Kepala Pusmendik Rahmawati. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Kepala Pusmendik Rahmawati. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Kemampuan Literasi Siswa Indonesia Baru di Level 2 PISA 2025, Apa Maknanya?

Ilham Pratama Putra • 09 September 2026 12:28
Ringkasnya gini..
  • Siswa Indonesia dalam PISA 2025 baru mencapai level 2 literasi membaca.
  • Kemampuan belum sampai tahap mengevaluasi dan merefleksikan berbagai sumber informasi.
  • Kemendikdasmen mendorong aktivitas membaca yang diikuti diskusi dan evaluasi.
Jakarta: Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rahmawati menyoroti capaian literasi membaca para siswa Indonesia dalam hingga Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia 2025. Rahmawati menyebut murid Indonesia baru mampu mencapai level 2 PISA. 

Makna Literasi Level 2 PISA 2025

Level 2 diartikan sebagai kondisi di mana siswa mampu memahami teks atau bacaan yang sifatnya implisit. Menurutnya pemahaman dalam membaca yang baik tidak bisa hanya sekadar paham teks yang sifatnya implisit.

"Kita ada isu untuk capaian dari murid Indonesia yang mencapai level 2 PISA, itu artinya dia sudah mampu melakukan pemahaman yang sifatnya implisit," tutur Rahmawati dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026, dikutip Rabu 9 September 2026. 
Adapun Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menetapkan tujuh tingkat kemahiran pada skala literasi membaca PISA. Dari ketujuh tingkatan ini, kemahiran literasi membaca siswa Indonesia baru berada di level dua.

Rahmawati menyinggung, siswa belum sampai ke level evaluasi dan merefleksi untuk menjelaskan dan menggabungkan berbagai sumber informasi. Hal ini masih menjadi tantangan nyata pembelajaran di sekolah.

Ia menggambarkan penugasan membaca di sekolah masih sekedar membaca dan menulis ringkasan. Siswa tidak dipandu lebih jauh, sehingga pada akhirnya siswa hanya meringkas berbagai hal yang tersirat tapi informasi tersurat terabaikan.

Untuk membantu siswa mencapai tingkatan level evaluasi dan refleksi, Rahmawati menyarankan satu metode. Pada awalnya murid diberi tugas membaca buku kepada siswa yang dibagi dalam beberapa kelompok.

"Nah dari buku bacaan tertentu itu sebenarnya guru tahu ini temanya sama, ini membahas hal yang sama, tapi sudut pandangnya berbeda. Setiap kelompok silakan memahami dalam bentuk informasi yang tersurat," jelasnya. Penugasan tersebut akan berujung dengan diskusi antar kelompok tentang buku yang dibahas. Metode ini menjadi salah satu contoh pemberian penugasan yang lebih komprehensif.

Dia menegaskan aktivitas literasi di kelas perlu dilakukan lebih beragam, tidak cukup pembiasaan membaca 15 menit. Perlu ada aktivitas tambahan agar murid bisa paham hingga mampu mengevaluasi.

"Sesudah membaca kita perlu melakukan aktivitas untuk memastikan mereka (siswa) paham, bisa membandingkan, bisa menyimpulkan, mereka bisa melakukan integrasi antar semua bacaan sampai akhirnya dia mampu mengevaluasi," tegasnya.

Ia kembali menegaskan ada harapan agar literasi siswa Indonesia sampai tahap mampu mengevaluasi suatu hal. Hal ini bisa dicapai dengan menerapkan berbagai aspek literasi di aktivitas keseharian siswa.

"Nah, kita apakah mau sampai di sana (tahap mampu mengevaluasi)? Kita pasti inginnya sampai di sana. Tapi bagaimana kita menerjemahkannya menjadi aktivitas keseharian, baik literasi di rumah, literasi di sekolah, dan literasi di lingkungan masyarakat ini menjadi sangat penting," tutup Rahmawati. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan