FAMILY
Bayi Sering Bangun Tengah Malam? Kenali Sleep Regression dan Red Flag-nya
A. Firdaus
Rabu 12 Agustus 2026 / 13:11
- Sleep regression merupakan periode ketika pola tidur anak yang sebelumnya sudah cukup baik tiba-tiba mengalami perubahan.
- Ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat membuat tidur bayi terganggu
- Perubahan pola tidur memang bisa menjadi bagian dari perkembangan normal bayi.
Jakarta: Si kecil yang sebelumnya bisa tidur nyenyak tiba-tiba sering terbangun tengah malam? Kondisi ini tentu bisa bikin orang tua ikut kurang tidur. Namun, jangan langsung panik. Perubahan pola tidur pada bayi dan balita bisa menjadi bagian normal dari proses tumbuh kembang yang dikenal sebagai sleep regression.
Sleep regression merupakan periode ketika pola tidur anak yang sebelumnya sudah cukup baik tiba-tiba mengalami perubahan. Bayi bisa menjadi lebih sulit tidur, lebih sering terbangun pada malam hari, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tidur.
Kondisi ini umumnya berlangsung sekitar dua hingga enam minggu. Setelah melewati fase tersebut, pola tidur anak biasanya akan kembali membaik.
Setiap anak juga bisa mengalami sleep regression dengan cara yang berbeda. Ada yang hanya mengalaminya dalam waktu singkat, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali memiliki pola tidur yang teratur.
Orang tua dapat membantu si kecil dengan mempertahankan rutinitas yang konsisten, misalnya waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari.
Namun, perubahan pola tidur tidak selalu disebabkan sleep regression. Dalam beberapa kasus, bayi yang mendadak sering terbangun justru sedang mengalami masalah kesehatan.
Jika bayi yang biasanya tidur nyenyak tiba-tiba terbangun berkali-kali dalam semalam selama beberapa hari, orang tua sebaiknya memperhatikan kondisi lainnya.
Misalnya, apakah bayi mengalami demam, batuk, terlihat kesakitan, sulit bernapas, atau menunjukkan gejala lain yang tidak biasa.
Dilansir dari BabyCenter, ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat membuat tidur bayi terganggu dan perlu mendapat perhatian.
Demam atau rasa tidak nyaman akibat penyakit tertentu dapat membuat bayi lebih sering terbangun pada malam hari.
Infeksi telinga, gangguan pencernaan, hingga rasa tidak nyaman saat tumbuh gigi dapat mengganggu kualitas tidur si kecil.
Jika perubahan tidur disertai gejala penyakit lainnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Bayi memang dapat memiliki pola pernapasan yang belum teratur. Pada bayi di bawah usia 6 bulan, misalnya, jeda napas singkat selama beberapa detik dapat terjadi.
Namun, orang tua perlu lebih waspada jika bayi tampak kesulitan bernapas ketika tidur, bernapas atau mendengkur dengan suara keras, atau mengalami jeda napas yang berlangsung lama.
Jika bayi berhenti bernapas selama sekitar 20 detik atau lebih, atau terbangun dalam kondisi tersedak dan muntah, segera konsultasikan dengan dokter.
Masalah lain yang dapat mengganggu tidur bayi adalah refluks gastroesofageal. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Pada bayi, refluks dapat menyebabkan mereka lebih sering memuntahkan susu atau terlihat tidak nyaman, terutama ketika berbaring.
Jika bayi sering muntah atau memuntahkan susu dalam jumlah banyak dan kondisi tersebut mengganggu tidur atau aktivitasnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Perubahan pola tidur memang bisa menjadi bagian dari perkembangan normal bayi. Namun, orang tua tetap perlu melihat kondisi si kecil secara keseluruhan.
Jika bayi yang biasanya tidur selama beberapa jam tiba-tiba terbangun setiap jam, misalnya, coba perhatikan apakah ada tanda lain seperti demam, batuk, nyeri, muntah, atau gangguan pernapasan.
Dokter dapat membantu mencari penyebab perubahan pola tidur sekaligus memberikan saran agar bayi kembali nyaman.
Jadi, sleep regression memang bisa menjadi fase yang bikin orang tua kelelahan, tetapi biasanya tidak berlangsung selamanya. Dengan rutinitas tidur yang konsisten dan pemantauan terhadap kondisi kesehatan si kecil, orang tua dapat membantu melewati fase ini dengan lebih tenang.
Yang terpenting, jangan abaikan perubahan tidur yang berlangsung drastis atau disertai gejala kesehatan lainnya. Jika ragu, konsultasikan dengan dokter anak agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Sleep regression merupakan periode ketika pola tidur anak yang sebelumnya sudah cukup baik tiba-tiba mengalami perubahan. Bayi bisa menjadi lebih sulit tidur, lebih sering terbangun pada malam hari, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tidur.
Kondisi ini umumnya berlangsung sekitar dua hingga enam minggu. Setelah melewati fase tersebut, pola tidur anak biasanya akan kembali membaik.
Setiap anak juga bisa mengalami sleep regression dengan cara yang berbeda. Ada yang hanya mengalaminya dalam waktu singkat, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali memiliki pola tidur yang teratur.
Orang tua dapat membantu si kecil dengan mempertahankan rutinitas yang konsisten, misalnya waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari.
Namun, perubahan pola tidur tidak selalu disebabkan sleep regression. Dalam beberapa kasus, bayi yang mendadak sering terbangun justru sedang mengalami masalah kesehatan.
Kapan Perubahan Tidur Perlu Dicermati?
Jika bayi yang biasanya tidur nyenyak tiba-tiba terbangun berkali-kali dalam semalam selama beberapa hari, orang tua sebaiknya memperhatikan kondisi lainnya.
Misalnya, apakah bayi mengalami demam, batuk, terlihat kesakitan, sulit bernapas, atau menunjukkan gejala lain yang tidak biasa.
Dilansir dari BabyCenter, ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat membuat tidur bayi terganggu dan perlu mendapat perhatian.
1. Sedang Sakit
Demam atau rasa tidak nyaman akibat penyakit tertentu dapat membuat bayi lebih sering terbangun pada malam hari.
Infeksi telinga, gangguan pencernaan, hingga rasa tidak nyaman saat tumbuh gigi dapat mengganggu kualitas tidur si kecil.
Jika perubahan tidur disertai gejala penyakit lainnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
2. Sleep Apnea
Bayi memang dapat memiliki pola pernapasan yang belum teratur. Pada bayi di bawah usia 6 bulan, misalnya, jeda napas singkat selama beberapa detik dapat terjadi.
Namun, orang tua perlu lebih waspada jika bayi tampak kesulitan bernapas ketika tidur, bernapas atau mendengkur dengan suara keras, atau mengalami jeda napas yang berlangsung lama.
Jika bayi berhenti bernapas selama sekitar 20 detik atau lebih, atau terbangun dalam kondisi tersedak dan muntah, segera konsultasikan dengan dokter.
3. Refluks Gastroesofageal
Masalah lain yang dapat mengganggu tidur bayi adalah refluks gastroesofageal. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Pada bayi, refluks dapat menyebabkan mereka lebih sering memuntahkan susu atau terlihat tidak nyaman, terutama ketika berbaring.
Jika bayi sering muntah atau memuntahkan susu dalam jumlah banyak dan kondisi tersebut mengganggu tidur atau aktivitasnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Jangan Langsung Anggap Sleep Regression
Perubahan pola tidur memang bisa menjadi bagian dari perkembangan normal bayi. Namun, orang tua tetap perlu melihat kondisi si kecil secara keseluruhan.
Jika bayi yang biasanya tidur selama beberapa jam tiba-tiba terbangun setiap jam, misalnya, coba perhatikan apakah ada tanda lain seperti demam, batuk, nyeri, muntah, atau gangguan pernapasan.
Dokter dapat membantu mencari penyebab perubahan pola tidur sekaligus memberikan saran agar bayi kembali nyaman.
Jadi, sleep regression memang bisa menjadi fase yang bikin orang tua kelelahan, tetapi biasanya tidak berlangsung selamanya. Dengan rutinitas tidur yang konsisten dan pemantauan terhadap kondisi kesehatan si kecil, orang tua dapat membantu melewati fase ini dengan lebih tenang.
Yang terpenting, jangan abaikan perubahan tidur yang berlangsung drastis atau disertai gejala kesehatan lainnya. Jika ragu, konsultasikan dengan dokter anak agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)