FITNESS & HEALTH
Pasangan Dikit-dikit Ngambek? Gini Cara Ngadepin Si 'Bayi Besar'
Yatin Suleha
Senin 29 Juni 2026 / 09:05
- Pernah enggak sih ngelihat orang dewasa yang kelakuannya tiba-tiba kayak anak kecil.
- Setiap orang memiliki kekurangan sekaligus kelebihan, sehingga melihat seseorang secara utuh dapat membantu mengurangi rasa frustrasi.
- Orang dewasa bisa bersikap kekanak-kanakan (childish) karena kurangnya kematangan emosi.
Jakarta: Pernah enggak sih ngelihat orang dewasa yang kelakuannya tiba-tiba kayak anak kecil pas lagi marah, kecewa, atau lagi ngerasa insecure?
Misalnya kayak jadi ngambek, anti banget dikritik, hobi nyalahin orang lain, atau bertindak impulsif.
Hal kayak gini emang sering bikin hubungan sama pasangan atau temen jadi tricky dan ribet. Tapi ingat ya, punya sikap kekanak-kanakan bukan berarti orang itu jahat.
Biasanya, perilaku ini muncul karena mereka lagi merasa tertekan dan belum nemu cara yang lebih sehat buat handle emosinya. Jadi, penting banget buat kita paham cara ngadepinnya biar hubungan tetep adem ayem.
Ketika berhadapan dengan seseorang yang terkadang menunjukkan sikap kekanak-kanakan, salah satu cara yang bisa dilakukan, adalah lebih memerhatikan kualitas positif dan sisi dewasanya.
Setiap orang memiliki kekurangan sekaligus kelebihan, sehingga melihat seseorang secara utuh dapat membantu mengurangi rasa frustrasi, saat perilaku tersebut muncul.
Begitu pula jika menyadari masih memiliki kebiasaan, yang kurang matang secara emosional. Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, lebih baik menghargai kemampuan yang sudah dimiliki, sambil terus belajar memperbaiki area yang masih perlu berkembang.
Sering kali seseorang merasa kesal, karena terus berharap perilaku tertentu tidak akan terulang lagi. Padahal, pola yang sama bisa saja muncul berulang kali, jika belum ada perubahan yang mendasar.
.jpg)
(Orang dewasa bisa bersikap kekanak-kanakan (childish) karena kurangnya kematangan emosi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Menerima bahwa perilaku tersebut memang masih ada, merupakan langkah awal yang penting. Kesadaran ini membantu melihat situasi dengan lebih realistis, dan membuka peluang untuk mencari solusi yang lebih efektif.
Saat menjadi sasaran perilaku yang tidak dewasa, banyak orang langsung berusaha mengubah pasangan, teman, atau anggota keluarga. Namun, upaya tersebut sering kali berakhir dengan kekecewaan, karena perubahan hanya bisa terjadi jika berasal dari kemauan diri sendiri.
Daripada terus berusaha mengendalikan orang lain, lebih bermanfaat untuk memikirkan langkah yang bisa dilakukan, agar situasi tersebut tidak terlalu memengaruhi kehidupan pribadi.
Fokus pada pengembangan diri biasanya memberikan hasil, yang lebih nyata dibandingkan memaksakan perubahan pada orang lain.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Psikolog Susan Heitler, Ph.D., banyak perilaku kekanak-kanakan pada orang dewasa, sebenarnya berhubungan dengan kurangnya keterampilan emosional tertentu.
Oleh karena itu, salah satu cara terbaik untuk berkembang adalah memelajari kemampuan, yang mendukung fungsi emosional yang lebih matang.
Kemampuan seperti mengelola amarah, berkomunikasi dengan tenang, menerima perbedaan pendapat, serta menyelesaikan konflik secara sehat dapat membantu seseorang berfungsi lebih baik, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hubungan dengan orang lain.
Memahami seperti apa perilaku orang dewasa yang sehat, juga membantu seseorang tetap tenang saat menghadapi orang, yang sedang bersikap kekanak-kanakan.
Semakin baik kemampuan mengelola emosi dan merespons situasi dengan bijak, semakin mudah pula untuk tidak ikut terbawa dalam konflik yang tidak perlu.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Misalnya kayak jadi ngambek, anti banget dikritik, hobi nyalahin orang lain, atau bertindak impulsif.
Hal kayak gini emang sering bikin hubungan sama pasangan atau temen jadi tricky dan ribet. Tapi ingat ya, punya sikap kekanak-kanakan bukan berarti orang itu jahat.
Biasanya, perilaku ini muncul karena mereka lagi merasa tertekan dan belum nemu cara yang lebih sehat buat handle emosinya. Jadi, penting banget buat kita paham cara ngadepinnya biar hubungan tetep adem ayem.
Baca Juga :
Dampak Kecelakaan, Ini Tanda Kamu Perlu Psikolog
Fokus pada sisi dewasa yang dimiliki
Ketika berhadapan dengan seseorang yang terkadang menunjukkan sikap kekanak-kanakan, salah satu cara yang bisa dilakukan, adalah lebih memerhatikan kualitas positif dan sisi dewasanya.
Setiap orang memiliki kekurangan sekaligus kelebihan, sehingga melihat seseorang secara utuh dapat membantu mengurangi rasa frustrasi, saat perilaku tersebut muncul.
Begitu pula jika menyadari masih memiliki kebiasaan, yang kurang matang secara emosional. Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, lebih baik menghargai kemampuan yang sudah dimiliki, sambil terus belajar memperbaiki area yang masih perlu berkembang.
Berhenti terkejut dengan pola yang sama
Sering kali seseorang merasa kesal, karena terus berharap perilaku tertentu tidak akan terulang lagi. Padahal, pola yang sama bisa saja muncul berulang kali, jika belum ada perubahan yang mendasar.
.jpg)
(Orang dewasa bisa bersikap kekanak-kanakan (childish) karena kurangnya kematangan emosi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Menerima bahwa perilaku tersebut memang masih ada, merupakan langkah awal yang penting. Kesadaran ini membantu melihat situasi dengan lebih realistis, dan membuka peluang untuk mencari solusi yang lebih efektif.
Jangan terlalu fokus mengubah orang lain
Saat menjadi sasaran perilaku yang tidak dewasa, banyak orang langsung berusaha mengubah pasangan, teman, atau anggota keluarga. Namun, upaya tersebut sering kali berakhir dengan kekecewaan, karena perubahan hanya bisa terjadi jika berasal dari kemauan diri sendiri.
Daripada terus berusaha mengendalikan orang lain, lebih bermanfaat untuk memikirkan langkah yang bisa dilakukan, agar situasi tersebut tidak terlalu memengaruhi kehidupan pribadi.
Fokus pada pengembangan diri biasanya memberikan hasil, yang lebih nyata dibandingkan memaksakan perubahan pada orang lain.
Pelajari keterampilan emosional orang dewasa
Dilansir dari Psychology Today, menurut Psikolog Susan Heitler, Ph.D., banyak perilaku kekanak-kanakan pada orang dewasa, sebenarnya berhubungan dengan kurangnya keterampilan emosional tertentu.
Oleh karena itu, salah satu cara terbaik untuk berkembang adalah memelajari kemampuan, yang mendukung fungsi emosional yang lebih matang.
Kemampuan seperti mengelola amarah, berkomunikasi dengan tenang, menerima perbedaan pendapat, serta menyelesaikan konflik secara sehat dapat membantu seseorang berfungsi lebih baik, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hubungan dengan orang lain.
Baca Juga :
Rahasia di Balik Bumil yang Gampang Ngompol
Tetap bersikap dewasa dalam situasi sulit
Memahami seperti apa perilaku orang dewasa yang sehat, juga membantu seseorang tetap tenang saat menghadapi orang, yang sedang bersikap kekanak-kanakan.
Semakin baik kemampuan mengelola emosi dan merespons situasi dengan bijak, semakin mudah pula untuk tidak ikut terbawa dalam konflik yang tidak perlu.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)