FAMILY
Anak Hobi Main Game Online? Ini 6 Cara Bikin Mereka Tetap Aman di Dunia Digital
A. Firdaus
Jumat 26 Juni 2026 / 10:15
- Mulai dari Roblox, Minecraft, sampai Fortnite, semuanya bukan cuma tempat bermain, tapi juga jadi ruang untuk ngobrol dan bersosialisasi.
- Ancaman seperti perundungan, kontak dari orang asing, hingga paparan konten tidak pantas bisa muncul kapan saja.
- Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, untuk membantu anak tetap aman saat bermain game online, tanpa harus langsung melarang mereka bermain.
Jakarta: Game online sekarang jadi bagian dari keseharian banyak anak dan remaja. Mulai dari Roblox, Minecraft, sampai Fortnite, semuanya bukan cuma tempat bermain, tapi juga jadi ruang untuk ngobrol dan bersosialisasi. Meski seru dan bisa melatih kerja sama, dunia game online tetap punya risiko yang perlu diperhatikan orang tua.
Ancaman seperti perundungan, kontak dari orang asing, hingga paparan konten tidak pantas bisa muncul kapan saja. Oleh karena itu, penting untuk membangun komunikasi, yang terbuka dan membuat anak merasa aman, saat bercerita tentang pengalaman mereka selama bermain game.
Orang tua memang tidak bisa mengawasi semuanya setiap waktu. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, untuk membantu anak tetap aman saat bermain game online, tanpa harus langsung melarang mereka bermain. Dilansir dari Parents, berikut adalah cara mengontrol anak bermain game.
Aplikasi seperti Kidas dapat membantu memantau komunikasi teks, maupun suara dalam game dan memberi peringatan jika ada potensi ancaman. Langkah ini penting karena laporan dari Prodigy Education, menunjukkan 57% anak dinilai belum siap menghadapi kontak online yang tidak pantas.
Pembahasan tentang bahaya dunia digital memang kadang terasa canggung, tapi tetap penting dilakukan. Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan Chief Parent Officer di Bark Technologies, menyarankan orang tua mengajak anak berpikir lewat pertanyaan seperti:
• “Apa yang akan kamu lakukan jika seorang orang asing di Roblox menawarkan Robux, sebagai imbalan atas foto dirimu?”
• “Apakah menurutmu semua orang di aplikasi obrolan adalah siapa yang mereka katakan?”
Anak perlu tahu bahwa mereka bisa datang ke orang tua tanpa takut dimarahi. Kalimat seperti, “Aku selalu ada di sini untuk melindungimu dan akan selalu berada di pihakmu. Apa pun yang terjadi, aku mencintaimu, dan kita akan mengatasi semuanya bersama-sama,” bisa membantu anak merasa lebih nyaman untuk terbuka.
Menurut Laura Ordoñez, eksekutif editor di Common Sense Media, bermain game bersama anak membantu orang tua memahami lingkungan game, sekaligus melihat langsung interaksi yang terjadi di dalamnya. Dari situ, obrolan soal keamanan online juga terasa lebih santai dan natural.
Daripada memasang pembatasan diam-diam, lebih baik ajak anak berdiskusi soal pengaturan privasi dan keamanan. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa aturan tersebut dibuat untuk melindungi mereka, bukan sekadar membatasi.
Ajarkan cara memblokir atau melaporkan pengguna yang mencurigakan. Melissa Stroebel, wakil presiden bidang penelitian dan wawasan di Thorn, mengatakan bahwa latihan seperti ini, bisa membuat anak lebih siap menghadapi situasi tidak nyaman tanpa panik.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Ancaman seperti perundungan, kontak dari orang asing, hingga paparan konten tidak pantas bisa muncul kapan saja. Oleh karena itu, penting untuk membangun komunikasi, yang terbuka dan membuat anak merasa aman, saat bercerita tentang pengalaman mereka selama bermain game.
Orang tua memang tidak bisa mengawasi semuanya setiap waktu. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, untuk membantu anak tetap aman saat bermain game online, tanpa harus langsung melarang mereka bermain. Dilansir dari Parents, berikut adalah cara mengontrol anak bermain game.
Baca Juga :
Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
1. Gunakan fitur keamanan dan parental control
Aplikasi seperti Kidas dapat membantu memantau komunikasi teks, maupun suara dalam game dan memberi peringatan jika ada potensi ancaman. Langkah ini penting karena laporan dari Prodigy Education, menunjukkan 57% anak dinilai belum siap menghadapi kontak online yang tidak pantas.
2. Ajak anak ngobrol soal risiko online
Pembahasan tentang bahaya dunia digital memang kadang terasa canggung, tapi tetap penting dilakukan. Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan Chief Parent Officer di Bark Technologies, menyarankan orang tua mengajak anak berpikir lewat pertanyaan seperti:
• “Apa yang akan kamu lakukan jika seorang orang asing di Roblox menawarkan Robux, sebagai imbalan atas foto dirimu?”
• “Apakah menurutmu semua orang di aplikasi obrolan adalah siapa yang mereka katakan?”
3. Jadi tempat aman untuk bercerita
Anak perlu tahu bahwa mereka bisa datang ke orang tua tanpa takut dimarahi. Kalimat seperti, “Aku selalu ada di sini untuk melindungimu dan akan selalu berada di pihakmu. Apa pun yang terjadi, aku mencintaimu, dan kita akan mengatasi semuanya bersama-sama,” bisa membantu anak merasa lebih nyaman untuk terbuka.
4. Sesekali ikut main bersama anak
Menurut Laura Ordoñez, eksekutif editor di Common Sense Media, bermain game bersama anak membantu orang tua memahami lingkungan game, sekaligus melihat langsung interaksi yang terjadi di dalamnya. Dari situ, obrolan soal keamanan online juga terasa lebih santai dan natural.
5. Libatkan anak saat mengatur kontrol orang tua
Daripada memasang pembatasan diam-diam, lebih baik ajak anak berdiskusi soal pengaturan privasi dan keamanan. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa aturan tersebut dibuat untuk melindungi mereka, bukan sekadar membatasi.
6. Buat rencana keamanan bersama
Ajarkan cara memblokir atau melaporkan pengguna yang mencurigakan. Melissa Stroebel, wakil presiden bidang penelitian dan wawasan di Thorn, mengatakan bahwa latihan seperti ini, bisa membuat anak lebih siap menghadapi situasi tidak nyaman tanpa panik.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)