"46 persen siswa menggunakan AI chatbot setiap minggu atau lebih untuk membantu belajar," dikutip dari laporan PISA, Selasa 8 September 2026.
Apa Itu PISA?
PISA adalah asesmen OECD untuk mengukur kemamuan murid usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Pada PISA 2025 fokus utamanya adalah literasi sains. Tahun ini, sebanyak 75 persen negara OECD mengalami penurunan hasil PISA.Nahasnya, penggunaan AI tidak otomatis membuat hasil belajar lebih baik. Siswa yang menggunakan chatbot untuk merangkum bacaan, riset awal, atau membuat draf tulisan justru rata-rata memiliki skor PISA di bidang sains yang lebih buruk.
"Skor PISA Sains siswa yang belajar menggunakan AI sekitar 20 poin lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menggunakannya," lanjut keterangan tersebut.
OECD mengingatkan AI bisa menghasilkan informasi yang salah atau menyesatkan. Karena itu, siswa sebaiknya memperlakukan jawaban AI sebagai titik awal, bukan sumber yang langsung dipercaya.
Lantas bagaimana dengan siswa di Indonesia? Begini penjelasan Kepala Bidang Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Toni Toharudin.
"Ini (AI) harus diarahkan agar menjadi tentunya alat bantu belajar, bukan jalan pintas menggantikan proses pembelajaran. Dan itu adalah konsep kita di dalam kurikulum," kata Toni di Jakarta, Selasa 8 September 2026.
Kemendikdasmen sendiri menetapkan koding dan kecerdasan artificial (KKA) sebagai mapel pilihan di mulai jenjang SD dan SMP. Menurut dia, mapel KKA diarahkan untuk membentuk murid sebagai pengguna AI yang kritis, kreatif dan bertanggung jawab.
"Penggunaan AI itu memang tidak perlu dihindari. Jadi prinsipnya adalah AI ini harus sejalan dengan penguatan literasi, numerasi," tutup dia.