Dirjen GTK Pastikan TPG Cair Pekan Depan
Nunuk menyampaikan sebagian TPG guru non-ASN sudah mulai cair pada pekan ini. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada para guru yang telah bersabar menunggu penyaluran tunjangan tersebut."Alhamdulillah saya menerima kabar bahwa TPG Guru Non ASN sudah ada yang cair ya di minggu ini. Bapak Ibu dan akan dilakukan secara bertahap semua SPM dan SPP sudah selesai, dan kita tinggal menunggu antrian SP2D di KPPN," ujar Nunuk dikutip dalam Instagram @nunuksuryani, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Nunuk menjelaskan, pencairan dilakukan secara bertahap. Ia menyebut proses administrasi pembayaran telah melewati sejumlah tahapan dan kini tinggal menunggu proses penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
Lebih lanjut, Nunuk menuturukan Surat Perintah Membayar (SPM) dan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) telah selesai diproses. Tahap berikutnya adalah menunggu antrean SP2D di KPPN, dengan upaya percepatan yang dilakukan melalui kerja sama bersama pihak terkait.
"Jadi terima kasih untuk kesabaran Bapak Ibu. Maksimal minggu depan semua guru Non ASN yang sudah memiliki syarat pendataannya akan segera mendapatkan TPG," ujar Nunuk
Viral Keluhan TPG Guru Non-ASN Belum Cair
Sebelumnya, persoalan keterlambatan pencairan TPG guru non-ASN mencuat setelah sejumlah guru menyampaikan keluhannya melalui media sosial. Mereka mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tunjangan yang dinantikan belum kunjung diterima.
Ilustrasi guru dan murid. DOK Puslapdik Kemendikbud.
Kesulitan itu dirasakan guru SMA swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Seorang guru berinisial T mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan transportasi untuk berangkat mengajar karena honor yang diterima dari sekolah terbilang kecil.
“Saya harus utang dulu agar bisa sekolah,” ujar dia dikutip dari laman metrotvnews.com, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Dia menuturkan honor yang diperoleh tak mampu mencukupi kebutuhan, termasuk operasional ke sekolah. Menurutnya, TPG menjadi aspek penting guru, khususnya swasta, untuk bisa tetap berangkat mengajar.
"Kalau tak pinjam dulu. Ya mau bagaimana lagi," ucapnya.
Guru lain berinisial A mengaku resah karena TPG periode Juli belum diterima hingga Agustus. Sejak saat itu, ia terpaksa berhemat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Keduanya berharap pemerintah segera mencairkan TPG untuk periode Juli hingga Oktober. Namun, mereka mengaku belum memperoleh informasi terperinci mengenai kepastian pembayaran tunjangan tersebut.
Menanggapi persoalan itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY, Raden Suci Rohmadi, menyampaikan bahwa penyaluran TPG bagi guru ASN telah mencapai lebih dari 90 persen hingga periode September. Adapun penyaluran bagi guru non-ASN masih berlangsung sesuai tahapan dan ketentuan yang berlaku.
"Terkait adanya guru yang status datanya di Info GTK telah dinyatakan valid sejak Juli, tetapi tunjangannya belum cair, hal tersebut dimungkinkan karena masih ada tahapan administrasi yang harus diselesaikan, termasuk proses penerbitan Surat Keputusan Tunjangan Profesi (SKTP) oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah," jelas dia.
Karena itu, para guru diimbau untuk terus memantau status penyaluran tunjangan melalui Info GTK. Dengan begitu, mereka dapat mengetahui perkembangan proses administrasi masing-masing.
Sorotan terhadap keterlambatan pencairan TPG juga disampaikan Anggota Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Reza Sudrajat. Dia menilai guru non-ASN umumnya memiliki beban kerja dan jumlah jam mengajar yang sama dengan guru PNS, PPPK, maupun PPPK paruh waktu.
Menurut Reza, perbedaan di antara mereka terletak pada jabatan struktural dan sistem pemantauan kinerja. Namun, ketika TPG terlambat cair, guru non-ASN dinilai menjadi kelompok yang paling terdampak karena tidak memiliki gaji pokok.
Ia juga menyoroti risiko kesulitan keuangan yang dapat dihadapi guru, mulai dari utang hingga pinjaman online (pinjol). Kondisi itu dinilai semakin berat bagi guru yang memiliki penghasilan rendah atau harus menanggung kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak.
"Dan ketika Tunjangan Profesi Guru hadir terlambat. Guru Non ASN yang akan terpukul duluan, karena mereka tidak punya gaji pokok, merekalah yang akan masuk ke hutang bank dan jebakan pinjol paling depan," tulis Reza di Threads @rezasud. Reza turut menyinggung penelitian di salah satu kabupaten mengenai pengaruh tunjangan profesi terhadap motivasi kerja guru yang disebutnya disepakati Kemendikdasmen. Ia menyayangkan keterlambatan pembayaran tunjangan yang membuat sebagian guru belum menerima haknya selama beberapa bulan.
"Padahal logikanya mengirimkan uang masuk ke dalam rekening tidak sesulit itu ditahun 2026, mudah, murah dan cepat. Masalahnya guru memang bukan prioritas dan dianggap tidak penting, guru harus selalu membuktikan diri bahwa ia kompeten, di hadapan pemerintah yang sesungguhnya tidak kompeten," tulis Reza.