WISATA
Deretan Terowongan Kereta Api Aktif di Indonesia, Ada yang Berusia Lebih dari Seabad
A. Firdaus
Sabtu 01 Agustus 2026 / 11:29
- Terowongan-terowongan tersebut dibangun untuk menembus perbukitan hingga pegunungan, agar perjalanan kereta menjadi lebih efisien.
- Sebagian besar merupakan peninggalan masa kolonial.
- Beberapa lainnya merupakan terowongan baru.
Jakarta: Jaringan kereta api di Indonesia tidak hanya terdiri dari rel dan stasiun, tetapi juga memiliki sejumlah terowongan yang hingga kini masih aktif digunakan.
Terowongan-terowongan tersebut dibangun untuk menembus perbukitan hingga pegunungan, agar perjalanan kereta menjadi lebih efisien.
Sebagian besar merupakan peninggalan masa kolonial, yang tetap berfungsi setelah melalui berbagai perawatan dan modernisasi, sementara beberapa lainnya merupakan terowongan baru, yang dibangun untuk mendukung jalur ganda, maupun proyek kereta modern.
Berikut adalah terowongan kereta api aktif di Indonesia yang masih menjadi bagian penting dari operasional perjalanan kereta.

Terowongan Sasaksaat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 1902–1903. Terowongan sepanjang 949 meter ini berada di antara Stasiun Sasaksaat dan Maswati. Membelah perbukitan Cidepong, Sasaksaat menjadi salah satu terowongan kereta api aktif terpanjang di Indonesia, dan hingga kini masih dilalui kereta api setiap hari.
Terowongan Notog berada di Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah. Terowongan lama sepanjang 260 meter dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), pada 1915 dan mulai beroperasi pada 1 Juli 1916. Setelah pembangunan jalur ganda, terowongan baru sepanjang 476 meter mulai digunakan, sedangkan terowongan lama resmi ditutup pada 2019, dan dipertahankan sebagai bangunan bersejarah.

Terowongan Ijo terletak di Kebumen dan menembus perbukitan kapur Gunung Malang. Terowongan lama dibangun pada 1885–1886 dengan panjang 580 meter. Pada 2020 mulai dioperasikan terowongan baru sepanjang 581 meter, yang menggunakan teknologi slab track, yaitu rel yang dipasang di atas landasan beton tanpa batu balast.
Terowongan Kebasen berada di Gambarsari, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Terowongan lama sepanjang 79 meter mulai beroperasi pada 1 Juli 1916. Untuk mendukung jalur ganda Purwokerto–Kroya, dibangun dua terowongan baru dengan panjang masing-masing 109 meter dan 183 meter, yang kini digunakan sebagai jalur aktif.
Terowongan Garahan dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 1901–1902, dengan panjang sekitar 113 meter. Berlokasi di Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, terowongan ini menjadi bagian dari jalur Jember–Banyuwangi dan tetap aktif digunakan. Meski telah berusia lebih dari satu abad, kondisinya masih terawat dan dikelilingi pemandangan perbukitan yang hijau.

Terowongan Mrawan dibangun pada 1901–1902 dengan membelah Gunung Gumitir, sebagai bagian dari jalur Kalisat–Banyuwangi. Panjangnya mencapai 690 meter. Terowongan ini pernah mengalami kerusakan akibat gempa dan longsor pada 1909, namun berhasil diperbaiki sehingga tetap menjadi jalur penting, bagi perjalanan kereta api di Jawa Timur.
Terowongan Gunung Gajah atau Terowongan Willem Sijnja, dibangun oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS), untuk mendukung jalur menuju Lubuklinggau. Pembangunannya berlangsung sekitar 1924–1925 sebagai bagian dari lintas Lahat–Tebing Tinggi, Sumatra Selatan, sedangkan jalur kereta api tersebut mulai beroperasi pada 1 November 1932.
Terowongan Karangkates dibangun pada 1969 oleh insinyur Indonesia, bersamaan dengan pembangunan Waduk Ir. Sutami atau Waduk Karangkates di Malang, Jawa Timur. Kompleks ini terdiri atas Terowongan Eka Bakti Karya sepanjang 850 meter, dan Terowongan Dwi Bakti Karya sepanjang 400 meter, yang berada di jalur Blitar–Malang.
Terowongan Lampegan dibangun pada 1879–1882, dan menjadi salah satu terowongan kereta api tertua di Jawa Barat. Terletak di Cibokor, Cianjur, terowongan ini merupakan bagian dari jalur Batavia/Bogor–Sukabumi–Bandung.
Setelah beberapa kali direstorasi, Terowongan Lampegan kembali aktif dilalui KA Siliwangi dengan relasi Sukabumi–Cipatat. Nama "Lampegan" dipercaya berasal dari kebiasaan para pekerja, yang diingatkan untuk membawa lampu saat memasuki terowongan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Terowongan-terowongan tersebut dibangun untuk menembus perbukitan hingga pegunungan, agar perjalanan kereta menjadi lebih efisien.
Sebagian besar merupakan peninggalan masa kolonial, yang tetap berfungsi setelah melalui berbagai perawatan dan modernisasi, sementara beberapa lainnya merupakan terowongan baru, yang dibangun untuk mendukung jalur ganda, maupun proyek kereta modern.
Berikut adalah terowongan kereta api aktif di Indonesia yang masih menjadi bagian penting dari operasional perjalanan kereta.
1. Terowongan Sasaksaat

Terowongan Sasaksaat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 1902–1903. Terowongan sepanjang 949 meter ini berada di antara Stasiun Sasaksaat dan Maswati. Membelah perbukitan Cidepong, Sasaksaat menjadi salah satu terowongan kereta api aktif terpanjang di Indonesia, dan hingga kini masih dilalui kereta api setiap hari.
2. Terowongan Notog
Terowongan Notog berada di Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah. Terowongan lama sepanjang 260 meter dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), pada 1915 dan mulai beroperasi pada 1 Juli 1916. Setelah pembangunan jalur ganda, terowongan baru sepanjang 476 meter mulai digunakan, sedangkan terowongan lama resmi ditutup pada 2019, dan dipertahankan sebagai bangunan bersejarah.
3. Terowongan Ijo

Terowongan Ijo terletak di Kebumen dan menembus perbukitan kapur Gunung Malang. Terowongan lama dibangun pada 1885–1886 dengan panjang 580 meter. Pada 2020 mulai dioperasikan terowongan baru sepanjang 581 meter, yang menggunakan teknologi slab track, yaitu rel yang dipasang di atas landasan beton tanpa batu balast.
4. Terowongan Kebasen
Terowongan Kebasen berada di Gambarsari, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Terowongan lama sepanjang 79 meter mulai beroperasi pada 1 Juli 1916. Untuk mendukung jalur ganda Purwokerto–Kroya, dibangun dua terowongan baru dengan panjang masing-masing 109 meter dan 183 meter, yang kini digunakan sebagai jalur aktif.
5. Terowongan Garahan
Terowongan Garahan dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 1901–1902, dengan panjang sekitar 113 meter. Berlokasi di Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, terowongan ini menjadi bagian dari jalur Jember–Banyuwangi dan tetap aktif digunakan. Meski telah berusia lebih dari satu abad, kondisinya masih terawat dan dikelilingi pemandangan perbukitan yang hijau.
6. Terowongan Mrawan

Terowongan Mrawan dibangun pada 1901–1902 dengan membelah Gunung Gumitir, sebagai bagian dari jalur Kalisat–Banyuwangi. Panjangnya mencapai 690 meter. Terowongan ini pernah mengalami kerusakan akibat gempa dan longsor pada 1909, namun berhasil diperbaiki sehingga tetap menjadi jalur penting, bagi perjalanan kereta api di Jawa Timur.
7. Terowongan Gunung Gajah
Terowongan Gunung Gajah atau Terowongan Willem Sijnja, dibangun oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS), untuk mendukung jalur menuju Lubuklinggau. Pembangunannya berlangsung sekitar 1924–1925 sebagai bagian dari lintas Lahat–Tebing Tinggi, Sumatra Selatan, sedangkan jalur kereta api tersebut mulai beroperasi pada 1 November 1932.
8. Terowongan Karangkates I & II
Terowongan Karangkates dibangun pada 1969 oleh insinyur Indonesia, bersamaan dengan pembangunan Waduk Ir. Sutami atau Waduk Karangkates di Malang, Jawa Timur. Kompleks ini terdiri atas Terowongan Eka Bakti Karya sepanjang 850 meter, dan Terowongan Dwi Bakti Karya sepanjang 400 meter, yang berada di jalur Blitar–Malang.
9. Terowongan Lampegan
Terowongan Lampegan dibangun pada 1879–1882, dan menjadi salah satu terowongan kereta api tertua di Jawa Barat. Terletak di Cibokor, Cianjur, terowongan ini merupakan bagian dari jalur Batavia/Bogor–Sukabumi–Bandung.
Setelah beberapa kali direstorasi, Terowongan Lampegan kembali aktif dilalui KA Siliwangi dengan relasi Sukabumi–Cipatat. Nama "Lampegan" dipercaya berasal dari kebiasaan para pekerja, yang diingatkan untuk membawa lampu saat memasuki terowongan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)