FITNESS & HEALTH

Studi HCC: 6 dari 10 Anak Muda Urban Lebih Pilih Self-Diagnosis saat Sakit

Aulia Putriningtias
Kamis 14 Mei 2026 / 11:15
Ringkasnya gini..
  • Fenomena ini sejalan dengan istilah global cyberchondria.
  • 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan.
  • 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter.
Jakarta: Fenomena swadiagnostik atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kini menjadi perhatian serius. 

Pada era digitalisasi, kita sering menemukan orang-orang yang memercayai artifisial intelegen atau AI. Bahkan, hal krusial seperti kesehatan juga memilih menggunakan AI dibandingkan ke dokter langsung.

Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan bahwa hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan
 
Studi ini juga menemukan bahwa kelompok 60 persen tersebut tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan. 

Penelitian ini dilakukan pada Maret-Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

"Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis Al, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi 'dokter pertama' bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan," papar Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Berdasarkan data yang dipaparkan, keluhan nomor satu justru bukan masalah kesehatan mental, melainkan, keluhan pernapasan dan kardiovaskular. Kedua adalah pencernaan, ketiga psikologis. 

"Namun, kami sampai saat ini belum melanjutkan (temuan) apakah keluhan ini dipengaruhi psikologis atau tidak," katanya.

Fenomena ini sejalan dengan istilah global cyberchondria, yaitu kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet. Yang menjadi perhatian, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter.

Kemudian, 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet. Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57 persen hasil swadiagnostik teryata dikonfirmasi benar oleh dokter.

"Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya bebcrapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat," jelasnya.

"Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenamya yang dinaggap cocok dengan dokter itu bsia jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis," tambahnya. 

HCC sendiri menambahkan responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnostik dibanding kelompok lainnya.

"Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat lebih murah, dan terasa lebih personal,'' tuturnya.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa meskipun kepercayaan terhadap dokter masih relatif tinggi, masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi medis.

Namun, bukan berarti ini adalah baik-baik saja. Menurut HCC, fenomena ini juga menjadi sinyal penting bahwa sistem kesehatan modern tidak lagi hanya bersaing dengan penyakit, tetapi juga dengan banjir informasi digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH