FAMILY

Biar Nggak Begadang Terus, Ini 8 Cara Bantu Bayi Atasi Sleep Regression

A. Firdaus
Rabu 12 Agustus 2026 / 13:16
Ringkasnya gini..
  • Salah satu penyebabnya bisa berupa sleep regression atau regresi tidur.
  • Regresi tidur dapat muncul pada berbagai tahap perkembangan.
  • Regresi tidur biasanya merupakan fase yang dapat berlalu.
Jakarta: Si kecil yang sebelumnya bisa tidur nyenyak tiba-tiba sering terbangun atau sulit tidur sendiri? Kondisi ini bisa membuat orang tua ikut lelah, apalagi jika terjadi berulang kali setiap malam.

Salah satu penyebabnya bisa berupa sleep regression atau regresi tidur. Kondisi ini merupakan periode ketika pola tidur bayi atau balita mengalami perubahan setelah sebelumnya relatif stabil.

Regresi tidur dapat muncul pada berbagai tahap perkembangan. Salah satu periode yang cukup sering dibahas adalah sekitar usia 4 bulan. Perkembangan kemampuan baru, seperti mulai berguling, merangkak, atau belajar berdiri, perubahan rutinitas, hingga lingkungan yang kurang nyaman dapat memengaruhi pola tidur anak.
Kabar baiknya, fase ini biasanya tidak berlangsung selamanya. Orang tua dapat membantu si kecil melewatinya dengan membangun kebiasaan tidur yang konsisten.

Dilansir dari BabyCenter, berikut beberapa cara yang dapat dicoba.
 

1. Bangun Rutinitas Sebelum Tidur


Rutinitas yang dilakukan berulang setiap malam dapat menjadi sinyal bagi anak bahwa waktunya tidur sudah dekat.

Orang tua bisa membuat rutinitas sederhana, seperti memandikan anak, mengenakan piyama, membaca buku cerita, menyanyikan lagu, kemudian mengucapkan selamat malam.

Tidak perlu terlalu panjang. Yang penting, lakukan dengan konsisten dan suasana yang tenang.
 

2. Letakkan Bayi Saat Masih Mengantuk


Jika memungkinkan, biasakan meletakkan bayi di tempat tidurnya ketika sudah mengantuk tetapi masih terjaga.

Cara ini membantu bayi belajar tertidur di tempat tidurnya sendiri, bukan selalu bergantung pada menyusu, digendong, atau digoyang hingga tertidur.

Namun, respons setiap bayi tentu berbeda. Orang tua tetap perlu menyesuaikan cara menenangkan si kecil dengan usia dan kebutuhannya.
 

3. Jangan Langsung Menggendong


Ketika bayi mulai menangis atau merengek, orang tua tidak harus selalu langsung menggendongnya.

Beri waktu sebentar untuk melihat apakah bayi dapat menenangkan diri. Jika tetap membutuhkan bantuan, orang tua bisa mencoba menenangkan dengan suara lembut atau sentuhan ringan.

Metode menenangkan bayi perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak. Jangan membiarkan bayi menangis jika ada kemungkinan ia lapar, sakit, tidak nyaman, atau membutuhkan pertolongan.
 

4. Bikin Suasana Malam Tetap Tenang


Bayi perlu belajar membedakan siang dan malam. Salah satu caranya dengan membuat suasana malam lebih tenang dan minim stimulasi.

Jika harus mengganti popok atau memberikan susu, lakukan seperlunya. Hindari mengajak bermain atau membuat suasana terlalu ramai.

Gunakan pencahayaan yang redup dan suara yang lembut agar bayi lebih mudah kembali mengantuk.
 

5. Konsisten dengan Rutinitas


Rutinitas tidur akan lebih mudah terbentuk jika semua orang yang merawat anak menerapkan aturan yang sama.

Pastikan pasangan, pengasuh, maupun anggota keluarga yang membantu merawat si kecil mengetahui rutinitas sebelum tidur.

Jika rutinitas sempat berantakan karena anak sakit atau bepergian, tidak perlu panik. Setelah kondisi kembali normal, perlahan kembalikan rutinitas tidur seperti sebelumnya.
 

6. Evaluasi Kebutuhan Menyusu di Malam Hari


Pada usia tertentu, sebagian bayi sudah mampu mendapatkan kebutuhan nutrisinya terutama pada siang hari sehingga tidak selalu membutuhkan pemberian susu sepanjang malam.

Namun, kebutuhan setiap bayi berbeda. Orang tua sebaiknya tidak langsung menghentikan pemberian susu malam tanpa mempertimbangkan usia, pertumbuhan, kebutuhan nutrisi, dan kondisi kesehatan anak.

Jika ingin mulai mengurangi pemberian susu pada malam hari, diskusikan terlebih dahulu dengan dokter anak, terutama pada bayi yang masih kecil.
 

7. Pastikan Kamar Nyaman dan Aman


Lingkungan tidur juga bisa memengaruhi kualitas tidur anak.

Pastikan kamar tidak terlalu panas atau terlalu dingin dan minim gangguan seperti suara bising maupun cahaya yang terlalu terang.

Jika menggunakan white noise, letakkan perangkat jauh dari tempat tidur bayi dan pastikan volumenya tidak terlalu keras.

Yang tak kalah penting, tetap terapkan prinsip tidur aman. Bayi sebaiknya tidur telentang di permukaan yang rata dan kokoh, tanpa bantal, selimut longgar, bumper, atau benda lain yang dapat meningkatkan risiko terhambatnya pernapasan.
 

8. Hati-Hati Memberikan Mainan Kesayangan


Anak yang lebih besar atau balita mungkin mulai memiliki selimut atau mainan favorit yang membuatnya merasa nyaman saat tidur.

Namun, untuk bayi di bawah usia 1 tahun, sebaiknya jangan menaruh boneka, selimut longgar, atau benda lain di area tidur karena dapat meningkatkan risiko tersedak atau terhambatnya pernapasan.

Jika si kecil masih bayi, cukup gunakan tempat tidur dengan permukaan yang rata dan kokoh tanpa benda tambahan.
 

Sleep Regression Memang Bikin Lelah, Tapi Bisa Dilewati


Menghadapi bayi yang tiba-tiba sulit tidur memang bukan perkara mudah. Orang tua bisa ikut kelelahan karena waktu istirahat berkurang.

Namun, regresi tidur biasanya merupakan fase yang dapat berlalu. Kuncinya adalah menjaga rutinitas tetap konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan aman, serta memahami kebutuhan si kecil.

Jika perubahan pola tidur berlangsung lama, sangat drastis, atau disertai gejala seperti demam, sulit bernapas, nyeri, atau perubahan perilaku yang mengkhawatirkan, jangan menganggapnya sekadar sleep regression. Konsultasikan kondisi anak dengan dokter untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan yang mendasarinya.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH