Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Agustino Zulys. DOK IG @prof.zulys
Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Agustino Zulys. DOK IG @prof.zulys

Sering Scrolling Konten Receh? Waspada, Itu Gejala Awal Brain Rot

Bramcov Stivens Situmeang • 22 Mei 2026 15:44
Ringkasnya gini..
  • Brain rot merujuk pada kondisi ketika otak terlalu sering terpapar konten cepat dan dangkal sehingga perlahan memengaruhi fokus dan konsentrasi.
  • Konten brain rot yang serba cepat dan penuh kejutan memicu lonjakan dopamin berulang.
  • Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan berpotensi mengganggu perkembangan kecerdasan dan meningkatkan risiko depresi.
Jakarta: Kebiasaan scrolling konten pendek yang absurd dan acak kini bukan lagi sekadar hiburan ringan, melainkan menjadi fenomena yang mulai mengkhawatirkan bagi kesehatan otak. Fenomena ini dikenal luas dengan istilah brain rot
 
Brain roat adalah kondisi ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi konten digital dangkal hingga memengaruhi fokus, cara berpikir, dan kemampuan berkonsentrasi. Sebelum membahas lebih jauh mengenai dampaknya, penting untuk memahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan brain rot. Simak selengkapnya.
 
Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Agustino Zulys, menjelaskan secara istilah brain rot memiliki arti “pembusukan otak”. Meski bukan tergolong penyakit medis resmi, fenomena ini nyata dan telah menjadi perhatian dalam dunia ilmiah.

Brain rot merujuk pada kondisi ketika otak terlalu sering terpapar konten cepat dan dangkal sehingga perlahan memengaruhi kemampuan fokus, konsentrasi, dan pola pikir seseorang. Konten pemicu brain rot umumnya berisi tayangan singkat yang absurd, acak, cepat, dan sering kali tidak masuk akal.
 
Menariknya, jenis konten seperti ini berkembang menjadi genre hiburan tersendiri yang dikonsumsi setiap hari tanpa disadari. Setelah memahami pengertiannya, pertanyaan berikutnya adalah mengapa brain rot bisa terasa begitu adiktif dan sulit dihentikan. Berikut penjelasannya di bawah ini.
 
Zulys mengungkapkan di balik kebiasaan scrolling tanpa henti terdapat senyawa kimia otak yang bekerja terus-menerus. Di dalam otak terdapat molekul bahagia bernama dopamin yang berperan dalam sistem reward atau penghargaan, yakni sistem yang aktif ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.
 
Masalahnya, konten brain rot yang serba cepat dan penuh kejutan memicu lonjakan dopamin berulang. Sehingga, otak terus terdorong mencari stimulasi berikutnya. 
 
"Kalau kita sering ketawa dengan hiburan receh, hati-hati, itu brain rot. Artikel ilmiah menunjukkan brain rot dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir karena terlalu banyak konsumsi konten receh, cepat, dan dangkal," kata Zulys dalam akun Instagram @prof.zulys dikutip Jumat, 22 Mei 2026.
 
Akibatnya, seseorang bisa terus scrolling tanpa sadar karena otak telah terbiasa mengejar sensasi hiburan instan. Menurut dia, otak manusia pada dasarnya dirancang untuk berpikir mendalam dan mempertahankan fokus dalam waktu tertentu.
  Namun, brain rot bekerja dengan cara sebaliknya, yakni membanjiri otak dengan terlalu banyak informasi dalam waktu singkat hingga mengganggu kemampuan dasar tersebut. Dampaknya, rentang perhatian menjadi semakin pendek dan seseorang mulai sulit bertahan menonton atau membaca sesuatu yang lebih panjang dan membutuhkan konsentrasi.
 
"Terbentuk kecanduan digital, apa yang terjadi di otak? Otak kita sebenarnya dirancang untuk fokus berpikir mendalam. Tapi brain rot melakukan sebaliknya terlalu banyak informasi menyebabkan plenger, rentang fokus perhatian rusak tidak tahan nonton video lebih dari 1 menit," beber Zulys.
 
Selain itu, efeknya juga merambat ke berbagai fungsi kognitif lain. Daya ingat dapat melemah karena informasi tidak sempat tersimpan dalam memori jangka panjang.
 
Kemampuan mengambil keputusan ikut terganggu sehingga seseorang cenderung menjadi lebih reaktif dan kurang reflektif dalam menyikapi sesuatu. "Konten brain rot itu super cepat penuh kejutan. Jadi timbul lonjakan dopamin terus-menerus. Hasilnya, otak memberi sinyal, kalau mau senang, scroll lagi," jelas dia.
 
Zulys secara khusus menyoroti anak-anak dan remaja sebagai kelompok yang paling rentan terdampak brain rot karena otak mereka masih berada dalam tahap perkembangan. Pada kelompok usia ini, dampak brain rot dapat memengaruhi berbagai aspek tumbuh kembang, mulai dari menurunnya kemampuan fokus belajar, mudah merasa bosan, meningkatnya ketergantungan pada gadget, hingga munculnya gangguan emosi.
 
Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan berpotensi mengganggu perkembangan kecerdasan dan meningkatkan risiko depresi. Menariknya, Zulys menegaskan fenomena ini bukan semata-mata karena anak-anak lemah mengontrol diri.
 
Zulys mengatakan platform digital memang dirancang dengan algoritma yang membuat pengguna terus menonton selama mungkin. "Kenapa anak sekarang suka brain rot? Jawabannya bukan karena mereka lemah, tapi karena sistemnya memang dirancang begitu. Ada algoritma, platform yang dipakai tahu apa yang bikin kamu nonton lama," beber dia.
 
Dia menuturkan tidak semua hiburan bersifat buruk. Menurut dia, ada batas penting antara hiburan yang menyehatkan dan hiburan yang justru perlahan merusak kemampuan berpikir.
 
Tertawa karena konten yang menghibur merupakan hal wajar dan sehat. Namun, ketika hiburan membuat seseorang berhenti berpikir kritis dan terus mencari stimulasi instan tanpa kendali, di situlah brain rot mulai bekerja secara perlahan.
 
Zulys memberikan peringatan mengenai bahaya konsumsi konten receh yang dilakukan berlebihan. "Kalau hiburan membuat kita tertawa, itu sehat. Tapi kalau hiburan membuat kita berhenti berpikir, itu plenger. Itu cara pelan mematikan otak kita," ujar dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA