Ilustrasi. Foto Pexels.com
Ilustrasi. Foto Pexels.com

4 Ciri-Ciri Kalau Kamu Punya Literasi Tinggi, Ini Tandanya

Ilham Pratama Putra • 08 September 2026 12:20
Ringkasnya gini..
  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyebut literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis.
  • Manusia literat perlu mampu membaca kritis, menjadi pendengar dan penulis yang baik.
  • Literasi juga berarti kemampuan memahami realitas dan persoalan di lingkungan sekitar.
Jakarta: Literasi sering kali dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis. Padahal, di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi saat ini, menjadi manusia yang literat membutuhkan kemampuan yang lebih luas.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan seseorang yang literat tidak cukup hanya mampu membaca teks. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mendengarkan, menulis, hingga memahami realitas yang terjadi di lingkungan sekitar.

"Kita tentu saja berusaha menjadi pembaca yang baik, tetapi juga perlu kemampuan menjadi pendengar yang baik, sekaligus menjadi penulis yang baik," ujar Mu'ti dalam sambutannya pada peringatan Hari Aksara Internasional 2026, Selasa 8 September 2026.
Menurut Mu'ti, membentuk manusia yang literat perlu proses pembelajaran yang panjang. Belajar tidak hanya bertujuan membuat seseorang memahami kata-kata, tetapi juga memahami berbagai hal yang terjadi di sekitarnya.

"Belajar tidak hanya memahami kata tetapi juga memahami apa yang terjadi di sekitar kita," jelasnya.

Lantas, seperti apa kemampuan yang perlu dimiliki untuk menjadi manusia yang literat? Berikut penjelasannya:


4 Tanda Kalau Kamu Manusia Literat


1. Mampu membaca dengan kritis

Kemampuan membaca bukan sekadar memahami rangkaian kata dalam sebuah teks. Menurut Mu'ti, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membaca secara kritis, terutama ketika berhadapan dengan banyaknya informasi di era digital.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar menerima informasi yang diperoleh. Informasi perlu ditelaah, dipertanyakan, dan diverifikasi sebelum dipercaya.

"Kita berusaha untuk membaca lebih kritis, tidak sekadar menerima informasi tetapi menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi," kata Mu'ti.

Kemampuan tersebut membuat kegiatan membaca tidak berhenti pada mengetahui isi sebuah informasi. Tetapi juga memahami konteks dan mempertimbangkan kebenarannya.

2. Mampu jadi pendengar yang baik

Literasi juga tidak hanya berlangsung ketika seseorang membaca buku atau artikel. Mu'ti menilai kemampuan menjadi pendengar yang baik juga merupakan bagian dari manusia yang literat.

Mendengarkan memungkinkan seseorang memahami informasi dan sudut pandang yang disampaikan orang lain. Karena itu, kemampuan literasi perlu ditempatkan lebih luas sebagai kemampuan memahami dan mengolah pengetahuan, bukan sekadar membaca teks.

Mu'ti menekankan proses belajar perlu dilakukan secara reflektif dan kontekstual. Artinya, seseorang tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga memahami maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mampu menulis dan menyampaikan pengetahuan

Selain membaca dan mendengarkan, manusia literat juga perlu mampu menulis. Kemampuan tersebut menjadi salah satu cara untuk mengolah sekaligus membagikan pengetahuan kepada orang lain.

Mu'ti mengatakan literasi tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri. Pengetahuan yang dimiliki juga perlu dibagikan sehingga dapat memberikan manfaat bagi sesama.

"Kemampuan menulis dapat menjadi bagian dari proses seseorang mengolah informasi, menyampaikan gagasan, dan berbagi pengetahuan," sebut dia.

4. Mampu memahami kehidupan di sekitar

Mengukur kemampuan literasi tak pernah berhenti pada teks. Mu'ti mengatakan masyarakat perlu mampu memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi yang ada di sekitarnya.

Ia menyebut literasi hari ini sebagai kemampuan membaca dunia. Artinya, pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar diharapkan dapat membantu seseorang memahami persoalan kehidupan sekaligus mengambil tindakan untuk memperbaikinya.

"Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik lagi," ujar Mu'ti.

Mu'ti juga menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat. Menurutnya, masyarakat perlu terus belajar karena ilmu tidak pernah habis dan zaman terus berubah.

Proses belajar tersebut, lanjutnya, perlu dilakukan secara mendalam, reflektif, kontekstual, dan menggembirakan. Dengan begitu, literasi tidak hanya menghasilkan orang yang mampu membaca kata, tetapi juga mampu memahami kehidupan.

"Mari kita jadikan literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca kata, tetapi kemampuan untuk membaca kehidupan dan mengubahnya menjadi lebih baik," pungkasnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan