Melihat hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa sisa anggaran ini tidak dibiarkan mengendap. Pemerintah memilih untuk mengalihkannya untuk mempercepat pelatihan guru dalam menyambut kebijakan baru, yaitu Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028.
Menurut Mu'ti, keputusan ini merupakan strategi cerdas Kemendikdasmen untuk menyesuaikan anggaran dengan kondisi nyata di lapangan. Banyaknya kuota yang tidak terserap terjadi karena berbagai alasan, mulai dari faktor usia hingga kesibukan guru yang sedang kuliah.
Ia menegaskan bahwa dana sisa tersebut tetap digunakan untuk tujuan yang sejalan, yaitu meningkatkan kualitas para tenaga pendidik.
Baca Juga :
Sesalkan Dominasi Tulisan Berbahasa Inggris di Bandara Soetta, Mendikdasmen: Itu Pintu Gerbang Indonesia
“Jadi istilahnya ini dananya dana ashabah, bukan dana musibah. Karena itu kami tentu mengapresiasi smart strategy dari jajaran Kemendikdasmen yang mengalihkan dana itu untuk kepentingan yang serupa bagi peningkatan kualitas guru,” ujar Mu'ti, di sela-sela Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Bantuan Pemerintah Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI), di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
Kebijakan ini menunjukkan, pengelolaan anggaran negara harus fleksibel dan langsung menjawab kebutuhan mendesak di dunia pendidikan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Kemendikdasmen Nunuk Suryani, menyampaikan, langkah percepatan ini diwujudkan melalui program khusus bagi hampir 60.000 guru kelas 3 SD yang belum memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.
Pemerintah juga menggandeng banyak perguruan tinggi agar program pelatihan ini bisa mencakup wilayah yang luas secara merata. Melalui pengalihan anggaran yang tepat sasaran ini, pemerintah optimistis para guru akan siap mengajar sebelum kebijakan baru resmi diberlakukan.
“Berbagai upaya tersebut menjadi bagian langkah pemerintah dalam menyiapkan guru dalam menghadapi pemberlakuan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib,” tegas Nunuk.
Sebelumnya, Kemendikdasmen menyiapkan penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 sekolah dasar (SD). Sepanjang 2026, sebanyak 5.777 guru kelas telah dilatih, sedangkan pelatihan lanjutan akan menyasar 59.575 guru pada awal November.
"Ada informasi tambahan bahwa tahun 2026 kami sudah melatih guru kelas untuk mengajar Bahasa Inggris sejumlah 5.777 guru kelas. Awal November akan melatih 59.575 guru kelas SD untuk kecakapan mengajar Bahasa Inggris dengan melibatkan 107 kampus yang memiliki prodi Pendidikan Bahasa Inggris," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, dalam Taklimat Media di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.(Talitha Islamey)