Ilustrasi Otak. DOK Magnific
Ilustrasi Otak. DOK Magnific

Tak Cuma Obat, Mengatur Jam Biologis Tubuh Bantu Percepat Pemulihan Stroke

Renatha Swasty • 30 September 2026 15:24
Ringkasnya gini..
  • Jam biologis yang teratur terbukti membantu memaksimalkan sistem pembersih otak (glimfatik) untuk memulihkan kerusakan pascastroke.
  • Gangguan ritme sirkadian usai stroke dapat memperlambat pembuangan zat pemicu peradangan yang memperparah kerusakan jaringan otak.
  • Pengaturan pola makan dan terapi jam biologis berpotensi menjadi pendekatan baru rehabilitasi stroke yang praktis di luar rumah sakit.
Jakarta: Jam biologis tubuh yang mengatur pola tidur ternyata memiliki peran penting dalam membantu pemulihan otak setelah stroke. Penelitian terbaru menunjukkan ritme harian tubuh yang teratur berpotensi membantu proses pemulihan otak menjadi lebih baik.

Para ilmuwan dari University of Rochester Medical Center menemukan ritme harian tubuh yang teratur dapat membantu otak pulih setelah stroke. Temuan ini membuka peluang untuk mengembangkan cara baru dalam membersihkan zat sisa di otak dan mendukung pemulihan, bahkan ketika perawatan dimulai beberapa hari setelah stroke.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation ini dilakukan pada tikus dan menunjukkan penguatan ritme harian tubuh dapat membantu pemulihan setelah stroke. Hal ini terjadi karena sistem pembersih otak bekerja lebih baik dan tingkat peradangan di otak menurun.

Cara Otak Membersihkan Limbah

Penelitian ini berawal dari penemuan sistem glimfatik pada 2012 oleh tim ilmuwan saraf yang dipimpin Maiken Nedergaard. Sistem ini membantu mengalirkan cairan ke dalam otak untuk membuang zat sisa yang menumpuk.

Penelitian berikutnya menunjukkan sistem pembersih otak ini lebih aktif saat tidur dan penting untuk menjaga kesehatan otak. Ahli saraf, Lauren Hablitz kemudian menemukan bahwa sistem ini juga dipengaruhi oleh ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus selama 24 jam.

Pada 2020, Hablitz, Nedergaard, dan rekan-rekannya menemukan bahwa sistem glimfatik tetap mengikuti pola harian meskipun aktivitasnya tidak hanya bergantung pada tidur. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara jam biologis tubuh dan sistem alami yang membantu membersihkan otak.

Stroke dan Gangguan Jam Biologis

“Pemulihan stroke berawal dari pemahaman bahwa stroke bukan hanya masalah pembuluh darah, tetapi juga berkaitan dengan gangguan ritme waktu biologis,” kata Hablitz, penulis utama penelitian ini, seperti dikutip dari ScienceDaily, Rabu, 30 September 2026.

Stroke diketahui lebih sering terjadi pada pagi hari dan dapat lebih parah menjelang akhir waktu tidur. Setelah mengalami stroke, pasien juga sering mengalami gangguan tidur yang berkaitan dengan pemulihan yang lebih lambat dan penurunan kualitas hidup.

Kondisi tersebut membuat para peneliti ingin mengetahui apakah pemulihan setelah stroke dapat dibantu dengan memperkuat kembali jam biologis tubuh. Mereka menduga bahwa gangguan ritme tubuh setelah stroke dapat ikut memengaruhi proses pemulihan.

Ketika Sistem Pembersih Otak Melambat

Pada otak yang sehat, sistem glimfatik mengalirkan cairan melalui jaringan otak untuk membantu membawa zat yang dibutuhkan tubuh. Cairan ini juga membantu membuang zat sisa dan zat yang memicu peradangan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan sistem pembersih otak dapat terganggu setelah stroke. Akibatnya, otak menjadi lebih sulit membuang zat berbahaya yang menumpuk selama proses pemulihan.

