Campuran Ingatan pada Memori Otak (Dok. Pexels)
Campuran Ingatan pada Memori Otak (Dok. Pexels)

Bukan Sekadar Lupa, Ini Alasan Otak Salah Mengingat Detail Kejadian

Renatha Swasty • 15 September 2026 11:57
Ringkasnya gini..
  • Penelitian Binghamton University menunjukkan usia membuat otak cenderung mencampur detail dari beberapa pengalaman yang mirip.
  • Penurunan akurasi memori akibat perubahan aktivitas hippocampus tidak hanya dialami lansia, tetapi mulai terjadi sejak usia paruh baya.
  • Fenomena ini bukan lupa total, melainkan kesalahan otak dalam menghubungkan kembali detail peristiwa, tempat, atau orang dengan tepat.
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom merasa yakin pernah mengalami sebuah kejadian, tetapi ternyata detail yang diingat justru berasal dari peristiwa lain? Kondisi tersebut bukan sekadar lupa. Penelitian terbaru menunjukkan seiring bertambahnya usia, otak dapat mencampuradukkan berbagai pengalaman yang memiliki kemiripan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan peneliti Binghamton University, Amerika Serikat, dan dipublikasikan dalam jurnal Cerebral Cortex pada Agustus 2026. Penelitian berjudul Aging shifts hippocampal reactivation from selective reinstatement to category-level misbinding during episodic memory meneliti bagaimana proses pembentukan dan pengambilan kembali ingatan berubah sepanjang usia.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada memori otak? Yuk Sobat Medcom, simak lebih lanjut!

Memori Bukan Sekadar Menyimpan Informasi

Memori episodik merupakan kemampuan mengingat kembali pengalaman beserta hubungan antara berbagai unsur di dalamnya. Proses tersebut tidak berlangsung dalam satu tahap.

Secara sederhana, otak perlu melalui proses ketika seseorang mengalami sebuah kejadian, menyimpan informasi tersebut, kemudian mengambilnya kembali ketika dibutuhkan.

Melalui proses tersebut, hippocampus memiliki peran penting. Bagian otak ini membantu membentuk dan menghubungkan berbagai unsur dari sebuah pengalaman sehingga dapat diingat kembali sebagai suatu peristiwa yang utuh.

Masalah dapat muncul ketika otak harus mengambil kembali detail tertentu dari pengalaman yang sudah tersimpan. Alih-alih mengambil ingatan yang tepat, otak dapat menggabungkan detail dari beberapa pengalaman yang memiliki kemiripan.

Peneliti Mengamati Aktivitas Otak

Untuk mengetahui bagaimana pencampuran ingatan terjadi, peneliti mengamati orang dewasa dengan rentang usia sekitar 20 hingga 74 tahun menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Peserta diminta melihat pasangan gambar berupa wajah dengan objek atau pemandangan tertentu. Mereka kemudian diminta membayangkan orang dalam gambar tersebut sedang berinteraksi dengan objek atau berada di dalam pemandangan yang ditampilkan.

Setelah proses tersebut, peserta menjalani periode istirahat sebelum mengikuti tes memori. Dalam tes tersebut, mereka harus menentukan objek atau pemandangan yang sebelumnya dipasangkan dengan wajah tertentu.

Eksperimen tersebut memungkinkan peneliti mengamati tiga tahap penting, yakni ketika informasi pertama kali dipelajari, ketika memori diproses setelah pembelajaran, dan ketika informasi tersebut dipanggil kembali.

Kesalahan Ingatan Lebih Banyak Terjadi Seiring Usia

Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kemampuan mengingat hubungan spesifik antara informasi seiring bertambahnya usia.

Peserta yang lebih tua lebih sering mengalami kesalahan ketika harus menghubungkan kembali wajah dengan objek atau pemandangan yang tepat. Mereka cenderung mengenali bahwa suatu informasi pernah dilihat sebelumnya, tetapi kesulitan menentukan pasangan yang benar.

Menariknya, peneliti menemukan perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada usia lanjut. Sejumlah proses yang berkaitan dengan ketepatan memori mulai menunjukkan perubahan pada usia paruh baya.

Peneliti menyebut adanya penurunan akurasi memori yang cukup besar ketika membandingkan kelompok usia 20-an hingga 30-an dengan peserta berusia sekitar 50-an. Hal tersebut menunjukkan usia paruh baya penting untuk diperhatikan dalam penelitian mengenai perubahan fungsi memori.

Hippocampus Justru Bisa Aktif Saat Ingatan Salah

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini berkaitan dengan aktivitas hippocampus.
Pada orang yang lebih muda, kemunculan kembali pola aktivitas otak yang sama ketika informasi pertama kali dipelajari cenderung berkaitan dengan kemampuan mengingat yang lebih baik.

Pola tersebut tidak selalu memberikan hasil yang sama pada orang yang lebih tua.
Hal ini dikarenakan yang terjadi pada peserta yang lebih tua adalah aktivitas hippocampus yang kembali menyerupai pola ketika informasi pertama kali dipelajari justru dapat berkaitan dengan kesalahan dalam menghubungkan ingatan.

Dengan kata lain, otak seperti mengaktifkan kembali informasi yang pernah tersimpan, tetapi tidak selalu mengarahkannya pada hubungan yang tepat. Kondisi tersebut oleh peneliti dikaitkan dengan category-level misbinding, yaitu ketika unsur dari pengalaman yang berbeda tercampur dalam proses mengingat.

Temuan ini menunjukkan perubahan memori akibat usia berkaitan dengan kemampuan seseorang mengingat sesuatu dan ketepatan otak dalam mempertahankan hubungan antar-detail dalam sebuah pengalaman.

Mengapa Hal Ini Penting?

Kemampuan mengingat orang, tempat, maupun kejadian secara tepat memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari.

Kesalahan mengingat nama seseorang atau mencampurkan detail dari dua peristiwa mungkin terlihat sederhana. Apabila kejadian tersebut terjadi semakin sering, kondisi tersebut dapat memengaruhi interaksi sosial dan aktivitas sehari-hari.

Penelitian ini juga memberikan perspektif bahwa perubahan kemampuan memori tidak selalu berbentuk kehilangan ingatan secara keseluruhan. Seseorang mungkin masih mengingat bahwa sebuah kejadian pernah terjadi, tetapi detail mengenai kapan, di mana, atau dengan siapa kejadian tersebut berlangsung dapat menjadi kurang akurat.

Masih Banyak yang Perlu Diteliti

Meski memberikan gambaran mengenai hubungan antara usia, hippocampus, dan kesalahan memori, penelitian ini belum menjawab seluruh pertanyaan. Peneliti masih perlu mengetahui mengapa aktivitas hippocampus yang menyerupai pola memori awal dapat membantu proses mengingat pada orang muda, tetapi justru berkaitan dengan kesalahan pada orang yang lebih tua.

Penelitian berikutnya juga dapat mengkaji bagaimana bagian otak lain bekerja bersama hippocampus dalam mempertahankan ingatan secara akurat. Selain itu, peneliti tertarik mengetahui apakah perubahan pada proses memori dapat dicegah atau dikurangi melalui intervensi tertentu.

Sejumlah pendekatan seperti aktivitas fisik, latihan mindfulness, stimulasi otak, hingga penggunaan pengingat digital menjadi beberapa kemungkinan yang dapat diteliti lebih lanjut. Namun, efektivitas masing-masing pendekatan dalam menjaga kestabilan memori masih membutuhkan penelitian lanjutan.

Penelitian ini memperlihatkan memori manusia bukanlah arsip yang selalu menyimpan pengalaman secara sempurna. Seiring waktu, otak dapat membangun kembali sebuah ingatan dan terkadang mencampurkannya dengan pengalaman lain.

Bagi Sobat Medcom, fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan mengingat bukan hanya berkaitan dengan seberapa banyak informasi yang tersimpan di otak, tetapi juga bagaimana otak mempertahankan dan mengambil kembali hubungan antar-informasi tersebut.
 (Adinda Kinanthi)
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan