Fauzul Amni, penyandang disabilitas sedang melakukan pembelajaran didampingi orang tuanya. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.
Fauzul Amni, penyandang disabilitas sedang melakukan pembelajaran didampingi orang tuanya. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.

Lika-Liku Teknologi dan Pemenuhan HAM Pelajar Disabilitas

Pendidikan teknologi penyandang disabilitas anak berkebutuhan khusus Pembelajaran Daring pandemi covid-19
Ilham Pratama Putra • 22 November 2021 10:05
Jakarta: Fauzul Amni tampak asik mengotak-atik gawainya, Minggu sore, 15 November 2020. Ada yang tidak biasa dari gawai milik siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 77 Jakarta Pusat tersebut. Setiap jarinya menyentuh layar, lantas keluar suara dari gawai memberi penjelasan apa yang tengah ditekan Zulam, saapan akrabnya.
 
Misal, saat dia menekan aplikasi WhatsApp, maka akan keluar suara dari gawai dengan tempo cepat mengatakan, 'Membuka WhatsApp'. Begitu pula saat Zulam memilih daftar kontak yang ingin dihubunginya.
 
Zulam tampak sudah hafal letak navigasi telepon, panggilan video, hingga abjad keyboard handphone dalam genggamannya. Dia hanya tinggal memanfaatkan suara yang keluar dari gawai untuk melanjutkan apa yang dibutuhkannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini dipelajari Zulam selama tiga bulan akhir, setelah pengangkatan tumor di otaknya yang sudah dideritanya selama tiga tahun terakhir. Penyakit itu menyisakan gangguan penglihatan bagi Zulam.
 
“Jadi tiga tahun yang lalu abang (Zulam) ternyata ada tumor otak. Dia jatuh pas olahraga dan tiba-tiba enggak bisa melihat," terang ibu Zulam, Fadwah Maghfurah, kepada Medcom.id saat ditemui di rumahnya kawasan Jakarta Pusat.
 
Baca: AyoKursus Kemendikbudristek, Bekal dan Asa Bagi Siswa Putus Sekolah
 
Sejak tak bisa melihat, Zulam sangat mengandalkan indera pendengarannya. Begitu pula untuk kegiatan pembelajaran.
 
Selain berdaptasi dengan gawai yang telah diatur untuk gangguan penglihatan, Zulam juga mulai belajar huruf braille untuk membaca sekaligus menulis. Fadwah mulai mengupayakan kebutuhan anaknya.
 
Beruntung, gawai yang dimiliki Zulam telah memiliki fasilitas yang dibutuhkan. Selanjutya, Fadwah mulai bergerilya mencari kebutuhan lainnya. Mulai dari alat braille, jam tangan, jam meja yang bisa mengeluarkan suara, hingga modul-modul pembelajaran yang dibuat khusus untuk penyandang tunanetra. Perlahan, Zulam mulai terbiasa dan mampu mengikuti pembelajaran.
 
“Dan beruntung di sekolahnya, di SMA 77 para guru dan teman-temannya sangat support Zulam, semua membantu dan kalau ada apa-apa komunikasi lancar dengan saya," lanjut Fadwah.
 
 

Namun, metode belajar nyatanya harus berubah seiring merebaknya pandemi covid-19. Sekolah di Indonesia harus menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring, termasuk SMA 77 Jakarta, tempat Zulam belajar.
 
Di saat banyak murid dan guru mengeluhkan model belajar daring, Zulam malah sebaliknya. Dia lebih senang belajar dari rumah.
 
"Kalau belajar PJJ lebih enak sih, lebih nyantai. Kalau di sekolah harus bangun pagi, mandi terus ke sekolah. Kalau daring bangun pagi tinggal ke hadapan laptop, belajar," ungkap Zulam.
 
Laptop pun telah diatur sedemikian rupa untuk bisa mengeluarkan suara dan membantu Zulam mengoperasikannya. Saat dikunjungi, Zulam sempat memeragakan bagaimana dia mengerjakan soal esai sekolahnya.
 
Baca: Nadiem: Edukasi Soal Lingkungan dan Perubahan Iklim Masih Minim
 
Zulam mulai menggerakkan kursor dengan keyboard. Tiap baris yang dilewati, maka secara otomatis komputer akan membacakan tulisan yang tertera. Setelahnya, Zulam menekan tombol enter, untuk kemudian mulai menulis jawaban dari soal yang telah dibacakan tadi. Dengan lihai, Zulam mengetik jawaban-jawabannya.
 
Dalam mengetik, Zulam minim kesalahan lantaran telah hafal susunan keyboard. Sistem dalam komputer jinjing milikinya itu pun sudah diatur memberi tahu tombol apa yang diketik Zulam.
 
PJJ semakin dirasa mudah bagi Zulam karena tinggal mendengarkan suara gurunya lewat Zoom, maupun mendengar materi pembelajaran dari YouTube. Zulam tidak perlu banyak bergerak saat hadir secara fisik di sekolah.
 
Namun, ia mengakui masih ada beberapa mata pelajaran yang menjadi kendalanya. Yakni matematika dan bahasa Jepang. "Matematika sulit ngebayangin angka-angkanya. Terus juga bahasa Jepang kan ada tulisan kanji susah itu belajarnya. Sama menggambar juga," tutur Zulam.
 
Beruntung saat terjadi kesusahan, orang tua dan adiknya siap membantu. Zulam lebih sering mengandalkan adiknya saat belajar. Begitu pun dengan guru sekolah. Setelah pembelajaran selesai, Zulam kerap ditanyakan gurunya terkait pemahaman materi.
 
"Kadang tanya sama saya, ada saran enggak Zulam belajarnya bagaimana, biar kamu paham. Atau kalau misal ada keberatan bilang saja. Tapi ya alhamdulillah semua lancar," tutur Zulam.
 
 

Teknologi dan HAM Bagi Pelajar Disabilitas

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket menyatakan, pandemi telah mengubah kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Perubahan itu menimbulkan tekanan dalam banyak hal, terutama terkait adopsi teknologi pembelajaran, yang erat kaitannya dengan hak pendidikan pelajar.
 
"Para manula, perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya di tengah masyarakat, adalah yang paling terdampak covid-19. Kita harus berupaya untuk membantu menemukan solusi inovatif untuk segala bentuk tantangan di Indonesia yang telah diperburuk oleh krisis covid-19,” kata Piket dalam webinar pada siaran youtube EU in Indonesia, Rabu 27 Oktober 2021.
 
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket. Tangkapan layar.
 
Perjuangan Zulam sebagai pelajar di masa ini, tentu adalah dampak pandemi yang dimaksud Piket. Zulam setidaknya menanggung dua beban sekaligus di masa studinya.
 
Baca: Selama Pandemi, Mahasiswa Cenderung Pilih Kuliah di dalam Negeri
 
Pertama, dia harus mengadopsi dan beradaptasi dengan teknologi pembelajaran kekinian. Di lain sisi, dia seharusnya mendapat Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai seorang pelajar untuk akses pendidikan semudah mungkin.
 
Keadilan terhadap hak mengakses pendidikan mesti diberikan kepada semua anak bangsa. Pemerintah tak bisa menutup sebelah mata, jika ada banyak pelajar memiliki keterbatasan seperti Zulam.
 
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan Zulam memiliki beban ganda dalam mengakses pendidikan. Ketimpangan layanan maupun bantuan mengakses PJJ di dunia pendidikan masih sangat kental.
 
“Belum ada intervensi dalam bentuk aksi nyata agar ketimpangan pembelajaran di kalangan siswa menjadi tidak lebar. Harusnya kan di era digital ini ada perhatian khusus agar anak didik kita hebat secara digital juga. Ini yang membuat ketimpangan hak belajar siswa,” kata Retno kepada Medcom.id, Sabtu 21 November 2021.
 
Sementara itu, Pakar Hukum Tata Negara (HTN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Agus Riewanto menyoroti intervensi negara dalam pemenuhan hak pendidikan bagi setiap warga negara.  Terutama pemenuhan hak pendidikan di era pandemi covid-19.
 
 
 
Ia mengatakan, negara harus bertanggung jawab dalam pemenuhan akses pendidikan. Sebab hak atas pendidikan merupakan sarana mutlak meraih HAM.
 
“Hak itu menyatu dalam diri manusia sejak lahir dan bersifat kodrati dan juga alamiah atau natural. Perlu juga adanya jaminan hak-hak tersebut dari negara guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara,” ujar Agus Riewanto dalam keterangannya, Rabu 5 Mei 2021.

Perbandingan dengan Eropa

Peraih gelar S3 Hubungan Internasional di Manchester University, Zulfikar Rakhmat nyaris memiliki cerita dengan Zulam. Tepat 29 tahun lalu, Fikar sapaan karibnya, terlahir dengan kekurangan oksigen pada otaknya. Medis mengistilahkannya dengan ashpyxia neonatal, Fikar mengalami penurunan motorik, bahkan kesulitan menggenggam alat tulis.
 
Atas sakitnya itu, Fikar menjalani studinya sebagai seorang disabilitas. Ketika menjalani studi jenjang SD hingga SMP di Indonesia dia mengaku mendapatkan tindakan perundungan secara intensif dari teman-temannya.
 
Peraih gelar S3 Hubungan Internasional di Manchester University, Zulfikar Rakhmat
Peraih gelar S3 Hubungan Internasional di Manchester University, Zulfikar Rakhmat
 
Namun hal itu berubah ketika dia melanjutkan studinya di Qatar untuk SMA dan S1 karena ikut orang tuanya pindah bekerja. Perundungan seolah dihapuskan dari jalan hidupnya, terlebih ketika dia melanjutkan studi untuk jenjang S2 dan S3.
 
Fikar mendapatkan kesempatan studi di Machester University lewat jalur beasiswa. Di Inggris kata dia, rekan sesama mahasiswa dan masyarakat lebih memahami kondisinya, sehingga hak atas meraih pendidikan sebagai mahasiswa pun terpenuhi.
 
“Manusia itu selalu dihadapkan dengan situasi dan kondisi berbeda-beda, dan ini menjadi tantangan. Sebagai difabel, ya perjuangannya mungkin akan lebih, namun dengan situasi yang mendukung, setelah saya menemukan lingkungan baru teman yang supportif, akhirnya nilai saya sangat baik. Saya lulus dan saya menyelesaikan S3 doktor saya di Manchester University di usia ke 26,” tutup Fikar saat dihubungi Medcom.id, Senin 16 Agustus 2021.
 
(AGA)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif