WISATA
Mau Staycation atau Liburan Jauh saat Hamil? Ini yang Harus Disiapkan
A. Firdaus
Selasa 16 Juni 2026 / 16:18
- Trimester kedua umumnya menjadi periode yang relatif aman bagi ibu hamil untuk bepergian.
- Menurut dr. Natasya, ibu hamil dapat menggunakan berbagai moda transportasi.
- Ibu hamil disarankan membawa dokumen penting seperti kartu identitas dan buku kontrol kehamilan.
Jakarta: Kehamilan tidak selalu menjadi penghalang untuk menikmati perjalanan atau liburan bersama keluarga. Selama kondisi kehamilan sehat dan mendapat izin dari dokter, ibu hamil tetap dapat melakukan perjalanan, termasuk perjalanan jarak jauh.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Natasya Prameswari, Sp.OG, mengatakan trimester kedua umumnya menjadi periode yang relatif aman bagi ibu hamil untuk bepergian.
"Pada trimester kedua, biasanya kehamilan sudah tidak terlalu berisiko seperti pada trimester pertama maupun trimester ketiga yang sudah mendekati persalinan," ujar dr. Natasya.
Meski demikian, sebelum merencanakan liburan, ibu hamil tetap dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan kondisi kehamilan tidak memiliki penyulit dan aman untuk melakukan perjalanan.
Menurut dr. Natasya, ibu hamil dapat menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari kendaraan darat, kapal laut, hingga pesawat terbang. Namun, faktor kenyamanan selama perjalanan harus menjadi prioritas utama.
Perjalanan yang terlalu melelahkan atau membuat ibu hamil tidak nyaman berisiko memicu stres fisik maupun emosional yang dapat berdampak pada kondisi kehamilan.
Selain itu, penting bagi ibu hamil untuk mengetahui lokasi fasilitas kesehatan di destinasi yang akan dikunjungi. Langkah ini diperlukan sebagai antisipasi apabila terjadi kondisi darurat selama perjalanan.
Saat melakukan perjalanan jarak jauh, ibu hamil disarankan untuk tidak berada dalam posisi yang sama dalam waktu lama. Dokter Natasya menyarankan melakukan peregangan ringan atau berjalan singkat setiap dua hingga tiga jam.
Langkah ini membantu menjaga sirkulasi darah sekaligus mengurangi risiko Deep Vein Thrombosis (DVT), yaitu kondisi pembekuan darah yang dapat terjadi akibat terlalu lama duduk.
Penggunaan stoking kompresi juga dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga aliran darah tetap lancar selama perjalanan.
Ibu hamil juga perlu memahami tanda-tanda yang berpotensi membahayakan kehamilan. Beberapa kondisi yang harus diwaspadai antara lain kontraksi yang terjadi terus-menerus, perdarahan, hingga pecah ketuban.
"Apabila ibu hamil merasa sangat lelah atau mengalami stres selama perjalanan, bisa muncul kontraksi atau kontraksi palsu. Namun jika kontraksi berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan," jelasnya.
Sebelum berangkat, ibu hamil disarankan membawa dokumen penting seperti kartu identitas dan buku kontrol kehamilan. Dokumen tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memahami riwayat kehamilan apabila sewaktu-waktu diperlukan pemeriksaan di tempat tujuan.
Bagi ibu hamil yang terpaksa bepergian seorang diri, dr. Natasya juga menyarankan untuk memberi tahu petugas transportasi mengenai kondisi kehamilan agar bantuan dapat diberikan lebih cepat apabila terjadi keadaan darurat.
Selain itu, hindari membawa barang bawaan yang terlalu berat dan melebihi kemampuan fisik. Membawa koper atau tas berlebihan dapat meningkatkan risiko kelelahan selama perjalanan.
Pada akhirnya, liburan saat hamil tetap dapat dinikmati dengan aman selama dilakukan dengan perencanaan yang matang, kondisi kesehatan yang baik, serta persetujuan dari dokter kandungan. Dengan persiapan yang tepat, momen traveling bisa menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus kesempatan untuk beristirahat sebelum menyambut kehadiran si kecil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Natasya Prameswari, Sp.OG, mengatakan trimester kedua umumnya menjadi periode yang relatif aman bagi ibu hamil untuk bepergian.
"Pada trimester kedua, biasanya kehamilan sudah tidak terlalu berisiko seperti pada trimester pertama maupun trimester ketiga yang sudah mendekati persalinan," ujar dr. Natasya.
Meski demikian, sebelum merencanakan liburan, ibu hamil tetap dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan kondisi kehamilan tidak memiliki penyulit dan aman untuk melakukan perjalanan.
Pilih transportasi yang nyaman
Menurut dr. Natasya, ibu hamil dapat menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari kendaraan darat, kapal laut, hingga pesawat terbang. Namun, faktor kenyamanan selama perjalanan harus menjadi prioritas utama.
Perjalanan yang terlalu melelahkan atau membuat ibu hamil tidak nyaman berisiko memicu stres fisik maupun emosional yang dapat berdampak pada kondisi kehamilan.
Selain itu, penting bagi ibu hamil untuk mengetahui lokasi fasilitas kesehatan di destinasi yang akan dikunjungi. Langkah ini diperlukan sebagai antisipasi apabila terjadi kondisi darurat selama perjalanan.
Jangan duduk terlalu lama
Saat melakukan perjalanan jarak jauh, ibu hamil disarankan untuk tidak berada dalam posisi yang sama dalam waktu lama. Dokter Natasya menyarankan melakukan peregangan ringan atau berjalan singkat setiap dua hingga tiga jam.
Langkah ini membantu menjaga sirkulasi darah sekaligus mengurangi risiko Deep Vein Thrombosis (DVT), yaitu kondisi pembekuan darah yang dapat terjadi akibat terlalu lama duduk.
Penggunaan stoking kompresi juga dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga aliran darah tetap lancar selama perjalanan.
Kenali tanda bahaya selama traveling
Ibu hamil juga perlu memahami tanda-tanda yang berpotensi membahayakan kehamilan. Beberapa kondisi yang harus diwaspadai antara lain kontraksi yang terjadi terus-menerus, perdarahan, hingga pecah ketuban.
"Apabila ibu hamil merasa sangat lelah atau mengalami stres selama perjalanan, bisa muncul kontraksi atau kontraksi palsu. Namun jika kontraksi berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan," jelasnya.
Jangan lupa membawa dokumen kehamilan
Sebelum berangkat, ibu hamil disarankan membawa dokumen penting seperti kartu identitas dan buku kontrol kehamilan. Dokumen tersebut dapat membantu tenaga kesehatan memahami riwayat kehamilan apabila sewaktu-waktu diperlukan pemeriksaan di tempat tujuan.
Bagi ibu hamil yang terpaksa bepergian seorang diri, dr. Natasya juga menyarankan untuk memberi tahu petugas transportasi mengenai kondisi kehamilan agar bantuan dapat diberikan lebih cepat apabila terjadi keadaan darurat.
Selain itu, hindari membawa barang bawaan yang terlalu berat dan melebihi kemampuan fisik. Membawa koper atau tas berlebihan dapat meningkatkan risiko kelelahan selama perjalanan.
Pada akhirnya, liburan saat hamil tetap dapat dinikmati dengan aman selama dilakukan dengan perencanaan yang matang, kondisi kesehatan yang baik, serta persetujuan dari dokter kandungan. Dengan persiapan yang tepat, momen traveling bisa menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus kesempatan untuk beristirahat sebelum menyambut kehadiran si kecil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)