Inovasi ini dipimpin langsung oleh Guru Besar dan tim dosen dari Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik UI (FT UI), Benyamin Kusumoputro. Melalui kajian ilmiah yang mendalam, tim peneliti merancang model AI canggih bernama Ens-ConvNARX.
Penelitian ini difokuskan untuk mempelajari hubungan kompleks antara berbagai indikator kegempaan dan data histori waktu sebelumnya. Terobosan tersebut diharapkan mampu membuka peluang baru dalam memahami tren aktivitas seismik secara lebih akurat.
Tak tanggung-tanggung, model ini menggabungkan tiga pendekatan AI utama sekaligus, yaitu Convolutional Neural Network (CNN), Nonlinear Autoregressive with Exogenous Inputs (NARX), serta kerangka kerja Ensemble. Kombinasi terintegrasi ini memungkinkan sistem mengenali pola spasial sekaligus memperhitungkan perubahan data dari waktu ke waktu.
Capaian ini menjadi bukti nyata akademisi Indonesia sanggup menghadirkan riset berbasis teknologi tingkat tinggi yang relevan dengan tantangan global. Hasil kajian ini dipublikasikan melalui jurnal ilmiah internasional bereputasi tinggi yang terindeks Scopus.
Pengujian Menggunakan Data USGS dan Akurasi Tinggi
Mengutip unggahan Instagram @univ_indonesia, model Ens-ConvNARX diuji secara langsung dengan memanfaatkan basis data gempa bumi historis dari lembaga survei geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey/USGS). Pengujian dilakukan pada dua wilayah dengan karakteristik tektonik yang sangat berbeda.Hasil pengujian menunjukkan performa yang sangat memukau di kedua wilayah pengujian tersebut. Model berhasil mencapai tingkat akurasi hingga 88,5% untuk wilayah Pesisir Barat Sumatra, Indonesia serta 90,2% untuk wilayah Southern California, Amerika Serikat.
Keteguhan dan kualitas analisis riset ini terbukti mengungguli performa beberapa model kecerdasan buatan standar lainnya, seperti CNN, LSTM, CNN-LSTM, Random Forest, hingga XGBoost.
Bukan Meramal, Murni Mendukung Kesiapsiagaan Bencana
Meskipun mencatatkan angka akurasi yang terbilang tinggi, para peneliti menekankan angka tersebut bukan berarti AI dapat meramalkan gempa secara ajaib. Model ini murni memperkirakan frekuensi dan tren aktivitas kegempaan dari pola masa lalu.AI tidak menentukan secara pasti kapan gempa akan terjadi, lokasi tepatnya, maupun besaran magnitudonya. Sebaliknya, penelitian ini murni membuktikan potensi AI dalam membaca data rumit untuk mendukung kesiapsiagaan bencana secara saintifik.
Berkat terobosan riset ini, Indonesia kini memiliki fondasi ilmiah berbasis data yang lebih solid dalam mendukung sistem mitigasi bencana di masa depan. Pengakuan internasional atas kajian ini sekaligus mempertegas kapasitas intelektual akademisi UI di panggung riset dunia. (Talitha Islamey)