Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti dominasi tulisan berbahasa Inggris di bandara Indonesia, terutama Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Menurutnya, bandara sebagai pintu gerbang negara seharusnya menjadi ruang untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada tamu dari berbagai negara.
"Saya setiap kali ke bandara, terutama bandara internasional Soekarno-Hatta, lebih banyak saya temukan tulisan dalam bahasa Inggris daripada tulisan dalam bahasa Indonesia. Padahal itu adalah pintu gerbang Indonesia," ujar Mu'ti dalam Kegiatan Puncak Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2026 bertema "Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat" di Plaza Insan Berprestasi Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Mu'ti mengatakan kedatangan tamu dari berbagai negara di Jakarta seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia. Namun, ia menyayangkan ruang publik yang semestinya menjadi tempat bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa utama di negeri sendiri belum sepenuhnya mencerminkan hal tersebut.
Ruang Publik Masih Didominasi Istilah Asing
Mu'ti juga menyoroti kecenderungan penggunaan istilah asing di ruang publik, termasuk di lingkungan pemerintahan dan lembaga negara. Dia menuturkan, kecenderungan itu terlihat pula dalam berbagai pertemuan resmi yang lebih banyak menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia.
"Saya ingin menegaskan mengapa kedaulatan bahasa Indonesia itu penting, karena sekarang terdapat kecenderungan di mana ruang-ruang publik, termasuk di lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga negara. Lebih banyak dan lebih bangga menggunakan istilah asing daripada menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia," jelas dia.
Meski begitu, Mu'ti menegaskan pengutamaan bahasa Indonesia bukan berarti menolak penggunaan bahasa asing. Menurutnya, masyarakat tetap perlu menguasai bahasa asing, tetapi bahasa Indonesia harus digunakan terlebih dahulu sebelum bahasa lain, termasuk bahasa daerah.
Baca Juga :
Komisi X Curhat: Berharap Delegasi Indonesia Bisa Pakai Bahasa Sendiri di Forum Internasional
Mu'ti Soroti Bahasa Generasi Muda
Selain penggunaan bahasa asing di ruang publik, Mu'ti menyoroti kecenderungan generasi muda yang tidak selalu menggunakan bahasa Indonesia secara baku. Ia menilai penggunaan bahasa sehari-hari memang tidak harus selalu baku, tetapi perubahan kebiasaan berbahasa juga dapat menimbulkan kesenjangan antargenerasi.
Mu'ti mengaku kerap kesulitan memahami singkatan yang digunakan anak-anaknya dan mahasiswa ketika berkomunikasi melalui WhatsApp (WA). Menurutnya, istilah dan singkatan baru yang digunakan generasi muda menunjukkan adanya perbedaan kebiasaan berbahasa antargenerasi.
"Saya sering kalau berdialog dengan anak-anak saya dan juga mahasiswa saya, terutama kalau sedang ber-WA begitu, itu senantiasa menyebutkan itu bahasanya bapak-bapak. Saya sering kali tidak paham dengan singkatan-singkatan, apalagi kemudian singkatan-singkatan baru yang memang di sini sepertinya ada kesenjangan antar generasi," tutur Mu'ti.
Dia mengingatkan kesenjangan antar generasi tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi mengancam eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa utama di negeri sendiri. Karena itu, penguatan kedudukan bahasa Indonesia perlu berjalan seiring dengan perubahan kebiasaan berbahasa masyarakat.
Di sisi lain, Mu'ti menyoroti kekayaan bahasa daerah yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan data terakhir yang diterimanya dari Badan Bahasa, Indonesia tercatat memiliki 729 bahasa daerah yang tersebar di seluruh wilayah, dengan jumlah terbanyak berasal dari Papua.
"Kita punya kekayaan bahasa daerah yang mungkin terbanyak di dunia. Data terakhir yang kami terima dari Badan Bahasa, sekarang ada 729 bahasa daerah di seluruh Indonesia, dan yang paling banyak adalah dari Papua," ungkap Mu'ti.