Contoh Soal Pisa 2025. Foto: Kemendikdasmen
Contoh Soal Pisa 2025. Foto: Kemendikdasmen

Intip Contoh Soal PISA 2025 Matematika, Literasi dan Sains, Beneran Sulit?

Ilham Pratama Putra • 08 September 2026 19:44
Ringkasnya gini..
  • Skor matematika Indonesia di PISA 2025 turun dua poin menjadi 364.
  • Soal PISA menguji kemampuan bernalar, memilah informasi, dan memecahkan masalah.
  • Contoh soal mencakup simulasi petir, bacaan kontradiktif, hingga penjualan DVD.
Jakarta: Skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia pada 2025 masih menunjukkan hasil yang stagnan. Pada kemampuan literasi membaca dan sains, skor PISA Indonesia hanya menunjukkan kenaikan 6 poin.

Malah, pada kemampuan matematika skor Indonesia turun. Adapun penurunan skor sebanyak dua poin menjadi 364 dibandingkan pada PISA 2022 yang sudah di angka 366.

Penurunan tersebut menjadi perhatian karena PISA tidak sekadar menguji kemampuan siswa menghafal materi pelajaran. Asesmen yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini mengukur sejauh mana siswa berusia 15 tahun mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menghadapi persoalan dalam kehidupan nyata.
Lantas, seperti apa sebenarnya soal PISA hingga siswa dituntut memiliki kemampuan bernalar dan memecahkan masalah?

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati memberikan sejumlah contoh soal PISA 2025. Dari contoh tersebut terlihat bahwa siswa tidak cukup hanya mengetahui konsep, tetapi juga harus mampu membaca informasi, memilah data, melihat hubungan antarinformasi, hingga mengambil kesimpulan.


Contoh Soal PISA 2025


Soal sains meminta siswa bermain dengan simulasi petir

WhatsApp Image 2026-09-08 at 7_40_26 PM
Contoh soal sains PISA 2025. Foto: Kemendikdasmen

Dalam salah satu contoh soal literasi sains, siswa tidak hanya diberikan teks mengenai fenomena alam. Mereka justru berhadapan dengan simulasi berbasis komputer.

Dalam simulasi tersebut terdapat dua variabel yang dapat diubah, yakni jumlah energi yang dihasilkan sambaran petir dan jarak antara sambaran petir dengan orang yang mengamati petir.

Siswa harus dapat menentukan apakah energi yang dihasilkan berada pada tingkat rendah, sedang, atau tinggi. Jarak sambaran petir juga diatur, misalnya 2 kilometer, 3 kilometer, 5 kilometer, atau 10 kilometer.

Setelah kondisi ditentukan, simulasi akan menghasilkan data dalam sebuah tabel. Data tersebut menunjukkan waktu antara ketika pengamat melihat sambaran petir hingga mendengar suara guruh.

Dengan model seperti ini, siswa mengamati secara langsung perubahan hasil ketika kondisi dalam simulasi diubah. “Secara real life bisa langsung mengamati apa hasil dari kondisi-kondisi yang sudah ditentukan,” ujar Rahmawati.

Menurut dia, bentuk soal tersebut dimungkinkan karena PISA berbasis komputer. Model seperti itu tentu tidak dapat dilakukan apabila asesmen hanya menggunakan kertas dan pensil.

Soal literasi membaca terkait dua bacaan berbeda sudut pandang

WhatsApp Image 2026-09-08 at 7_21_10 PM(1)
Contoh soal PISA membaca. Foto: Kemendikdasmen

Tantangan berbeda muncul pada literasi membaca. Dalam contoh soal PISA 2025, siswa menganalisa dua bacaan dalam dua tab atau jendela berbeda.

Kedua bacaan sama-sama membahas konsumsi susu. Namun, pesan yang disampaikan justru berlawanan.

Satu artikel mengenai “Susu Cempaka” mendorong pembaca mengonsumsi susu karena berbagai manfaat yang disebutkan. Sementara artikel lainnya, “Katakan Tidak pada Susu Sapi”, justru menyampaikan alasan mengapa seseorang sebaiknya tidak mengonsumsi susu sapi.

Siswa tidak cukup hanya membaca salah satu teks dan memahami isinya. Mereka perlu melihat hubungan kedua bacaan, membandingkan informasi, serta memahami bahwa satu isu dapat disajikan dengan sudut pandang berbeda.

Rahmawati mengatakan kemampuan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, ketika seseorang dapat menemukan berbagai informasi mengenai isu yang sama. “Sifat-sifat teks yang kontradiktif, yang seperti saat ini, satu foto bisa diterjemahkan dengan banyak angle, dengan banyak persepsi, inilah yang diujikan di PISA 2025 untuk literasi membaca,” tuturnya.

Dengan kata lain, literasi membaca dalam PISA bukan hanya persoalan apakah siswa bisa membaca sebuah tulisan. Siswa juga perlu mampu memahami perspektif, membandingkan informasi, dan menyikapi informasi yang saling bertentangan.

Soal matematika tidak sekadar menghitung dengan rumus

WhatsApp Image 2026-09-08 at 7_42_43 PM

Contoh soal PISA matematika 2025. Foto: Kemendikdasmen

Pada literasi matematika, siswa juga tidak serta-merta diberikan angka lalu diminta menghitung. Salah satu contoh soal menggunakan konteks penjualan kepingan Digital Versatile Disc (DVD). 

DVD yang kini semakin jarang digunakan tersebut digambarkan mengalami penurunan penjualan dari tahun ke tahun. Siswa kemudian diminta memperkirakan kapan penjualan DVD mencapai sekitar 1 juta apabila penurunan penjualan diasumsikan berlangsung secara linier dari tahun ke tahun.

Di sinilah kemampuan menerjemahkan persoalan sehari-hari ke dalam model matematika diuji. “Kalau dari sisi deskripsinya, apa yang mereka sudah bisa lakukan untuk yang mencapai proficiency minimum, mereka bisa memformulasikan masalah sehari-hari ke dalam konteks atau formula matematika,” kata Rahmawati.

Menurut dia, persoalan sehari-hari biasanya mengandung berbagai informasi, baik berupa teks, grafik, maupun tabel. Namun, tidak semua informasi tersebut otomatis diperlukan untuk menyelesaikan masalah.

Siswa harus mampu menentukan informasi yang relevan. Kemudian menerjemahkan persoalan tersebut menjadi formula matematika sebelum mencari solusinya.

Contoh soal penjualan DVD tersebut bahkan masuk dalam kategori pertanyaan level 4 maupun 5, bukan level 2. Rahmawati menjelaskan, salah satu kemampuan dasar yang perlu dimiliki siswa adalah memilah informasi. 

Persoalan dapat menjadi sulit ketika siswa justru terpaku pada angka-angka yang terlihat rumit dalam grafik. “Kalau di sini diamati dan murid memang konsep matematikanya tidak kuat, dia terjebak dengan ada titik 0,25, 2,9, ada titik 1,23, 4,6,” ujarnya.

Angka-angka desimal tersebut sekilas dapat membuat grafik terlihat rumit. Padahal, menurut Rahmawati, grafik sudah dibantu dengan garis linier yang merupakan garis terbaik atau best fitting line dari seluruh titik penjualan dari tahun ke tahun.

Siswa perlu memahami bahwa tidak semua angka yang terlihat dalam soal harus diperlakukan dengan cara yang sama. Mereka harus mengetahui informasi mana yang menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan.

“Di sini ada trick-nya dimana akhirnya menjadi kesulitan tidak mencapai level 2,” jelasnya.
Pada akhirnya, contoh soal PISA menunjukkan mengapa skor tinggi dalam asesmen ini tidak mudah diraih. Tantangannya bukan semata-mata seberapa banyak rumus atau informasi yang diingat siswa, melainkan seberapa baik mereka menggunakan pengetahuan tersebut ketika berhadapan dengan persoalan baru.

Siswa harus mampu membaca informasi yang beragam, memilah mana yang relevan, memahami perbedaan perspektif, membaca data, hingga mengubah persoalan sehari-hari menjadi model yang dapat digunakan untuk mencari solusi. Kemampuan bernalar dan memecahkan masalah inilah yang kini menjadi salah satu pekerjaan rumah pendidikan Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan