Pneumonia bisa terjadi pada anak-anak. Kenali gejalanya. (Foto: Pexels.com)
Pneumonia bisa terjadi pada anak-anak. Kenali gejalanya. (Foto: Pexels.com)

Waspadai Gejala Pneumonia pada Balita dan Bayi

Rona pneumonia
Torie Natalova • 15 Maret 2019 08:58
Tak hanya dewasa, anak-anak juga bisa terkena pneumonia. Sebelum batuk, anak-anak mungkin bernapas lebih cepat atau mengalami kesulitan bernapas. Semakin lama batuk, demam dan masalah pernapasan muncul, semakin besar kemungkinan anak menderita pneumonia.
 

 
Jakarta:
Pneumonia adalah infeksi yang menyerang paru. Dan pneumonia tidak hanya menyerang orang dewasa tapi juga sangat umum terjadi pada anak-anak. Menurut laporan WHO, sekitar 156 juta kasus pneumonia terjadi pada anak balita di seluruh dunia setiap tahun. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Praktisi perawat keluarga Katie Mysen mengatakan, di negara-negara maju kejadiannya adalah 33 kasus pneumonia untuk setiap 10 ribu anak di bawah usia lima tahun. 
 
Pneumonia tidak sekedar batuk atau flu biasa, melainkan radang paru-paru. Itu terjadi ketika cairan lendir mengisi paru-paru, dan paru-paru yang dipenuhi cairan dapat mengancam jiwa penderitanya.
 
Meskipun pneumonia dapat diobati, mencegahnya akan lebih baik karena gejala pneumonia yang tidak selalu terlihat dapat membahayakan jiwa jika tidak diobati. 
 
Pneumonia dapat terjadi kapan saja sepanjang tahun, tapi lebih umum terjadi pada bulan-bulan musim dingin karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tertutup dengan orang lain.
 
Itulah penyebab anak-anak lebih banyak mengalami flu dan batuk selama musim dingin dan sebagian alasan pneumonia menjadi sangat sulit diidentifikasi oleh orang tua.
 
Gejala pneumonia pada bayi dan anak kecil bisa tak terlihat dan bisa termasuk kombinasi demam dan batuk. 
 
Waspadai Gejala Pneumonia pada Balita dan Bayi
(Pneumonia adalah infeksi yang menyerang paru. Dan pneumonia bisa terjadi pada anak-anak. Foto: Pexels.com)
 
(Baca juga: Ketahui Beda Gejala Pneumonia dan Batuk Biasa)
 
Sebelum batuk, anak-anak mungkin bernapas lebih cepat atau mengalami kesulitan bernapas. Semakin lama batuk, demam dan masalah pernapasan muncul, semakin besar kemungkinan anak menderita pneumonia. Pada bayi, mereka mungkin mengalami kesulitan makan, rewel atau gelisah daripada batuk.
 
Pernapasan yang bermasalah biasanya ditandai dengan napas yang berisik dengan mengi atau dengusan, pernapasan yang tegang dengan banyak gerakan dada dan perut, melebarnya lubang hidung atau pernapasan yang sangat cepat. 
 
Pernapasan yang bermasalah juga dapat terjadi pada sejumlah penyakit parah yang memerlukan bantuan medis segera.
 
Pada bayi, kesulitan bernapas paling terlihat saat menyusui. Membatasi jalan napas jelas membuatnya kesulitan bernapas. Jadi, ketika bayi mengalami kesulitan bernapas, ia makan lebih sedikit, sering menangis atau menunjukkan ketidaknyamanan.
 
Selain bayi, anak-anak dengan masalah kondisi jantung atau pernapasan lebih rentan terhadap pneumonia. Kondisi ini termasuk seperti penyakit jantung bawaan, asma, cystic fibrosis, dan gangguan imunodefisiensi. Paparan rokok pada bayi atau balita juga meningkatkan risiko anak terkena pneumonia.
 
Orang tua dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan dasar di rumah dan di luarnya untuk membantu anak-anak mereka terhindar dari infeksi. 
 
Ini termasuk langkah dasar seperti vaksinasi flu, mencuci tangan dan menutupi batuk atau bersin. Jika bayi mereka tidak responsif atau lesu, mereka harus diperiksakan ke dokter karena butuh penanganan yang cepat dan tepat. 
 
Jika si kecil terdapat tanda di atas, ada baiknya konsultasikan ke dokter spesialis anak. Beberapa rumah sakit yang bisa Anda kunjungi yaitu, Rumah Sakit Royal Taruma,  Rumah Sakit Pondok Indah, atau Siloam Hospitals Kebon Jeruk.
 


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi