Fauzul Amni, penyandang disabilitas sedang melakukan pembelajaran didampingi orang tuanya. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.
Fauzul Amni, penyandang disabilitas sedang melakukan pembelajaran didampingi orang tuanya. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.

Lika-Liku Teknologi dan Pemenuhan HAM Pelajar Disabilitas

Pendidikan teknologi penyandang disabilitas anak berkebutuhan khusus Pembelajaran Daring pandemi covid-19
Ilham Pratama Putra • 22 November 2021 10:05
 
Ia mengatakan, negara harus bertanggung jawab dalam pemenuhan akses pendidikan. Sebab hak atas pendidikan merupakan sarana mutlak meraih HAM.
 
“Hak itu menyatu dalam diri manusia sejak lahir dan bersifat kodrati dan juga alamiah atau natural. Perlu juga adanya jaminan hak-hak tersebut dari negara guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara,” ujar Agus Riewanto dalam keterangannya, Rabu 5 Mei 2021.

Perbandingan dengan Eropa

Peraih gelar S3 Hubungan Internasional di Manchester University, Zulfikar Rakhmat nyaris memiliki cerita dengan Zulam. Tepat 29 tahun lalu, Fikar sapaan karibnya, terlahir dengan kekurangan oksigen pada otaknya. Medis mengistilahkannya dengan ashpyxia neonatal, Fikar mengalami penurunan motorik, bahkan kesulitan menggenggam alat tulis.
 
Atas sakitnya itu, Fikar menjalani studinya sebagai seorang disabilitas. Ketika menjalani studi jenjang SD hingga SMP di Indonesia dia mengaku mendapatkan tindakan perundungan secara intensif dari teman-temannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peraih gelar S3 Hubungan Internasional di Manchester University, Zulfikar Rakhmat
Peraih gelar S3 Hubungan Internasional di Manchester University, Zulfikar Rakhmat
 
Namun hal itu berubah ketika dia melanjutkan studinya di Qatar untuk SMA dan S1 karena ikut orang tuanya pindah bekerja. Perundungan seolah dihapuskan dari jalan hidupnya, terlebih ketika dia melanjutkan studi untuk jenjang S2 dan S3.
 
Fikar mendapatkan kesempatan studi di Machester University lewat jalur beasiswa. Di Inggris kata dia, rekan sesama mahasiswa dan masyarakat lebih memahami kondisinya, sehingga hak atas meraih pendidikan sebagai mahasiswa pun terpenuhi.
 
“Manusia itu selalu dihadapkan dengan situasi dan kondisi berbeda-beda, dan ini menjadi tantangan. Sebagai difabel, ya perjuangannya mungkin akan lebih, namun dengan situasi yang mendukung, setelah saya menemukan lingkungan baru teman yang supportif, akhirnya nilai saya sangat baik. Saya lulus dan saya menyelesaikan S3 doktor saya di Manchester University di usia ke 26,” tutup Fikar saat dihubungi Medcom.id, Senin 16 Agustus 2021.
 
(AGA)
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif