FITNESS & HEALTH
Definisi Hamil 2 Kali Gak Cuma Kembar Biasa, Ada yang Namanya Superfetation!
Yatin Suleha
Senin 29 Juni 2026 / 18:05
- Banyak yang ngira kalau udah hamil, ya cuma satu janin aja di dalam perut.
- Tapi secara teori, ternyata ada lho kondisi langka di mana seseorang bisa hamil lagi pas lagi mengandung.
- Jadi, superfetasi itu kondisi saat kehamilan kedua terjadi pas kehamilan pertama udah berjalan, yang artinya ada dua janin dengan usia yang beda.
Jakarta: Banyak yang ngira kalau udah hamil, ya cuma satu janin aja di dalam perut. Tapi secara teori, ternyata ada lho kondisi langka di mana seseorang bisa hamil lagi pas lagi mengandung.
Fenomena medis ini namanya superfetasi. Emang terdengar mind-blowing, tapi tenang, para ahli bilang kalau kasus ini jarang banget terjadi.
Jadi, superfetasi itu kondisi saat kehamilan kedua terjadi pas kehamilan pertama udah berjalan, yang artinya ada dua janin dengan usia yang beda dalam satu rahim. Kabar baiknya, kasus kayak gini hampir enggak pernah ditemui dalam dunia medis.
“Superfetasi pada manusia mungkin terjadi, tetapi sangat jarang. Saya belum pernah melihatnya dalam praktik saya atau mendengar kasus lokal apa pun,” kata Sasha Andrews, MD, spesialis kedokteran maternal-fetal yang bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Denver, Colorado.
Kelli V. Burroughs, MD, kepala staf dan ketua departemen obstetri dan ginekologi di Memorial Hermann Sugar Land Hospital, juga menekankan betapa langkanya superfetasi dan juga belum pernah melihatnya dalam praktiknya.
Katie Sagaser, MS, LCGC, konselor genetika di Juno Diagnostics, menggambarkan superfetasi sebagai “sangat jarang terjadi pada manusia” tetapi mungkin terjadi. Dia pernah menyaksikan satu kasus, tetapi itu hanya kasus yang mungkin.

(Superfetasi adalah kondisi sangat langka. Hal ini mengakibatkan tumbuhnya dua janin dengan usia kehamilan berbeda secara signifikan di dalam rahim. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
“Dalam dekade terakhir, saya hanya melihat satu kasus di mana salah satu pasien klinik kesuburan kami diduga memiliki diagnosis superfetasi dalam kehamilan kembarnya,” ujarnya.
Laporan kasus tahun 2021 bahkan mencatat bahwa hanya 10 kasus yang tercatat dalam literatur medis.
Pada manusia, kondisi ini memang jauh lebih jarang dibandingkan pada hewan tertentu, di mana superfetasi bisa menjadi bagian dari mekanisme reproduksi alami.
Kasus superfetasi pada manusia lebih sering dikaitkan dengan penggunaan teknologi reproduksi bantu seperti fertilisasi in vitro (IVF).
“Penggunaan teknologi reproduksi bantu seperti fertilisasi in vitro (IVF) dapat membuat superfetasi sedikit lebih mungkin terjadi, tetapi tetap sangat jarang."
"Secara teori, jika seseorang melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan dan hamil secara alami segera sebelum transfer embrio, kemungkinan superfetasi ada,” kata Sagaser.
Meski begitu, kemungkinan tersebut tetap sangat kecil karena pasien program IVF biasanya mendapat panduan ketat, termasuk larangan melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan selama proses terapi hormon berlangsung.
Intinya, meskipun secara medis mungkin, superfetasi adalah fenomena yang luar biasa langka. Kebanyakan dokter bahkan tidak pernah menemui kasusnya sepanjang karier mereka.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Fenomena medis ini namanya superfetasi. Emang terdengar mind-blowing, tapi tenang, para ahli bilang kalau kasus ini jarang banget terjadi.
Jadi, superfetasi itu kondisi saat kehamilan kedua terjadi pas kehamilan pertama udah berjalan, yang artinya ada dua janin dengan usia yang beda dalam satu rahim. Kabar baiknya, kasus kayak gini hampir enggak pernah ditemui dalam dunia medis.
“Superfetasi pada manusia mungkin terjadi, tetapi sangat jarang. Saya belum pernah melihatnya dalam praktik saya atau mendengar kasus lokal apa pun,” kata Sasha Andrews, MD, spesialis kedokteran maternal-fetal yang bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Denver, Colorado.
Kelli V. Burroughs, MD, kepala staf dan ketua departemen obstetri dan ginekologi di Memorial Hermann Sugar Land Hospital, juga menekankan betapa langkanya superfetasi dan juga belum pernah melihatnya dalam praktiknya.
Katie Sagaser, MS, LCGC, konselor genetika di Juno Diagnostics, menggambarkan superfetasi sebagai “sangat jarang terjadi pada manusia” tetapi mungkin terjadi. Dia pernah menyaksikan satu kasus, tetapi itu hanya kasus yang mungkin.

(Superfetasi adalah kondisi sangat langka. Hal ini mengakibatkan tumbuhnya dua janin dengan usia kehamilan berbeda secara signifikan di dalam rahim. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
“Dalam dekade terakhir, saya hanya melihat satu kasus di mana salah satu pasien klinik kesuburan kami diduga memiliki diagnosis superfetasi dalam kehamilan kembarnya,” ujarnya.
Laporan kasus tahun 2021 bahkan mencatat bahwa hanya 10 kasus yang tercatat dalam literatur medis.
Pada manusia, kondisi ini memang jauh lebih jarang dibandingkan pada hewan tertentu, di mana superfetasi bisa menjadi bagian dari mekanisme reproduksi alami.
Kasus superfetasi pada manusia lebih sering dikaitkan dengan penggunaan teknologi reproduksi bantu seperti fertilisasi in vitro (IVF).
“Penggunaan teknologi reproduksi bantu seperti fertilisasi in vitro (IVF) dapat membuat superfetasi sedikit lebih mungkin terjadi, tetapi tetap sangat jarang."
"Secara teori, jika seseorang melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan dan hamil secara alami segera sebelum transfer embrio, kemungkinan superfetasi ada,” kata Sagaser.
Meski begitu, kemungkinan tersebut tetap sangat kecil karena pasien program IVF biasanya mendapat panduan ketat, termasuk larangan melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan selama proses terapi hormon berlangsung.
Intinya, meskipun secara medis mungkin, superfetasi adalah fenomena yang luar biasa langka. Kebanyakan dokter bahkan tidak pernah menemui kasusnya sepanjang karier mereka.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)