FAMILY

Punya Banyak Teman Belum Tentu Jago Berteman, Kok Bisa?

A. Firdaus
Sabtu 27 Juni 2026 / 07:13
Ringkasnya gini..
  • Di balik interaksi yang terlihat setiap hari, masih banyak anak yang kesulitan memahami perasaan temannya.
  • Tak heran jika persoalan pertemanan menjadi salah satu topik yang paling sering dibahas orang tua, ketika berbicara mengenai tumbuh kembang anak.
  • Kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan, memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar memiliki teman bermain.
Jakarta: Memiliki banyak teman di sekolah, sering kali dianggap sebagai tanda bahwa anak sudah memiliki kemampuan sosial yang baik. 

Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Di balik interaksi yang terlihat setiap hari, masih banyak anak yang kesulitan memahami perasaan temannya, menyelesaikan konflik, atau mempertahankan hubungan yang sehat dalam jangka panjang. 

Tak heran jika persoalan pertemanan menjadi salah satu topik yang paling sering dibahas orang tua, ketika berbicara mengenai tumbuh kembang anak. Namun, banyak pula yang beranggapan bahwa kemampuan berteman akan berkembang dengan sendirinya, seiring bertambahnya usia.
 

Padahal, proses tersebut membutuhkan pengalaman, latihan, dan pendampingan agar anak benar-benar mampu membangun hubungan, yang positif dengan orang lain.
 

Interaksi setiap hari belum tentu cukup


Anggapan bahwa keterampilan berteman akan muncul secara alami, biasanya muncul karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama teman sebaya, baik di sekolah maupun lingkungan bermain.

Dengan sering bertemu dan berinteraksi, banyak orang berharap anak akan memahami sendiri cara memulai pertemanan, menjaga hubungan, hingga menyelesaikan masalah yang muncul. Dalam banyak situasi, hal tersebut memang bisa terjadi.

Namun, perkembangan kemampuan sosial tidak selalu berjalan semudah itu. Anak-anak masa kini justru memiliki kesempatan, yang lebih terbatas untuk belajar bersosialisasi secara alami, dibandingkan generasi orang tua mereka. 

Perubahan gaya hidup, aktivitas yang lebih terstruktur, hingga berkurangnya waktu bermain bebas membuat proses belajar menjalin hubungan, tidak lagi tidak lagi berlangsung secara otomatis.
 

Persahabatan adalah keterampilan yang dipelajari


Dilansir dari Psychology Today menurut Pamela D. Brown, Ph.D., seorang psikolog berlisensi, psikolog sekolah bersertifikat, dan konselor profesional berlisensi dengan pengalaman profesional lebih dari 20 tahun, persahabatan bukan hanya soal menemukan teman yang cocok. 

Hal itu dikarenakan didalamnya terdapat proses memahami perbedaan, menghadapi kesalahpahaman, mengendalikan emosi, serta memperbaiki hubungan ketika terjadi konflik. 

Anak sering kali salah menangkap maksud temannya, bereaksi secara spontan saat emosi, atau tanpa sadar ikut memperburuk situasi yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik.

Oleh karena itu, kemampuan menjalin persahabatan merupakan keterampilan yang perlu dipelajari, bukan sekadar pengalaman yang datang begitu saja. Anak membutuhkan waktu untuk memahami cara menghadapi berbagai dinamika hubungan sosial, agar mampu membangun pertemanan yang sehat dan bertahan lama.
 

Dampak besar bagi kehidupan anak


Kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan, memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar memiliki teman bermain. 

Anak yang mampu menjalin relasi dengan baik, akan lebih mudah menghadapi tekanan, memperoleh dukungan ketika mengalami kesulitan, menemukan sudut pandang baru dalam menyelesaikan masalah, serta memiliki jaringan sosial yang dapat diandalkan, ketika menghadapi tantangan di masa depan. 
 

Keterampilan sosial tumbuh lewat pengalaman


Meski kemampuan bersosialisasi berkembang secara bertahap, proses tersebut tidak terjadi begitu saja. Anak belajar melalui pengalaman langsung, seperti mengamati perilaku orang lain, berinteraksi secara berulang, mencoba berbagai cara berkomunikasi, hingga menerima respons dari lingkungan sekitarnya. 

Semua pengalaman itu menjadi fondasi yang membantu anak memahami orang lain, menjaga hubungan, serta membangun persahabatan yang sehat hingga dewasa.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH