Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Mendikdasmen: Literasi Moral Tak Kalah Penting dari Kemampuan Baca-Tulis

Ilham Pratama Putra • 08 September 2026 12:18
Ringkasnya gini..
  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti menilai literasi moral penting selain kemampuan baca-tulis.
  • Manusia literat diharapkan mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan bersama.
  • Literasi disebut menjadi fondasi membangun bangsa yang cerdas, berkarakter, dan sejahtera.
Jakarta: Kemampuan membaca dan menulis bukan satu-satunya ukuran seseorang disebut literat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menilai masyarakat juga perlu memiliki literasi moral

"Tidak hanya literasi aksara tapi juga literasi moral yang  memberikan manfaat bagi sesama dan lingkungan," kata Mu'ti dalam sambutannya pada Hari Aksara Internasional 2026, Selasa 8 September 2026.

Mu'ti menjelaskan jika perubahan zaman saat ini membuat makna literasi semakin luas. Literasi kini mencakup kemampuan memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif, terus belajar, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.

"Maka itu, dalam momen peringatan Hari Aksara Internasional ini, sekali lagi saya mengajak kita semua untuk menjadi manusia-manusia yang literate," ujar Mu'ti.
Menurutnya, manusia yang literat hari ini, tidak cukup hanya memiliki kemampuan memahami aksara. Literasi juga harus berkaitan dengan karakter dan manfaat pengetahuan dalam kehidupan.

"Manusia yang tidak hanya memiliki literasi aksara, tapi juga literasi moral dan literasi yang bermanfaat bagi kehidupan sesama dan kesejahteraan semesta," jelasnya.

Mu'ti mengatakan masyarakat perlu menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan membiasakan diri membaca secara kritis dan tidak sekadar menerima informasi.

Ia juga mendorong masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat, berbagi pengetahuan, menjaga lingkungan, serta menggunakan kecakapan yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebaikan bersama. Menurut Mu'ti, proses belajar perlu dilakukan secara reflektif dan kontekstual. 

"Artinya, seseorang tidak hanya memahami kata-kata yang dibaca, tetapi juga memahami berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya," tegas dia.

Ia menilai pendekatan tersebut penting untuk membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, peduli lingkungan, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. "Literasi adalah fondasi bagi Indonesia Emas 2045. Bangsa yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter, peduli lingkungan, dan sejahtera," pungkasnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan