Widyaprada Ahli Madya Direktorat SMP Kemendikdasmen, Ninik Purwaning Setyorini. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang.
Widyaprada Ahli Madya Direktorat SMP Kemendikdasmen, Ninik Purwaning Setyorini. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang.

Literasi Keuangan Belum Jadi Mapel, Begini Cara Sekolah Mengajarkannya

Bramcov Stivens Situmeang • 16 Oktober 2026 17:03
Ringkasnya gini..
  • Kemendikdasmen mengapresiasi kolaborasi pihak swasta melalui Permata CERITA 2026 dalam memperkuat literasi keuangan bagi siswa SMP.
  • Literasi keuangan diintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler tanpa membebani kurikulum utama sekolah.
  • Widyaprada Ninik Purwaning Setyorini menekankan pentingnya edukasi keuangan digital sejak dini guna mengantisipasi kejahatan online.
Jakarta: Literasi keuangan belum menjadi mata pelajaran tersendiri di sekolah. Meski begitu, materinya tetap disampaikan kepada siswa melalui integrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, hingga ekstrakurikuler.

Widyaprada Ahli Madya Direktorat SMP Kemendikdasmen, Ninik Purwaning Setyorini, mengapresiasi pihak swasta yang menggandeng sekolah untuk berkontribusi pada pendidikan melalui literasi keuangan. Dia menilai hal tersebut sangat berharga, khususnya bagi pemerintah. 

“Jadi acara hari ini memang sangat momentum sekali ya, pihak swasta menggandeng pihak sekolah memberikan mereka kontribusi terhadap pendidikan melalui pendidikan literasi keuangan. Ini sesuatu yang sangat berharga sekali ya khususnya bagi pemerintah dan mengapresiasi kepada pihak swasta,” ungkap Ninik kepada Medcom.id di sela-sela acara Permata CERITA 2026 di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.

Permata Bank menghadirkan Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 melalui program CSER Permata Hati dengan tema 24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA yang dilaksanakan di 24 kota di Indonesia. Tahun ini, program tersebut berfokus pada edukasi literasi keuangan digital bagi siswa SMP, mulai dari pengelolaan uang saku, pengenalan pembayaran digital melalui QRIS, hingga cara mengenali dan menghindari penipuan digital lewat metode 3A, yaitu Amati, Awasi, Adukan.

 
Permata Bank (1)(1)
Program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 di MTs Imadun Najah. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang.


Ninik menyebut meski literasi keuangan belum ditetapkan sebagai mata pelajaran tersendiri, materinya berintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler dengan dikaitkan pada capaian pembelajaran yang relevan, seperti matematika untuk kompetensi numerasi atau social science.

Dia menjelaskan, literasi keuangan merupakan bagian dari ranah literasi yang perlu dikuatkan pada peserta didik, di samping literasi membaca, literasi matematika, dan literasi digital. Strategi penyampaian di sekolah harus diatur agar tidak membebani kurikulum.

“Nah, bagaimana mengolaborasikan dengan pembelajaran di sekolah? Ini yang harus kita atur strateginya, membebani kurikulum juga tidak, tetapi tetap konten literasi keuangan itu bisa kita ambil untuk kita sampaikan kepada peserta kondisinya,” ujar Ninik.

Kemendikdasmen juga bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai inisiator untuk mendukung penguatan materi tersebut. Kolaborasi dilakukan untuk mengembangkan bahan ajar yang memuat penguatan literasi keuangan.
 

Di sisi lain, Ninik menekankan pentingnya literasi keuangan digital karena perkembangan dunia digital di bidang keuangan berlangsung sangat pesat. Menurut dia, anak-anak perlu disiapkan sejak dini agar tidak menjadi korban ketika sudah menjadi bagian dari masyarakat.

“Selama ini hanya mengenal keuangan secara konvensional. Tapi bagaimana mereka harus berinteraksi dengan keuangan digital ini yang semakin masif. Kalau mereka tidak disiapkan dari sejak dini, nanti ketika mereka menjadi anggota masyarakat, mereka akan tergagap-gagap,” kata dia.

Ninik menjelaskan mempersiapkan anak-anak sejak dini sangat penting karena pada dasarnya dunia pendidikan bertugas meliteratkan warga negara. Hal itu termasuk meliteratkan sumber daya manusia (SDM) dalam berinvestasi di dunia keuangan.

Mengenai kewaspadaan siswa dan sekolah terhadap penipuan digital, Ninik mengatakan seluruh sivitas akademika perlu mulai sadar akan pentingnya literasi keuangan bagi anak-anak. Dia menyebut kepala sekolah sebagai manajer utama dalam hal ini.

“Itulah pentingnya, makanya muatan-muatan materi literasi keuangan itu hadir di pendidikan. Jadi, seluruh sivitas akademika di saat pendidikan itu harus mulai aware terhadap pentingnya hadirnya literasi keuangan untuk disampaikan kepada anak-anak,” ujar Ninik.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan