Hipertensi adalah salah satu penyakit yang bisa merembet ke penyakit lain. (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)
Hipertensi adalah salah satu penyakit yang bisa merembet ke penyakit lain. (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)

Hipertensi Bisa Pengaruhi Jantung, Otak, dan Ginjal

Rona hipertensi
Kumara Anggita • 24 Februari 2020 17:31
Jakarta: Hipertensi adalah salah satu penyakit yang bisa merembet ke penyakit lain seperti stroke, jantung koroner, dan berbagai penyakit lainnya. Bila Anda ingin mengurangi risiko ini, Anda bisa mengubah gaya hidup jadi lebih sehat dan mengonsumsi obat secara teratur dan berkelanjutan.
 
WHO memperkirakan bahwa persentase jumlah orang dewasa yang memiliki peningkatan tekanan darah meningkat 8 persen pada 1995 menjadi 32 persen pada 2008.  
 
Riset kesehatan dasar (RISKESDAS) 2018 memperlihatkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencatat 34,1 persen yang mengindikasikan adanya peningkatan penyakit kronis di Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dokter Erwinanto dari PERHI (Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia) menjelaskan bahwa seseorang dianggap terkena hipertensi bila tekanan darahnya saat diperiksakan ke dokter beberapa kali mencapai 140/90 mm Hg atau sudah mengonsumsi obat hipertensi.
 
“Hipertensi definisinya ada tiga. Satu, kalau saya melakukan screening hari ini pada teman semua, ukur tekanan ada yang lebih dr 140 /90 mmHg maka saya bisa katakan dalam screening ini punya hipertensi tapi saya tak bisa memastikan Anda didiagnosis hipertensi," katanya.
 
"Tapi kalau sudah dapat obat hipertensi definisi itu tak berlaku. Anda sudah punya hipertensi. Walau tekanannya di bawah 140,” ujarnya di Jakarta, Senin, 24 Desember 2019.
 
“Setelah screening ini saya minta teman-teman datang beberapa hari, minggu, bulan saya ukur lagi. Apakah pengukuran kedua masih 140. Kalau masih confirmed,” lanjutnya.
 
Penyakit ini tak boleh dianggap enteng karena bisa pengaruhi ke beberapa organ di dalam tubuh seperti otak, ginjal, dan jantung.
 
“Impact paling besar terhadap jantung, otak, dan ginjal. Pada jantung ada sebuah studi, 80 persen (penderita) adalah pasien hipertensi. Diikuti di berbagai wilayah dunia, sebagian (penderita hipertensi) jadi jantung koroner dan sebagian stroke,” ujarnya.
 
Hipertensi Bisa Pengaruhi Jantung, Otak, dan Ginjal
(Periksakan kesehatan Anda secara teratur, berolahraga dan asup makanan yang sehat agar kesehatan Anda terjaga. Foto: Pexels.com)
 
“Di Asia paling tinggi adalah stroke. Sehingga prasangka orang Asia yang memiliki hipertensi cenderung ke stroke,” lanjutnya.
 
“Sementara untuk gagal ginjal yang perlu cuci darah meningkat terutama setelah tekanan darah 140/90 mmHg,” tambahnya.
 
Untuk mengurangi risiko berbagai penyakit seperti ini muncul pada Anda, dr. Erwinanto menganjurkan untuk menurunkan tekanan darah dengan mengonsumsi obat dan memiliki gaya hidup yang baik seperti mengurangi garam, punya berat badan normal.
 
Salah satu obat yang bisa jadi pilihan adalah nebivolol. Menarini Indonesia merilis hasil penelitian Benefit, yang dilakukan bersama dengan sebuah tim peneliti. Ini adalah penelitian observasional nebivolol sesuai kondisi praktik dokter sehari-hari yang dilakukan terhadap 3.011 pasien hipertensi di Korea.
 
Penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan nebivolol setiap hari efektif dan dan membantu mengontrol tekanan darah dan memberikan efek samping yang lebih baik.
 
Dokter Jinho Shin, Professor and Chief of Cardiology, Division of Cardiology, Department of Internal Medicine, Hanyang University Seoul Hospital, Korea selaku Peneliti Pertama Penelitian Benefit ini menyebutkan bahwa obat ini juga efektif untuk dikosumsi oleh pasien baru juga pada pasien rawat inap yang mengonsumsi nebivolol sebagai pengobatan tambahan ke dalam pengobatan antihipertensi yang sudah ada sebelumnya.
 
Dokter Shin menambahkan, efek paling besar terlihat saat nebivolol diberikan sebagai pengobatan tunggal kepada pasien baru dan sebagai obat tambahan untuk pengobatan antihipertensi yang meliputi penghambat renin-angiotensin system (RAS blocker), penghambat kanal kalsium (caflfoum channel blocker - CCB), serta kombinasi antara RAS blocker dan CCB.
 
Beberapa penelitian telah memperlihatkan manfaat dari pengobatan kombinasi nebivolol dan RAS blockers, CCBs, dan diuretik dalam menurunkan telanan darah.
 
Presiden Direktur Menarini Indonesia, Reinhard Ehrenberger menambahkan bahwa dengan berbagi hasil penelitian Benefit ini kepada masyarakat luas, Menarini Indonesia berharap bisa membantu para dokter di Indonesia dalam melayani pasien dengan memberikan mereka akses terhadap riset dan penhetahuan terbaru.
 
Penelitian ini juga sejalan dengan panduan hipertensi ESC/ESH 2018 yang merekomendasikan penghambat beta dalam penanganan hipertensi.
 

 
(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif