Database Kaiser Permanente Southern dan Northern California menunjukkan wanita yang mengalami MS dapat memiliki anak, menyusui, dan melanjutkan perawatan mereka. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Database Kaiser Permanente Southern dan Northern California menunjukkan wanita yang mengalami MS dapat memiliki anak, menyusui, dan melanjutkan perawatan mereka. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Studi: Kehamilan Turunkan Risiko Multiple Sclerosis yang Kambuh

Rona kehamilan Multiple Sclerosis
Anda Nurlaila • 14 Maret 2019 18:03
Sebuah penelitian terbaru dari Langer-Gould dan timnya meninjau semua catatan dari database Kaiser Permanente Southern dan Northern California menunjukkan wanita yang mengalami MS dapat memiliki anak, menyusui, dan melanjutkan perawatan mereka tanpa mengalami peningkatan risiko kambuh selama periode postpartum.
 

 
Jakarta:
Ada kabar gembira bagi wanita penderita Multiple Sclerosis (MS) yang merencanakan kehamilan. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan wanita yang mengalami MS dapat memiliki anak, menyusui, dan melanjutkan perawatan mereka tanpa mengalami peningkatan risiko kambuh selama periode postpartum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Studi pendahuluan yang nantinya akan dipresentasikan di American Academy of Neurology ke-71 Pertemuan Tahunan di Philadelphia, 4 hingga 10 Mei 2019 mendatang ini mengungkapkan sebagian besar penderita MS adalah wanita usia subur.  
 
Penulis studi Kaiser Permanente Southern California di Pasadena California, dan anggota dari Akademi Neurologi Amerika Annette Langer-Gould mengatakan peningkatan risiko kekambuhan setelah kehamilan ditentukan lebih dari 20 tahun lalu.
 
Sebelum perawatan penyakit MS tersedia dan sebelum pemindaian MRI dipakai mendiagnosis penyakit setelah satu serangan.
 
"Kami ingin melihat apakah informasi tentang peningkatan serangan (MS) setelah melahirkan masih berlaku hari ini," katanya.
 
Untuk penelitian ini, Langer-Gould dan timnya meninjau semua catatan dari database Kaiser Permanente Southern dan Northern California. 
 
Mereka mengidentifikasi 466 kehamilan, 375 wanita diantaranya memiliki MS dari 2008 hingga 2016. Mereka meninjau catatan medis dan menyurvei para wanita untuk informasi tentang pengobatan, menyusui dan kekambuhan MS.
 
(Baca juga: Elisabeth Tabah Menderita Penyakit Multiple Sclerosis)
 
Di antara peserta, 38 persen tidak menerima pengobatan untuk MS pada tahun sebelum mereka hamil.
 
Pada awal kehamilan, total 15 persen memiliki sindrom klinis terisolasi, yang merupakan episode pertama dari gejala MS. Delapan persen wanita mengalami kekambuhan selama kehamilan.
 
Studi: Kehamilan Turunkan Risiko Multiple Sclerosis yang Kambuh
(Sebuah penelitian terbaru dari Langer-Gould dan timnya meninjau semua catatan dari database Kaiser Permanente Southern dan Northern California menunjukkan wanita yang mengalami MS dapat memiliki anak, menyusui, dan melanjutkan perawatan mereka tanpa mengalami peningkatan risiko kambuh selama periode postpartum. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
 
Pada tahun setelah melahirkan, 26 persen perempuan mengalami kekambuhan, 87 persen menyusui, 35 persen menyusui secara eksklusif, dan 41 persen menjalani kembali pengobatan modifikasi penyakit MS.
 
Tingkat kekambuhan tahunan untuk wanita adalah 0,39 sebelum kehamilan. Selama kehamilan angka ini turun menjadi 0,07 hingga 0,14. 
 
Aktivitas penyakit tidak kambuh setelah tiga bulan pertama persalinan sebesar 0,27, sedikit lebih rendah dari tingkat pra-kehamilan. Pada empat hingga enam bulan setelah kelahiran, angka tersebut telah kembali ke tingkat pra-kehamilan, yaitu 0,37. 
 
Hasilnya sama setelah para peneliti menyesuaikan faktor-faktor lain yang memengaruhi tingkat kekambuhan. Seperti tingkat keparahan penyakit sebelum kehamilan.
 
Peneliti menemukan, wanita yang menyusui secara eksklusif, yakni bayi hanya minum ASI selama setidaknya dua bulan, sekitar 40 persen lebih rendah mengalami kekambuhan dibandingkan wanita yang tidak menyusui. 
 
Di antara wanita yang menyusui secara eksklusif, 46 dari 167 orang melanjutkan menggunakan perawatan penyakit MS saat menyusui.
 
Peneliti juga menemukan, melanjutkan penggunaan perawatan modifikasi penyakit tidak memengaruhi kekambuhan. Interferon-betas dan glatiramer asetat adalah perawatan yang paling umum digunakan dalam kelompok ini.
 
Langer-Gould mengatakan, tingkat kambuh yang lebih rendah setelah kelahiran pada penderita multiple sclerosis bisa disebabkan karena tingginya tingkat pemberian ASI eksklusif.
 
Keterbatasan penelitian adalah bahwa dari semua peserta, hanya sedikit yang diobati dengan natalizumab atau fingolimod sebelum kehamilan. 
 
Penderita yang menggunakan obat-obatan ini cenderung mengalami MS yang lebih parah. Sehingga penelitian tidak membahas potensi bahaya dari menghentikan obat-obatan MS untuk hamil atau manfaat menyusui pada populasi ini. 
 
Penelitian multiple sclerosis selanjutnya harus melihat pada subkelompok wanita ini sebab kekambuhan parah dilaporkan terkait dengan penghentian obat-obatan tersebut selama kehamilan.
 


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif