Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Jangan Cuma Jadi Pengguna AI, BRIN Ingin Indonesia Jadi Pembuat Teknologinya

Ilham Pratama Putra • 10 September 2026 17:03
Ringkasnya gini..
  • Indonesia dinilai tidak boleh hanya menjadi konsumen AI.
  • BRIN mendorong riset AI hingga menjadi teknologi yang benar-benar digunakan.
  • Pengembangan AI harus menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Jakarta: Indonesia dinilai tidak boleh berhenti sebagai negara pengguna kecerdasan buatan (AI) di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Kapasitas riset, pengembangan teknologi, hingga pemanfaatan AI harus dibangun agar Indonesia mampu menghasilkan teknologi sendiri dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital BRIN Hammam Riza mengatakan perkembangan AI di Indonesia harus dilihat sebagai perjalanan panjang, bukan sekadar tren teknologi yang sedang berkembang. Menurutnya, Indonesia harus membangun ekosistem yang mampu membawa hasil riset hingga benar-benar digunakan.

"Are we ready for AI? Itu harus dimulai dari berapa banyak paper publikasi yang kita hasilkan, tapi seberapa jauh pengetahuan itu berubah menjadi kemampuan teknologi dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Hammam dalam acara Techpresso di Studio Grand Metro TV, Kamis 10 September 2026.
Ia menjelaskan perjalanan membangun AI mencakup riset, pengembangan teknologi, pembuatan prototipe, hingga menghasilkan dampak nyata. Karena itu, hasil penelitian tidak boleh berhenti di laboratorium atau hanya menjadi publikasi ilmiah.

Hammam mengatakan BRIN sendiri telah mengembangkan sejumlah teknologi berbasis AI, mulai dari computer vision, machine learning, kendaraan listrik otonom, drug discovery, hingga prediksi lingkungan. Sejumlah hasil riset tersebut bahkan telah masuk ke tahap pemanfaatan di masyarakat.

Menurutnya, Indonesia juga memiliki potensi data dan pengetahuan yang tidak dimiliki perusahaan teknologi besar global. Salah satunya melalui pengembangan AI untuk mengenali artefak warisan budaya Indonesia.

"Indonesia tidak cukup hanya memiliki pengguna AI. Kita harus menjadi bangsa yang mampu membangun research to utilization, research to impact," tegasnya.

Hammam menilai perjalanan menuju Indonesia sebagai bangsa AI membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan mitra internasional harus membangun ekosistem bersama.

CEO Media Group Mirdal Akib juga menyoroti pergeseran penggunaan AI di dunia industri. Menurutnya, AI kini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu komunikasi, tetapi mulai mampu mengeksekusi tugas operasional kompleks dan terintegrasi ke proses bisnis utama.

"Tantangan terbesar ke depan bukan sekadar seberapa banyak masyarakat Indonesia menggunakan AI, tetapi apakah Indonesia mampu menciptakan teknologi, menguasai pengetahuan dan data, serta mengubahnya menjadi manfaat ekonomi dan sosial," pungkas Mirdal. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan