Jakarta: Lembaga Southeast Asian Ministers of Education Organitation-Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO-RECFON) berencana menyampaikan hasil studi mengenai persoalan gizi mikro anak kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan pemerintah guna pemenuhan gizi anak di Indonesia.
Direktur SEAMEO-RECFON Rini Sekartini mengatakan penyampaian hasil studi kepada BGN menjadi bagian dari rencana kerja lembaganya dalam beberapa tahun ke depan. Penelitian tersebut menemukan adanya persoalan kekurangan sejumlah zat gizi mikro, termasuk kalsium dan vitamin A.
"Dari pertemuan wali amanah ini, kita punya salah satunya adalah rencana lima tahun ke depan. Nah, ini adalah salah satu yang akan kami sampaikan kepada Badan Gizi Nasional," kata Rini dalam pemaparan hasil studi, Rabu, 9 September 2026.
Adapun Studi SEAMEO RECFON ini dilakukan terhadap sekitar 4.000 anak usia 7-18 tahun pada tahun 2024. Atau bisa dikatakan sebelum program MBG berjalan.
Menurut dia, hasil penelitian tersebut dapat membantu pemerintah memahami kebutuhan gizi anak berdasarkan kondisi masing-masing daerah. Dimana kebutuhan gizi anak tidak bisa disamaratakan secara nasional.
"Mudah-mudahan hasil dari tulisan Bapak-Ibu juga akan mendukung hasil penelitian yang kami temukan di Indonesia di beberapa kabupaten kota untuk mencukupi kebutuhan anak sesuai dengan usianya, kebutuhan gizi," ujarnya.
Di samping itu, Deputi Direktur Program SEAMEO-RECFON Brian Sri Prahastuti mengatakan temuan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun menurutnya, hasil studi tetap bisa menjadi pertimbangan.
"Studi yang dilakukan sebetulnya mau menggambarkan gambaran nasional," kata Brian.
Ia menjelaskan penelitian dilakukan sebelum program MBG dijalankan pemerintah. Namun, hasil studi dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang intervensi pemenuhan gizi anak.
Salah satu rekomendasi yang didorong SEAMEO RECFON adalah penggunaan pangan lokal sebagai basis penyusunan menu. Brian mengatakan persoalan kekurangan gizi mikro yang ditemukan tidak selalu sama di setiap daerah.
"Karena itu, intervensi gizi juga tidak dapat dibuat seragam. Harusnya disesuaikan dengan kekurangan zat gizi mikro tersebut. Sehingga tidak bisa disamaratakan," tegasnya.
SEAMEO RECFON pun telah menyusun panduan menu tujuh hari berbasis pangan lokal untuk sejumlah wilayah sebagai bagian dari rekomendasi tersebut. Brian berharap panduan dan hasil penelitian tersebut dapat menjadi rujukan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan bagi anak, termasuk pelaksana di daerah.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan