Ilustrasi Mafindo ajak masyarakat teliti agar tak terjebak hoax/MI/Susanto
Ilustrasi Mafindo ajak masyarakat teliti agar tak terjebak hoax/MI/Susanto (Akmal Nasery Basral)

Akmal Nasery Basral

Sosiolog sekaligus penulis 24 buku. Penerima penghargaan National Writer’s Award 2021 dari Perkumpulan Penulis Nasional Satupena.

Pilar

Tameng Antifitnah Harry Sufehmi yang Ramah

Pilar alquran hoax kabar hoaks Podium
Akmal Nasery Basral • 20 April 2022 11:56
HARI ini 17 Ramadan adalah tanggal turunnya wahyu pertama Al Qur’an. Terdiri atas lima ayat awal Surat Al ‘Alaq ("Segumpal Darah"), kata pertama dari rangkaian firman itu adalah "iqra" ("bacalah") menjadi sangat masyhur. Bahkan non-muslim pun akrab dengan ayat ini.
 
Begitu populernya hingga sering membuat kita lupa bahwa "bacalah" itu bukan kata independen yang berdiri sendiri tanpa konteks.
 
"Bacalah" terikat erat dengan lanjutan ayat, “bismirabbikal ladzi khalaq (dengan nama Tuhanmu yang menciptakan)”. Ternyata, membaca harus disertai kerendahan hati dan pengharapan agar mendapat bimbingan Sang Maha Pemaham Makna. Jika membaca dilakukan sembarangan—apalagi dengan meninggalkan Tuhan—banyak risiko bisa terjadi. Salah satunya tersesat dalam rimbun hoaks yang kini melebihi lebat hutan Kalimantan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Itu pertimbangan saya menuliskan sosok Harry Sufehmi, M.Sc, 47 tahun, pakar IT dan pendiri Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dengan program populer mereka Turnback Hoax sebagai topikSketsa Ramadhan(SKEMA) di hari "Iqra". “Semua berawal dari grup Facebook FAFHH (Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax) dengan anak-anak saya sebagai anggota pertama. Tak disangka perkembangan forum yang dibuat tahun 2015,” ujar ayah lima anak ini dengan tawa berdentam-dentam menghangatkan ruang restoran Minang Simpang Raya, Cibubur, Sabtu sore, 15 April 2022. Resto masih sepi karena kami bertemu ba’da ashar, saat yang pas untuk ngobrol menunggu iftar. Di luar, butir-butir gerimis mulai melenting menyebar.
 
Saya mengenal Harry lebih dulu dari blognya yang muncul pada Januari 2001. Saat itu dia tinggal dan bekerja di Birmingham, Inggris, setelah menyelesaikan program magister. Anaknya baru dua orang: si sulung Anisah Salma Hijriyyah (lahir 1998 di Jakarta) dan Sarah Hanifah Sufehmi (lahir 2000 di Birmingham).
 
Blog itu berpotensi membuat pembaca mengira sebagai blog parenting jika melihat banner dengan enam foto profil tertawa riang (Harry, istrinya, dan empat anak mereka). Untung lah ada tagline yang membuat pembaca mendapatkan petunjuk awal konten blog. Life is a struggle – information wants to be free.
 
Dari kalimat tersebut terpindai passion Harry sebagai praktisi IT egaliter yang inginkan informasi tak dikangkangi satu pihak tertentu atas nama dominasi atau lisensi. “Niat saya membuat blog untuk mendokumentasikan isi pikiran supaya enggak lupa. Ternyata malah jadi sumber rezeki melalui pembaca atau perusahaan yang sebelumnya tidak saya kenal,” ujarnya tergelak.
 
Baca:5.599 Sebaran Hoaks Diblokir Kominfo pada 23 Januari-18 April
 
Setelah 21 tahun, blog itu masih aktif. Tulisan terakhir berjudul “Cloud and DRC” dengan titi mangsa 24 Januari 2022. Lead tulisan dibuka dengan, “In my years of experience as IT architect, it’s quite shocking to see how many institutions are slacking about their backup system once they moved to the cloud. Especially with their DRC (disaster recovery center). They thought that once they go “up” to the cloud, then it’s all right. No need to worry anymore with troublesome stuff such as backup,”

 
Halaman Selanjutnya
Itu satu sisi wajah Harry.…
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif