatan belajar yang berbeda.
Jakarta: Melatih anak menggunakan toilet atau toilet training menjadi salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang si kecil. Proses ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan dukungan orang tua agar anak merasa nyaman saat mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan popok.

Bagi sebagian orang tua, mengajarkan anak laki-laki menggunakan toilet mungkin terasa menantang. Namun, proses ini tidak harus menjadi pengalaman yang penuh tekanan. Dengan pendekatan yang menyenangkan, anak bisa belajar mengenali kebutuhan tubuhnya sekaligus membangun kebiasaan mandiri.

Setiap anak memiliki kesiapan dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak perlu terburu-buru atau membandingkan kemampuan anak dengan saudara maupun teman sebayanya.
 

Dilansir dari BabyCenter, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu anak laki-laki menjalani toilet training dengan lebih menyenangkan. Berikut enam tips yang bisa dicoba.
 

1. Ajak Anak Memilih Celana Dalam Favorit


Salah satu cara untuk meningkatkan semangat anak adalah melibatkan mereka dalam memilih celana dalam. Ajak si kecil berbelanja dan biarkan dia menentukan motif atau karakter favoritnya.

Orang tua bisa menjelaskan bahwa celana dalam tersebut merupakan bagian dari proses belajar menjadi lebih mandiri. Dengan begitu, anak memiliki sesuatu yang dinantikan ketika mulai beralih dari popok.

Memberikan kesempatan untuk memilih juga membantu anak merasa dilibatkan dalam proses tersebut. Namun, pastikan orang tua tetap mendampingi dan tidak menjadikan celana dalam sebagai tekanan agar anak segera berhenti memakai popok.
 

2. Jangan Marah saat Anak Mengompol


Kecelakaan kecil, seperti mengompol atau tidak sempat ke toilet, merupakan hal yang bisa terjadi selama proses toilet training. Karena itu, orang tua sebaiknya tetap tenang ketika anak belum berhasil menggunakan toilet tepat waktu.

Hindari memarahi, mempermalukan, atau menunjukkan kekecewaan berlebihan. Reaksi negatif dapat membuat anak merasa takut mencoba kembali.
 
Toilet training6
Jangan langsung memarahi anak jika mereka mengompol. Ilustrasi Magnific


Sebaliknya, berikan respons yang menenangkan, seperti, "Tidak apa-apa, kita coba lagi nanti." Setelah itu, ajak anak membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan bantuan orang tua.

Dengan pendekatan positif, anak dapat memahami bahwa kecelakaan merupakan bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
 

3. Libatkan Ayah atau Saudara Laki-Laki


Anak bisa belajar melalui pengamatan dan meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, ayah atau saudara laki-laki yang lebih tua dapat dilibatkan dalam proses toilet training.

Ayah bisa menjelaskan tahapan menggunakan toilet dengan bahasa sederhana dan sesuai usia anak. Jika memungkinkan, orang tua juga dapat menunjukkan rutinitas kebersihan yang benar, termasuk cara membersihkan diri dan mencuci tangan.

Pastikan proses belajar dilakukan dengan tetap menghormati privasi dan kenyamanan setiap anggota keluarga. Anak tidak perlu dipaksa mengamati atau mengikuti cara tertentu jika belum merasa nyaman.

Yang terpenting, berikan contoh yang konsisten dan jadikan kegiatan ke toilet sebagai rutinitas yang wajar.
 

4. Berikan Apresiasi atas Kemajuan Anak


Memberikan apresiasi bisa membantu anak lebih bersemangat menjalani toilet training. Orang tua dapat menggunakan sistem sederhana, seperti memberikan stiker setiap kali anak berhasil menggunakan toilet atau memberi pujian ketika dia mencoba secara mandiri.

Setelah beberapa pencapaian, orang tua bisa memberikan penghargaan sederhana, misalnya memilih permainan bersama atau mendapatkan waktu bermain tambahan.

Namun, apresiasi tidak harus selalu berupa hadiah. Kalimat seperti, "Wah, kamu sudah berusaha ke toilet sendiri!" juga dapat membuat anak merasa dihargai.

Hindari memberikan hukuman ketika anak belum berhasil. Fokuslah pada usaha dan kemajuan yang ditunjukkan, bukan hanya hasil akhirnya.
 

5. Jaga Kebersihan Toilet dan Perhatikan Kesehatan Anak


Lingkungan toilet yang bersih dan nyaman dapat membantu anak merasa lebih aman saat belajar. Pastikan toilet mudah diakses, pencahayaannya cukup, serta tersedia perlengkapan yang sesuai dengan ukuran tubuh anak.

Jika menggunakan toilet dewasa, pertimbangkan dudukan toilet khusus anak dan bangku pijakan agar si kecil dapat duduk dengan stabil. Anak juga perlu diajarkan mencuci tangan menggunakan sabun setelah menggunakan toilet.

Selain kebersihan, orang tua perlu memperhatikan kondisi fisik anak. Sembelit, misalnya, dapat membuat buang air besar terasa menyakitkan sehingga anak enggan menggunakan toilet.

Jika anak mengalami kesulitan buang air besar, tinja keras, atau sering menahan keinginan untuk buang air besar, konsultasikan dengan dokter. Dokter dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai, termasuk penyesuaian pola makan dan asupan cairan.
 

6. Bersabar dan Jangan Membandingkan Anak


Setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda, termasuk dalam kemampuan mengenali sinyal tubuh dan menggunakan toilet secara mandiri. Ada anak yang cepat terbiasa, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama.

Karena itu, hindari membandingkan kemampuan si kecil dengan saudara atau teman sebayanya. Perbandingan justru dapat menambah tekanan, baik bagi anak maupun orang tua.

Jika anak menunjukkan penolakan atau belum siap, orang tua dapat memberikan jeda dan mencoba kembali ketika situasinya lebih nyaman. Perhatikan pula tanda kesiapan, seperti mulai menyadari keinginan buang air, mampu mengikuti instruksi sederhana, atau menunjukkan ketertarikan menggunakan toilet.

Pada akhirnya, keberhasilan toilet training bukan hanya soal seberapa cepat anak berhenti memakai popok. Proses ini juga menjadi kesempatan untuk membangun kemandirian, kepercayaan diri, dan hubungan yang positif antara orang tua dan anak.

Dengan pendampingan yang sabar, rutinitas yang konsisten, serta apresiasi terhadap setiap kemajuan, anak dapat belajar menggunakan toilet sesuai dengan kesiapan dan perkembangannya.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH