Jika sudah diketahui bahwa seseorang terkena sifilis, maka perlu segera dilakukan tatalaksana pengobatan sifilis. (Foto: Pexels.com)
Jika sudah diketahui bahwa seseorang terkena sifilis, maka perlu segera dilakukan tatalaksana pengobatan sifilis. (Foto: Pexels.com)

Pentingnya Pengobatan Dini pada Penyakit Sifilis

Rona penyakit sifilis
Raka Lestari • 13 Februari 2020 07:00
Jakarta: Jika tudak diobati dengan benar, sifilis yang merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan bakteri Treponema Pallidum dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ otak, sistem saraf serta jantung bahkan dapat mengancam jiwa.
 
Berdasarkan data distribusi kasus Sifilis baru di RSCM, terjadi peningkatan jumlah pasien yang berobat akibat sifilis. Pada 2016 tercatat 45 pasien, 2017 tercatat 49 pasien, dan 2018 meningkat menjadi 63 pasien.
 
“Pengetahuan masyarakat terhadap penyakit sifilis sampai saat ini masih minim, termasuk tentang deteksi dini terhadap penyakit ini. Padahal sifilis merupakan penyakit infeksi menular seksual yang dapat menyerang organ lain seperti jantung, otak, dan saraf pada tahap lanjut," ujar dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV, dokter spesialis kulit dan kelamin sekaligus CEO Klinik Pramudika.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Selain itu, sifilis dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan dapat menyebabkan kecacatan. Dengan demikian, harus dilakukan pemutisa. rantai penularan penyakit ini,” tambahnya lagi.
 
Pentingnya Pengobatan Dini pada Penyakit Sifilis
(Acara seminar sedia mengenai Penyakit Sifilis di kawasan Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)
 
Jika sudah diketahui bahwa seseorang terkena sifilis, maka perlu segera dilakukan tatalaksana pengobatan sifilis.
 
“Hingga saat ini bakteri Treponema Pallidum masih sensitif terhadap antibiotik penisilin sehingga pilihan obat utama tetap dengan pemberian antibiotik penisilin," papar dr. Anthony.
 
"Pemberian penisilin dapat melalui oral atau injeksi intramuskular dengan dosis yang berbeda-beda tergantung stadium penyakit sifilis dan co-morbiditas (penyakit/kondisi penyerta),” jelasnya dalam seminar media mengenai Penyakit Sifilis di kawasan Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.  
 
Namun pada praktiknya, terdapat tantangan dalam tatalaksana pengobatan ini yaitu ketidakpatuhan berobat pada pasien.
 
“Hal ini karena pasien sendiri kurang dalam edukasi dan awareness terhadap penyakitnya. Selain itu, pasien juga mungkin khawatir karena akan timbul sedikit nyeri atau kurang nyaman beberapa saat setelag mendapat injeksi intramuscular. Oleh karena itu, pasien harus teredukasi jika tidak ingin sifilis berlanjut ke stadium yang lebih berat,” tutup dr. Anthony.
 

(TIN)
TERKAIT
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif