Setiap orang memiliki peluang menderita mental illness. (Foto: Pexels)
Setiap orang memiliki peluang menderita mental illness. (Foto: Pexels)

Memahami Mental Illness

Rona kesehatan mental
Sunnaholomi Halakrispen • 11 Juli 2019 19:22
Setiap orang memiliki peluang menderita mental Ilness. Patut diwaspadai, karena ada gangguan ini muncul karena suatu hal atau fobia tertentu. Ada yang muncul akibat tertekan atau stres, bisa juga sudah parah hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
 

Jakarta: Mental illness atau gangguan mental, ada banyak jenisnya. Mulai dari yang ringan hingga berbahaya. Ada banyak hal yang perlu diketahui terkait gangguan mental. Baik pengertian, jenis, sampai gejala yang dihadapinya.
 
Setiap orang memiliki peluang menderita mental illness. Tak pandang usia, baik tua maupun muda, baik yang berpendidikan tinggi atau tidak. Bahkan jenis kelamin dan status sosial apapun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sekalipun gangguan mental dapat terjadi di sepanjang rentang usia, namun sekitar 3/4 dari seluruh jenis gangguan mental dialami oleh mereka yang berusia 24 tahun ke atas," ujar dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ kepada Medcom.id di Jakarta.
 
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa yang praktek di RS Pondok Indah dan Puri Indah itu menyatakan bahwa seseorang memiliki kesehatan mental yang baik, apabila mempunyai kemampuan tertentu. Salah satunya, mampu menjalankan aktivitas yang produktif. Seperti beraktivitas di pekerjaan, sekolah, membantu orang lain, dan sebagainya.
 
"Memiliki hubungan interpersonal atau sosial yang sehat dan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mengatasi masalah dengan baik," tuturnya.
 
Sedangkan, gangguan mental merupakan kondisi medis yang menyangkut perubahan pada emosi, pikiran, atau perilaku seseorang. Kondisi ini selanjutnya mengakibatkan penderitaan dan  gangguan dalam menjalankan ketiga aktivitas tersebut dengan efektif dan produktif.
 
Penyebab dari gangguan mental pun berbeda untuk masing-masing individu. Ada yang muncul karena suatu hal atau fobia tertentu, ada yang muncul akibat tertekan atau stres, bisa juga sudah parah hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
 
Memahami Mental Illness
dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ (Foto: RSPI)
 
Jenis-jenis gangguan mental sendiri setidaknya kurang lebih 300 jenis yang terdaftar dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5 (DSM-5) maupun International Classification of Diseases 10th Edition (ICD-10) yang terbagi atas 10 kategori (F0 – F9). Klasifikasi seperti ini dibutuhkan untuk membuat kesepakatan, penelitian, dan menyusun tata laksana pengobatan yang terbaik bagi yang membutuhkannya.
 
"Beberapa gangguan mental yang sering kita dengar dan temukan di masyarakat atau melalui media, pertama, gangguan mental organik. Gangguan yang disebabkan adanya kelainan organik atau struktural di otak, seperti kepikunan atau gangguan mental yang disebabkan oleh penyakit fisik yang berdampak pada kinerja otak lainnya," papar dr. Leonardi.
 
Kedua, gangguan mental dan perilaku yang berhubungan dengan penggunaan zat psikoaktif. Gangguan jenis ini dialami oleh para pengguna amfetamin, ganja, heroin, alkohol, dan sejenisnya.
 
Gangguan jenis skizofrenia adalah gangguan mental yang memiliki gejala utama halusinasi pendengaran dan delusi atau disebut waham. Sedangkan, gangguan mood merupakan gangguan pada alam perasaan dan emosi, seperti depresi dan bipolar.
 
Jenis kelima, gangguan neurotik yang berupa cemas berlebihan, fobia, panik, obsesif kompulsif, dan sejenisnya. Ada juga gangguan perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisik dan fisiologis dengan munculnya insomnia, gangguan makan, disfungsi seksual, dan sejenisnya.
 
Selanjutnya, gangguan pada kepribadian dan perilaku orang dewasa, yaitu kepribadian paranoid, narsisistik, obsesif-kompulsif, kesulitan dalam mengendalikan impulse, judi patologis, pyromania, kleptomania, kelainan preferensi seksual, dan lain-lain.
 
Kemudian, retardasi mental yang sering disebut sebagai disabilitas intelektual. Gangguan perkembangan psikologis yakni gangguan bicara, autisme, dan sindrom Asperger. Terakhir, hangguan perilaku dan emosional pada anak dan remaja, yaitu gangguan atensi dan hiperaktivitas.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif