KULINER
Anak-anak Sekarang Pilih Camilan yang Fun, Bukan Cuma Enak
A. Firdaus
Sabtu 27 Juni 2026 / 10:09
- Camilan bukan hanya soal rasa yang enak, tetapi juga pengalaman yang menyenangkan, kualitas produk, hingga edukasi mengenai pola konsumsi yang seimbang.
- Kebiasaan ngemil anak-anak di berbagai negara, ternyata memiliki banyak kesamaan.
- Riset global yang memotret kebiasaan masyarakat dunia dalam mengonsumsi camilan, termasuk di Indonesia.
Jakarta: Ngemil sudah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga. Namun kini, camilan bukan hanya soal rasa yang enak, tetapi juga pengalaman yang menyenangkan, kualitas produk, hingga edukasi mengenai pola konsumsi yang seimbang.
Hal inilah yang menjadi fokus PT Mondelez Indonesia Manufacturing, dalam mengembangkan berbagai produk camilannya.
Kebiasaan ngemil anak-anak di berbagai negara, ternyata memiliki banyak kesamaan. Anak-anak menyukai camilan yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki bentuk menarik dan menghadirkan pengalaman, yang menyenangkan saat disantap.
"Kalau anak-anak, yang pasti mereka suka sesuatu yang menyenangkan, bentuknya menarik, dan membuat mereka ingin menikmatinya lagi. Bukan sekadar camilan biasa, tapi pengalaman yang seru saat memakannya," ujar Rosleri Yanti, Director PT Mondelez Indonesia Manufacturing saat Wawancara Ekslusif di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Bekasi, Rabu (24/06/26).
Menurutnya, konsep tersebut diterapkan dalam pengembangan produk Oreo. Mulai dari ukuran biskuit yang dibuat praktis, hingga cara menikmatinya, seperti dijilat, dicelupkan ke susu, lalu dimakan, sehingga aktivitas ngemil terasa lebih menyenangkan.
Yanti menjelaskan, karena Oreo merupakan merek global, tren konsumsi di berbagai negara juga terus dipelajari bersama.
"Kami adalah global brand, jadi kami bersama-sama memahami perilaku konsumen di masing-masing negara, agar produk yang dikembangkan tetap relevan," katanya.
Untuk memahami perubahan tren tersebut, Mondelez memiliki State of Snacking Report, yaitu riset global yang memotret kebiasaan masyarakat dunia dalam mengonsumsi camilan, termasuk di Indonesia.
Laporan tersebut menunjukkan berbagai perubahan perilaku konsumen. Mulai dari meningkatnya minat terhadap produk, yang menggunakan bahan baku terpercaya, kecenderungan membeli camilan melalui e-commerce, hingga munculnya rasa nostalgia terhadap camilan yang sudah dikenal sejak kecil.
Oleh karena itu, Mondelez juga menghadirkan berbagai kolaborasi dengan karakter maupun budaya populer, agar tetap dekat dengan anak-anak. Mulai dari karakter film seperti Pokémon dan Shrek, hingga kolaborasi dengan Blackpink dan BTS yang sedang digemari.
Selain mengikuti tren, Yanti menegaskan kualitas tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Produk yang dipasarkan, harus memenuhi standar keamanan pangan dan bebas dari kontaminasi.
"Kualitas nomor satu. Kami tidak mau menghasilkan produk yang jelek ataupun terkontaminasi. Semua produk harus memenuhi standar yang berlaku," ujar Yanti.
Ia menjelaskan, setiap negara memiliki regulasi yang berbeda, termasuk mengenai kandungan gula maupun standar keamanan pangan. Oleh karena itu, tim riset perusahaan selalu memastikan seluruh produk memenuhi ketentuan di negara tujuan.
"Tim riset kami mempelajari batasan di setiap negara. Produksi kami harus memenuhi seluruh persyaratan tersebut, sehingga produk bisa diterima di masing-masing negara," jelasnya.
Tak hanya menghadirkan produk, Mondelez juga berupaya mengedukasi masyarakat, mengenai konsumsi camilan secara bijak.
Informasi mengenai jumlah porsi yang dianjurkan sudah dicantumkan pada kemasan, sehingga konsumen dapat mengetahui batas konsumsi yang disarankan setiap hari.
"Kami tidak hanya ingin produk dibeli sebanyak-banyaknya, tetapi juga mengedukasi konsumen, agar mengetahui berapa porsi yang cukup dikonsumsi. Informasi itu kami tampilkan secara terbuka," kata Yanti.
Selain melalui kemasan, Mondelez juga menjalankan kampanye "Ngemil Bijak", yang mengajak masyarakat mengenali sinyal tubuh sebelum memilih camilan.
Melalui kampanye tersebut, masyarakat diajak memahami kapan benar-benar merasa lapar, mengenali keinginan mengonsumsi makanan tertentu, hingga menentukan porsi yang sesuai.
"Kami ingin masyarakat tahu apa yang dimakan, kapan waktu yang tepat untuk makan, mengenali sinyal tubuh, lalu menentukan porsi yang cukup. Jadi bukan sekadar ngemil, tetapi ngemil dengan bijak," tutup Yanti.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Hal inilah yang menjadi fokus PT Mondelez Indonesia Manufacturing, dalam mengembangkan berbagai produk camilannya.
Kebiasaan ngemil anak-anak di berbagai negara, ternyata memiliki banyak kesamaan. Anak-anak menyukai camilan yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki bentuk menarik dan menghadirkan pengalaman, yang menyenangkan saat disantap.
Baca Juga :
Lapar saat Begadang Nonton Bola? Dokter Ungkap Camilan yang Bikin Kenyang Tanpa Bikin Ngantuk
"Kalau anak-anak, yang pasti mereka suka sesuatu yang menyenangkan, bentuknya menarik, dan membuat mereka ingin menikmatinya lagi. Bukan sekadar camilan biasa, tapi pengalaman yang seru saat memakannya," ujar Rosleri Yanti, Director PT Mondelez Indonesia Manufacturing saat Wawancara Ekslusif di PT Mondelez Indonesia Manufacturing, Bekasi, Rabu (24/06/26).
Menurutnya, konsep tersebut diterapkan dalam pengembangan produk Oreo. Mulai dari ukuran biskuit yang dibuat praktis, hingga cara menikmatinya, seperti dijilat, dicelupkan ke susu, lalu dimakan, sehingga aktivitas ngemil terasa lebih menyenangkan.
Yanti menjelaskan, karena Oreo merupakan merek global, tren konsumsi di berbagai negara juga terus dipelajari bersama.
"Kami adalah global brand, jadi kami bersama-sama memahami perilaku konsumen di masing-masing negara, agar produk yang dikembangkan tetap relevan," katanya.
Riset global ungkap 0erubahan kebiasaan konsumen
Untuk memahami perubahan tren tersebut, Mondelez memiliki State of Snacking Report, yaitu riset global yang memotret kebiasaan masyarakat dunia dalam mengonsumsi camilan, termasuk di Indonesia.
Laporan tersebut menunjukkan berbagai perubahan perilaku konsumen. Mulai dari meningkatnya minat terhadap produk, yang menggunakan bahan baku terpercaya, kecenderungan membeli camilan melalui e-commerce, hingga munculnya rasa nostalgia terhadap camilan yang sudah dikenal sejak kecil.
Oleh karena itu, Mondelez juga menghadirkan berbagai kolaborasi dengan karakter maupun budaya populer, agar tetap dekat dengan anak-anak. Mulai dari karakter film seperti Pokémon dan Shrek, hingga kolaborasi dengan Blackpink dan BTS yang sedang digemari.
Kualitas produk jadi prioritas utama
Selain mengikuti tren, Yanti menegaskan kualitas tetap menjadi prioritas utama perusahaan. Produk yang dipasarkan, harus memenuhi standar keamanan pangan dan bebas dari kontaminasi.
"Kualitas nomor satu. Kami tidak mau menghasilkan produk yang jelek ataupun terkontaminasi. Semua produk harus memenuhi standar yang berlaku," ujar Yanti.
Ia menjelaskan, setiap negara memiliki regulasi yang berbeda, termasuk mengenai kandungan gula maupun standar keamanan pangan. Oleh karena itu, tim riset perusahaan selalu memastikan seluruh produk memenuhi ketentuan di negara tujuan.
"Tim riset kami mempelajari batasan di setiap negara. Produksi kami harus memenuhi seluruh persyaratan tersebut, sehingga produk bisa diterima di masing-masing negara," jelasnya.
Edukasi konsumsi bijak lewat portion control
Tak hanya menghadirkan produk, Mondelez juga berupaya mengedukasi masyarakat, mengenai konsumsi camilan secara bijak.
Informasi mengenai jumlah porsi yang dianjurkan sudah dicantumkan pada kemasan, sehingga konsumen dapat mengetahui batas konsumsi yang disarankan setiap hari.
"Kami tidak hanya ingin produk dibeli sebanyak-banyaknya, tetapi juga mengedukasi konsumen, agar mengetahui berapa porsi yang cukup dikonsumsi. Informasi itu kami tampilkan secara terbuka," kata Yanti.
Selain melalui kemasan, Mondelez juga menjalankan kampanye "Ngemil Bijak", yang mengajak masyarakat mengenali sinyal tubuh sebelum memilih camilan.
Melalui kampanye tersebut, masyarakat diajak memahami kapan benar-benar merasa lapar, mengenali keinginan mengonsumsi makanan tertentu, hingga menentukan porsi yang sesuai.
"Kami ingin masyarakat tahu apa yang dimakan, kapan waktu yang tepat untuk makan, mengenali sinyal tubuh, lalu menentukan porsi yang cukup. Jadi bukan sekadar ngemil, tetapi ngemil dengan bijak," tutup Yanti.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)