FAMILY
Libur Sekolah Bikin Anak Mager? Psikolog Ungkap Cara Agar Tetap Aktif Tanpa Dipaksa
A. Firdaus
Sabtu 27 Juni 2026 / 08:10
- Ketika rutinitas belajar terhenti, anak justru rentan terjebak dalam kebiasaan pasif.
- Pedoman kesehatan dari WHO sangat menganjurkan agar anak usia sekolah tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.
- Psikolog mengajak kita untuk secara perlahan mengurai rasa cemas tersebut.
Jakarta: Musim liburan sekolah sering kali membawa dilema tersendiri bagi para orang tua. Ketika rutinitas belajar terhenti, anak justru rentan terjebak dalam kebiasaan pasif.
Para ahli kerap menyebut fenomena ini dengan istilah Structured Days Hypothesis, di mana absennya jadwal teratur membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu tanpa bergerak. Buktinya pun cukup dekat dengan keseharian kita.
Sejumlah studi dan survei terbaru mencatat bahwa saat libur panjang tiba, durasi screen time anak melonjak signifikan hingga mencapai dua setengah jam setiap harinya. Pada saat yang sama, aktivitas fisik dan waktu tidur mereka justru merosot.
Padahal, pedoman kesehatan dari WHO sangat menganjurkan agar anak usia sekolah tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.
Sebagai ibu, niat hati tentu ingin mengajak si kecil bermain di luar rumah, menghirup udara segar, dan bebas bereksplorasi. Namun, naluri protektif keibuan kerap kali mendadak menyala.
Selalu ada selip rasa waswas saat melihat anak berpanas-panasan, karena takut mereka kelelahan, daya tahan tubuhnya menurun, hingga berujung drop atau sakit.
Menjawab kegelisahan para ibu, Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, mengajak kita untuk secara perlahan mengurai rasa cemas tersebut.
"Menyiasati liburan dengan segudang jadwal les tambahan justru bukan jalan keluar yang pas," ujar Saskhya dalam acara 'Community Playdate: Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak" yang digelar oleh Cap Kaki Tiga Anak.
Bukannya membuat anak menjadi produktif, hal itu malah merampas ruang otonominya. Padahal, waktu luang yang bebas aturan, bahkan momen saat mereka mengeluh bosan, tanpa disadari menjadi ruang emas untuk memantik kreativitas dan melatih cara berpikir mereka.
"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," papar Saskhya.
Lewat permainan inilah, anak belajar langsung bagaimana menghadapi ketidakpastian, bangkit saat terjatuh, dan berani mengambil keputusan sendiri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Para ahli kerap menyebut fenomena ini dengan istilah Structured Days Hypothesis, di mana absennya jadwal teratur membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu tanpa bergerak. Buktinya pun cukup dekat dengan keseharian kita.
Sejumlah studi dan survei terbaru mencatat bahwa saat libur panjang tiba, durasi screen time anak melonjak signifikan hingga mencapai dua setengah jam setiap harinya. Pada saat yang sama, aktivitas fisik dan waktu tidur mereka justru merosot.
Padahal, pedoman kesehatan dari WHO sangat menganjurkan agar anak usia sekolah tetap aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.
Sebagai ibu, niat hati tentu ingin mengajak si kecil bermain di luar rumah, menghirup udara segar, dan bebas bereksplorasi. Namun, naluri protektif keibuan kerap kali mendadak menyala.
Selalu ada selip rasa waswas saat melihat anak berpanas-panasan, karena takut mereka kelelahan, daya tahan tubuhnya menurun, hingga berujung drop atau sakit.
Menyiasati liburan sekolah
Menjawab kegelisahan para ibu, Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, mengajak kita untuk secara perlahan mengurai rasa cemas tersebut.
"Menyiasati liburan dengan segudang jadwal les tambahan justru bukan jalan keluar yang pas," ujar Saskhya dalam acara 'Community Playdate: Eksplorasi Tanpa Rasa Khawatir, Langkah Awal #BaikUntukAnak" yang digelar oleh Cap Kaki Tiga Anak.
Bukannya membuat anak menjadi produktif, hal itu malah merampas ruang otonominya. Padahal, waktu luang yang bebas aturan, bahkan momen saat mereka mengeluh bosan, tanpa disadari menjadi ruang emas untuk memantik kreativitas dan melatih cara berpikir mereka.
"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," papar Saskhya.
Lewat permainan inilah, anak belajar langsung bagaimana menghadapi ketidakpastian, bangkit saat terjatuh, dan berani mengambil keputusan sendiri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)