Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menjelaskan perjalanan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan berawal dari tumbuhnya gagasan tersebut dalam Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada 1926. Gagasan itu kemudian diteguhkan melalui ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
"Sejak tumbuhnya gagasan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam Kongres Pemuda Indonesia Pertama di tahun 1926, yang kemudian diteguhkan dalam ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yakni Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia," ujar Hafidz di Plaza Insan Berprestasi Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2026 “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat”. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Hafidz mengatakan, peringatan BBS tahun ini mengajak masyarakat memandang bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga simbol kehormatan, kebanggaan, dan kedaulatan bangsa. Melalui tema yang diusung, masyarakat didorong untuk terus merawat warisan perjuangan para pemuda sekaligus memperkuat kedudukan bahasa Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman.
Selain memperkuat penggunaan bahasa Indonesia, BBS 2026 mendorong penghargaan terhadap keberagaman bahasa daerah dan penguasaan bahasa asing sesuai kebutuhan. Upaya ini diharapkan dapat menjaga semangat para pemuda pendahulu bangsa melalui pengutamaan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah kehidupan.
"Dengan merawat warisan perjuangan tersebut, kita tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bermartabat sekaligus simbol kedaulatan bangsa dalam menghadapi tantangan zaman," kata Hafidz.
Hafidz menegaskan, BBS tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga gerakan kebangsaan yang melibatkan partisipasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Badan Bahasa bersama unit pelaksana teknis, balai, dan kantor bahasa di seluruh Indonesia bersinergi dengan pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, media massa, organisasi profesi, serta para penggerak dan pemerhati bahasa dan sastra.
"Melalui berbagai inovasi ini, kami harapkan pengutamaan bahasa Indonesia, peningkatan budaya literasi, dan juga pelayanan kebahasaan akan semakin meningkat. Mari kita gaungkan spirit Trigatra Bangun Bahasa, yaitu utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing bagi kita semuanya dapat kita wujudkan bersama," ujar dia.