"Ini bukan soal bisa baca atau tidak, tapi soal paham atau tidak. Ini darurat pemahaman bacaan," ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu. 4 April 2026.
Upaya peningkatan keterampilan pendamping (guru, orang tua dan masyarakat) sangat krusial untuk menanamkan kemampuan literasi generasi muda. Sebab peningkatan kemampuan literasi anak tidak dapat semata-mata hanya bergantung pada sekolah.
"Upaya peningkatan literasi anak bangsa tidak bisa hanya bergantung pada sekolah. Peran orang tua dan lingkungan sekitar dalam menanamkan kemampuan literasi generasi penerus sangat menentukan," kata ​Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu.
Menurut Lestari, pendampingan saat anak menggunakan gawai serta pembiasaan membaca sejak dini harus dilakukan secara konsisten. Jika tidak, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, kemampuan anak memahami bacaan akan tetap rendah, meskipun mereka bisa membaca.
Rerie mendorong agar sejumlah langkah segera direalisasikan. Antara lain, tegas dia, orang tua harus aktif mendampingi anak saat menggunakan gawai, bukan sekadar melarang atau memberi gadget tanpa kontrol.
Selain itu, ujar Rerie, pemerintah harus segera menghapus pajak buku dan pajak kertas agar harga buku terjangkau, sehingga akses masyarakat terhadap bahan bacaan lebih mudah.
Menurut Rerie yang juga legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu, upaya peningkatan literasi anak bangsa harus menjadi gerakan nasional, bukan hanya tugas guru di sekolah.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berpendapat, jika generasi muda tidak dibekali kemampuan berpikir kritis sejak dini, maka daya saing bangsa akan terancam. "Kedaulatan bangsa di masa depan sangat tergantung pada kemampuan anak-anak kita dalam memahami dan menyaring informasi," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News