Selama ini, para peneliti banyak mempelajari cara mengatasi peradangan yang dapat merusak jaringan otak. Namun, mereka menduga bahwa masalahnya juga bisa terjadi karena otak tidak mampu membersihkan zat pemicu peradangan dengan baik.

“Kami menduga sebagian masalahnya adalah kegagalan proses pembersihan,” kata Hablitz. “Jika sistem yang bertugas membersihkan zat pemberi sinyal tidak bekerja dengan baik, zat-zat tersebut akan terus menumpuk,” tutur dia.

Menurut dugaan tersebut, stroke tidak hanya merusak jaringan otak, tetapi juga mengganggu jalur yang berfungsi membuang zat pemicu peradangan. Ketika zat-zat tersebut menumpuk, kerusakan otak dapat berlanjut dan proses pemulihan menjadi lebih lambat.

   

Mengatur Ulang Jam Biologis Tubuh

Para peneliti menguji beberapa cara untuk memperkuat jam biologis tubuh, seperti mengatur paparan cahaya, memberikan melatonin, menggunakan obat KL001, dan membatasi waktu makan. Pada hewan yang sehat, semua metode tersebut terbukti dapat meningkatkan fungsi sistem pembersih otak.

Setelah itu, para peneliti menguji obat KL001 dan pembatasan waktu makan pada tikus yang mengalami stroke, dengan perawatan yang dimulai tiga hari setelah serangan. Waktu tersebut sudah melewati periode awal yang biasanya digunakan untuk penanganan darurat, seperti pemberian obat untuk melarutkan bekuan darah.

Hasil penelitian menunjukkan tikus yang mendapat perawatan tersebut mengalami perbaikan kemampuan bergerak dan memiliki area kerusakan otak yang lebih kecil. Sistem pembersih otak mereka juga bekerja lebih baik, sementara kadar zat pemicu peradangan menurun.

“Semua sitokin menunjukkan perubahan ke arah yang sama, yang berarti kami mungkin tidak hanya menargetkan satu jalur peradangan, tetapi juga membantu otak membersihkan zat pemicu peradangan dengan lebih baik,” jelas Hablitz.

Bisa Dilakukan di Rumah?

Pembatasan waktu makan menjadi salah satu metode yang menarik perhatian karena dapat diterapkan dengan mengatur waktu makan sehari-hari. Metode ini juga sedang diteliti untuk mengetahui manfaatnya dalam menangani obesitas, diabetes, serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

Temuan ini berpotensi bermanfaat bagi rehabilitasi stroke karena metode tersebut mungkin dapat diterapkan di luar rumah sakit. Hablitz menjelaskan bahwa pendekatan seperti ini berpeluang digunakan di rumah jika penelitian selanjutnya membuktikan keamanan dan manfaatnya.

Masih Perlu Penelitian Lanjutan

Para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini baru ditemukan pada hewan percobaan dan belum terbukti memberikan manfaat yang sama pada manusia. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami hubungan antara jam biologis, sistem pembersih otak, dan peradangan setelah stroke.

Tim peneliti juga akan mengkaji apakah peningkatan aliran cairan dalam sistem glimfatik benar-benar berperan langsung dalam memperbaiki pemulihan. Selain itu, mereka ingin mengetahui apakah metode yang mengatur jam biologis tubuh dapat diuji dalam penelitian klinis pada manusia.

Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa tidur dan jam biologis memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak. Para peneliti berharap pemahaman tentang sistem pembersih otak dapat membantu pengembangan terapi baru untuk pemulihan stroke dan gangguan saraf lainnya.

“Memahami bagaimana pengaturan ritme sirkadian memengaruhi proses pembersihan otak akan membantu kami mengembangkan terapi yang lebih terarah,” ujar Hablitz. “Pada akhirnya, tujuan kami adalah menemukan cara agar otak lebih mampu membuang zat sisa, mengurangi peradangan, dan pulih setelah mengalami cedera,” ujar dia. (Talitha Islamey)

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan