Dosen Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Santoso. Foto: Instagram @santosoim
Dosen Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Santoso. Foto: Instagram @santosoim

Kenapa Abu Vulkanik Ancam Penerbangan? Dosen ITB Jelaskan Pakai 'Bahasa Dapur'

Ilham Pratama Putra • 07 September 2026 13:35
Ringkasnya gini..
  • Dosen ITB menjelaskan abu vulkanik bahayakan mesin pesawat karena meleleh pada suhu tinggi 1.700°C di dalam turbin.
  • Lelehan abu silikat menempel serta merusak lapisan keramik zirconia yang melindungi komponen logam mesin pesawat.
  • Kerusakan lapisan pelindung dapat mengganggu pendinginan turbin dan memicu pengelupasan yang mengancam keselamatan penerbangan.
Jakarta: Erupsi gunung berapi tidak hanya menjadi ancaman bagi warga di sekitar kawasan gunung. Abu vulkanik yang terbawa angin juga dapat mengganggu penerbangan karena bisa masuk ke dalam mesin pesawat.

Lantas, mengapa abu vulkanik berbahaya bagi pesawat?

Dosen Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Santoso menjelaskan risiko tersebut dengan bahasa sederhana yang disebutnya "bahasa dapur". Ia mengibaratkan abu vulkanik seperti kecap yang meleleh dan kemudian menempel pada lapisan pelindung komponen mesin pesawat.

"Bayangin ini kecap, kecap ini adalah abu vulkanik yang meleleh. Kecap ini akan nempel di coating (pelindung komponen mesin pesawat)," jelas Imam dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @santosoim dikutip Senin, 7 September 2026.
Untuk memahami bahayanya, Imam terlebih dahulu menjelaskan kondisi di dalam mesin pesawat. Di dalam mesin terdapat komponen logam yang berputar dan bekerja di lingkungan dengan suhu sangat tinggi, yang dapat mencapai sekitar 1.700 derajat Celsius.

Masalahnya, komponen logam tersebut memiliki batas ketahanan terhadap suhu yang lebih rendah. Karena itu, komponen tersebut dilindungi lapisan keramik agar dapat bekerja di lingkungan bersuhu ekstrem.

Menurut Imam, lapisan tersebut menggunakan keramik berbahan zirconia yang didoping dengan yttria. Keramik tersebut memiliki titik leleh di atas 2.000 derajat Celsius sehingga membantu melindungi komponen logam dari panas mesin.

"Si logam tadi yang muter tadi akan terlindungi suhu yang 1.700 tadi karena ada coating ini," jelas dia.

Masalah muncul ketika abu vulkanik ikut masuk ke dalam mesin. Abu vulkanik mengandung berbagai material, antara lain silika, alumina, dan Fe2O3. 

Imam menjelaskan keberadaan senyawa seperti Na2O dan CaO dalam abu dapat menurunkan temperatur leleh material silikat. Ia mencontohkan, material yang memiliki titik leleh sekitar 1.700 derajat Celsius dalam kondisi tertentu, dapat mengalami penurunan titik leleh hingga sekitar 800 derajat Celsius.

"Ketika abu tadi masuk ke dalam mesin pesawat terbang yang suhunya 1.700, otomatis abu tadi akan meleleh," kata dia.

Abu yang melunak atau meleleh kemudian dapat membentuk endapan dan menempel pada lapisan keramik di komponen mesin. Imam mengibaratkannya seperti kecap yang menempel pada permukaan.

Endapan abu yang telah meleleh itu dapat menutup pori-pori pada lapisan dan mengganggu proses pendinginan pada turbine blade atau turbin yang ada di pesawat. Kemudian, lelehan abu juga dapat bereaksi dengan lapisan keramik. Menurut Imam, reaksi tersebut dapat memengaruhi komposisi lapisan pelindung, termasuk unsur yttria.

Perubahan tersebut dapat menurunkan kekuatan lapisan keramik. Ketika mengalami siklus pemanasan dan pendinginan, lapisan yang telah mengalami kerusakan juga dapat mengalami pengelupasan.

"Keramik ini bisa rusak," tegas dia.
Karena itu, abu vulkanik menjadi salah satu ancaman serius bagi keselamatan penerbangan ketika terjadi erupsi gunung berapi. Bahayanya bukan sekadar abu menempel di bagian luar pesawat, melainkan material tersebut dapat masuk ke mesin dan berinteraksi dengan komponen yang bekerja pada suhu sangat tinggi.

Karena itu, keberadaan awan abu vulkanik perlu diperhitungkan dalam operasional penerbangan ketika gunung berapi mengalami erupsi. Keselamatan penerbangan tidak hanya mempertimbangkan jarak pesawat dari gunung, tetapi juga keberadaan dan pergerakan awan abu vulkanik di jalur penerbangan.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan