Kebiasaan menonton video pendek atau membaca konten tanpa henti yang dikenal dengan istilah doom scrolling kini menjadi perhatian serius para ahli. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan, seiring dominasi video pendek di hampir seluruh platform media sosial dan menjadikannya bagian dari rutinitas harian banyak orang.
Melansir dari akun Instagram @kemkomdigi, aktivitas scrolling tanpa henti ini ternyata dapat memengaruhi kesehatan mental, kondisi fisik, hingga menurunkan kualitas kerja otak. Sebelum membahas lebih lanjut terkait dampaknya, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan doom scrolling, simak selengkapnya.
Apa itu doom scrolling?
Melansir laman Harvard Health, doom scrolling merupakan kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten yang menyedihkan melalui perangkat digital, seperti ponsel.Istilah ini pertama kali mencuat sebagai salah satu kata populer Oxford English Dictionary pada 2020, saat pandemi covid-19 memaksa banyak orang untuk terus memantau perkembangan berita terkini mengenai korban virus. Kini, lebih dari empat tahun kemudian, kebiasaan ini masih terus berlanjut bahkan semakin parah dengan maraknya video pendek di berbagai platform.
Perilaku doom scrolling ini berakar dari sistem limbik otak manusia, khususnya struktur yang disebut amigdala. Bagian otak ini mendorong respons fight-or-flight terhadap bahaya, membuat manusia terus mencari potensi ancaman. Semakin banyak seseorang melakukan scrolling, semakin besar pula kebutuhan untuk terus melakukannya.
Dampak dari doom scrolling terhadap kesehatan mental
Kebiasaan orang Indonesia menonton video pendek, dampak dari scrolling tanpa henti sangat beragam. Orang Indonesia diketahui menghabiskan rata-rata 4,9 jam per minggu untuk menonton video pendek di media sosial, menempatkan Indonesia di posisi kelima setelah Nigeria, Filipina, Kenya, dan Thailand.Dampak fisik dari doom scrolling mencakup mual, sakit kepala, ketegangan otot, nyeri leher dan bahu, nafsu makan menurun, kesulitan tidur, bahkan peningkatan tekanan darah. Ketika seseorang melakukan doom scrolling selama berjam-jam, mereka juga cenderung tidak aktif bergerak dalam waktu lama, yang menambah efek negatif pada kesehatan.
Dari sisi kesehatan mental, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Research in Quality of Life pada April 2023 menganalisis tiga studi terpisah yang melibatkan sekitar 1.200 orang dewasa. Hasilnya menunjukkan doom scrolling terkait dengan penurunan kesejahteraan mental dan kepuasan hidup.
Studi lain yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior Reports pada Agustus 2024 melibatkan 800 orang dewasa menemukan doom scrolling memicu tingkat kecemasan eksistensial yang lebih tinggi. Bahkan, penelitian lain menunjukkan karyawan yang melakukan doom scrolling saat bekerja cenderung menjadi kurang fokus pada tugas profesional mereka.
Perubahan fungsi otak akibat video pendek
Dilansir dari laman Forbes, kecanduan video pendek dapat mengubah cara kerja otak dalam memproses informasi dan mengambil keputusan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal NeuroImage ini menemukan dua cara utama bagaimana kecanduan video pendek mengubah otak manusia.Pertama, kecanduan ini mengurangi sensitivitas seseorang terhadap konsekuensi nyata. Individu dengan gejala kecanduan video pendek yang lebih tinggi cenderung mengalami penurunan dalam loss aversion atau kecenderungan untuk merasakan rasa sakit kehilangan sesuatu. Hal ini membuat pengambilan keputusan menjadi lebih berorientasi pada reward meskipun risikonya tinggi.
Kedua, kecanduan video pendek memperlambat cara otak memproses informasi. Peneliti menggunakan model kognitif Drift Diffusion untuk mengukur drift rate atau kecepatan otak dalam mengumpulkan dan memproses informasi sebelum mengambil keputusan.
Individu dengan kecanduan video pendek yang lebih tinggi memiliki drift rate yang jauh lebih rendah, yang berarti otak mereka mengumpulkan informasi lebih lambat dan membuat pengambilan keputusan menjadi lebih sulit. Lantas, solusi yang dapat dilakukan seperti apa?
Cara mengurangi doom scrolling
Para pakar kesehatan dari Harvard merekomendasikan sejumlah strategi untuk mengurangi kebiasaan doom scrolling. Intinya, strategi ini menekankan pentingnya membangun batasan digital agar otak dan tubuh memiliki kesempatan untuk kembali ke kondisi yang lebih seimbang. Beberapa pendekatan yang disarankan antara lain:1. Jauhkan ponsel saat tidur
Ini bukan berarti ponsel tidak boleh ada di kamar tidur. Namun, dengan menjauhkannya dari jangkauan, kamu tidak akan terdorong untuk langsung meraihnya secara kompulsif saat bangun tidur."Ini bisa menjadi perubahan terbesar untuk mengatasi stres akibat doomscrolling. Kamu membiasakan diri untuk bangun karena cahaya, melihat pasangan tidurmu, dan pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Rutinitas sederhana ini menciptakan jeda yang melindungi kamu dari respons stres," kata dosen di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School, Dr. Aditi Nerurkar.
2. Lakukan hal yang sama di ruang kerjamu
Hal ini juga berlaku di ruang kerja. Sebaiknya simpan ponsel di laci meja atau letakkan setidaknya tiga meter dari posisi kamu selama jam kerja.3. Jangan membawa ponsel ke meja makan
Jika kamu sedang makan, sebaiknya letakkan ponselmu lebih jauh dari jangkauan tangan dan aktifkan mode senyap.4. Ubah tampilan layar ponsel ke skala abu-abu
Membuat batasan visual semacam ini membuat aktivitas menggulir layar menjadi kurang menarik dengan mengurangi tingkat saturasi warna pada layar kamu. "Ada beberapa data awal yang menunjukkan bahwa ini mengurangi waktu penggunaan layar," jelas Dr. Nerurkar.5. Nonaktifkan notifikasi
Bunyi bip dan dering yang memberi tahu soal berita terbaru, email, pesan, dan notifikasi lainnya sebenarnya adalah pilihan kita sendiri. Menonaktifkannya cukup mudah, tinggal meninjau pengaturan di ponsel."Ini tentang membangun kembali beberapa batasan. Apakah kamu yang menggunakan perangkat, atau perangkat yang menggunakan kamu?" tutur Dr. Nerurkar.
6. Fokuslah pada berita komunitas
Judul berita lokal cenderung kurang bernada pesimistis dan lebih membangkitkan semangat. "Tetaplah pada lingkungan tempat kamu tinggal," kata Profesor Psikiatri di Harvard Medical School, Dr. Richard Mollica.7. Katakan saja tidak
Beri tahu orang-orang yang menceritakan kisah-kisah menyedihkan atau kekerasan bahwa kamu tidak tertarik. "Ini membuat kamu memegang kendali. Kamu tidak menyerahkan kekuasaanmu kepada orang lain,” ujar Dr. Mollica8. Fokuslah pada hal-hal baik
Menjadi sukarelawan di badan amal atau organisasi altruistik lainnya seperti penampungan hewan. Atau ikuti kegiatan yang membebaskan emosi, seperti kelas dansa atau jalan-jalan di alam. "Kamu perlu berbagi pengalaman emosional positif dengan orang lain," kata Dr. Mollica.9. Bicaralah dengan dokter kamu
Apabila kamu merasa tidak mampu berhenti membaca berita negatif di media sosial atau kebiasaan tersebut membuatmu sangat tertekan, inilah saatnya mempertimbangkan bantuan profesional."Sebagian kecil orang memang membutuhkan pendampingan profesional. Langkah terbaik untuk memulainya adalah dengan berkonsultasi kepada dokter perawatan primer. Ada masalah tertentu yang sangat sulit diatasi sendirian." jelas Dr. Mollica.
Nah, itulah ulasan terkait doom scrolling yang ternyata berdampak pada gangguan mental. Semoga informasi ini bermanfaat ya! (Bramcov Stivens Situmeang)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News