Pendiri Rich Digital Store, atau yang dikenal lewat platform Screener Saham, Faris, mengatakan konten edukasi finansial yang terlihat sederhana di media sosial tetap membutuhkan proses riset dan pengujian. Karena itu dalam mempelajari saham, kemampuan literasi finansial seseorang juga harus menjadi poin penting.
"Kalau saya sedang meracik screener, biasanya saya akan retest sampai tiga kali. Setiap retest tentu ada biaya yang saya keluarkan. Kalau hasilnya memang berhasil dan menurut saya layak dibagikan, saya bagikan secara gratis," kata Faris dalam keterangannya, Selasa 22 September 2026. Sebelum melakukan edukasi saham, Faris mengaku mengalokasikan waktu dan biaya untuk memastikan materi mengenai pasar modal yang dibagikannya dapat dipahami dengan lebih mudah. Menurut dia, proses tersebut diperlukan agar materi yang diberikan kepada audiens tidak dibuat secara asal
Di mesia sosial, Faris membuat konten edukasi bukan hanya soal menyampaikan informasi melalui video. Materi yang diberikan kepada audiens perlu melalui proses pengembangan agar konsep yang relatif rumit, termasuk analisis saham, dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana.
Lebih lanjut, ia mengakui, penggunaan media sosial sebagai ruang belajar memberikan kemudahan bagi Gen Z untuk mendapatkan informasi mengenai saham dan pasar modal. Namun, banyaknya informasi yang tersedia juga membuat kemampuan memilah sumber menjadi bagian penting dalam proses belajar.
Untuk itu, kamu perlu mengetahui tips belajar saham melalui medsos. Berikut Penjelasannya:

Ilustrasi Saham. Foto: Pexels
3 Tips Belajar Saham di Medsos
Jangan hanya melihat hasil
Konten yang memperlihatkan keuntungan dari aktivitas di pasar modal belum tentu menggambarkan keseluruhan proses, termasuk risiko yang dihadapi.
Pahami metode yang digunakan
Konten edukasi sebaiknya tidak hanya memberikan rekomendasi atau hasil analisis, tetapi juga membantu pembaca memahami bagaimana suatu informasi diperoleh dan digunakan.
Cek kembali informasi dari sumber lain
Belajar melalui media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal pasar modal, tetapi pemahaman yang lebih utuh membutuhkan referensi dari sumber yang kredibel.
Lebih lanjut, Faris menekankan perkembangan media sosial membuat proses belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas atau buku. Gen Z dapat menemukan berbagai materi mengenai pengelolaan keuangan, investasi, dan pasar modal melalui konten digital.
Di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Informasi finansial yang dikemas secara menarik belum tentu memiliki kualitas edukasi yang sama sehingga kemampuan berpikir kritis menjadi penting.
Tapi dengan platform yang ia punya melalui screener dan medsosnya, Faris mengaku terus membuat konten edukasi bukan sekadar mendapatkan perhatian di media sosial. Ia ingin materi yang dibagikan dapat membantu seseorang memahami hal yang sebelumnya belum diketahui.
"Kalau satu konten yang saya buat bisa membantu seseorang memahami sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengerti, menurut saya proses berkali-kali take itu tetap layak dijalani," tutupnya.
Pada akhirnya, media sosial dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenal pasar modal. Namun, proses belajar tetap perlu disertai kemampuan memeriksa informasi, memahami risiko, dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan konten yang sedang populer.