Melalui program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026, Permata Bank mengenalkan literasi keuangan digital kepada siswa di MTs Imadun Najah. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan uang saku, pengenalan pembayaran digital melalui QRIS, hingga cara mengenali dan menghindari penipuan digital melalui metode 3A, yaitu Amati, Awasi, dan Adukan.
Chief of Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank, Katharine Grace, menjelaskan selama ini Permata CERITA selalu menyasar siswa SD sejak pertama kali digelar pada 2016. Namun, berdasarkan survei, terdapat kesenjangan antara angka inklusi keuangan secara umum dan kondisi di kalangan siswa SMP.
“Dari 2016 sampai sekarang itu kita selalu ke SD, tahun ini kita baru mulai untuk SMP. Jadi malah kita ingin coba ke SMP, karena dari survei kita melihat ada gap, kalau survei inklusi keuangan 89 persen, sedangkan survei di SMP masih 56 persen,” ujar Grace kepada Medcom.id di sela-sela acara Permata CERITA 2026, Jumat, 16 Oktober 2026.
Grace menuturkan kesenjangan itu menunjukkan masih banyak siswa SMP yang perlu dijangkau melalui edukasi keuangan. Karena itu, Permata Bank memutuskan memperluas program ke jenjang SMP.
Dia menjelaskan kegiatan tahun ini tidak hanya bertujuan meningkatkan literasi keuangan, tetapi juga mendorong siswa menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat tiga fokus utama dalam Permata CERITA 2026.
Fokus pertama adalah meningkatkan literasi menjadi inklusi keuangan. Grace mengatakan siswa SMP diharapkan mulai mampu mengambil keputusan finansial yang lebih matang dibandingkan ketika masih berada di jenjang SD.
Program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026 di MTs Imadun Najah. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang.
“Kita ingin meningkatkan dari literasi ke inklusi tadi disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekarang harus inklusif yaitu aplikasinya. Jadi kita ingin anak SMP karena seumurnya bisa lebih dewasa untuk menentukan planning decision-nya, kalau di SD kan kita baru awareness ya, tapi di SMP ini kita ingin mereka juga tidak melakukan putusan-putusan finansial yang lebih masuk akal dan lebih juga dikembangkan,” jelas Grace.
Dia mengungkapkan sebagian anak kemungkinan sudah memiliki tabungan bersama orang tua. Bahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memiliki program khusus yang memungkinkan anak membuka tabungan sendiri.
“Karena mungkin sebagian besar anak-anak juga sudah punya tabungan bersama orang tua. Bahkan OJK udah punya program khusus yang bisa buka sendiri, sehingga banyak anak-anak harus memakai putusan finansial yang sederhana misalnya uang sakunya. Tadi udah dijelasin OJK bisa Rp15.000 nabungnya dan seterusnya,” ujar dia.
Fokus kedua adalah digitalisasi. Grace menilai anak-anak semakin dekat dengan penggunaan perangkat digital. Siswa yang telah memiliki tabungan juga berpeluang menggunakan layanan perbankan digital, seperti mobile banking.
Meski begitu, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan transaksi. Menurut dia, penipuan daring hingga aksi scammer masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai ketika menggunakan layanan digital.
“Tapi di era digitaliasi juga masih banyak ancaman keamanan seperti penipuan online hingga scammers. Karena itu OJK tadi sudah memperingatkan akan hal itu,” ujar dia.
Permata CERITA merupakan program tahunan yang dihadirkan Permata Bank melalui program CSER Permata Hati. Program yang telah berjalan sejak 2016 ini mengusung tema 24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA pada 2026, dengan pelaksanaan yang menjangkau 24 kota di seluruh Indonesia.