Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar/Media Indonesia/Susanto.
Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar/Media Indonesia/Susanto. (Abdul Kohar)

Abdul Kohar

Dewan Redaksi Media Group

Mengangkat Kerak Nasi Liwet

Pilar kemiskinan menko pmk Podium Kemiskinan Ekstrem Kemiskinan Ekstrem di Desa
Abdul Kohar • 23 Maret 2022 07:27
SEGALA yang ekstrem memang tidak mengenakkan. Cuaca ekstrem, ideologi ekstrem, sikap ekstrem, juga kemiskinan ekstrem, semua itu sekuat tenaga mesti dihindari, bahkan dibasmi. Namun, bukan perkara gampang menihilkan yang ekstrem. Butuh daya juang ekstra. Perlu jiwa tahan banting yang tidak terkira.
 
Baca:Menko PMK: Pengentasan Kemiskinan Ibarat Nasi Liwet
 
Menangani cuaca ekstrem, misalnya, tentu tidak cukup hanya mengandalkan pawang. Mesti ada tenaga ahli cuaca dan teknologi terkini untuk modifikasi cuaca yang mengupayakan agar cuaca ekstrem tidak terlalu berdampak fatal. Toh, itu pun belum tentu berhasil seratus persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Apalagi menihilkan kemiskinan ekstrem, amat sangat perlu waktu. Tujuh dekade rasanya belum cukup untuk mewujudkannya. Itulah mengapa Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengistilahkan usaha membasmi kemiskinan ekstrem seperti membersihkan nasi liwet. Nasi liwet yang dimaksud Menteri Muhadjir ialah nasi yang ditanak langsung, tanpa saringan atau kukusan. Bukan jenis kuliner nasi liwet khas Solo yang gurih itu. Kalau yang itu, asal perut kosong, dalam tempo sekejap juga bisa habis bersih. Nasi liwet versi Pak Menteri ini sulit dibersihkan karena bagian bawahnya berkerak.
 
Kerak nasi liwet itulah kemiskinan ekstrem. Muhadjir mengatakan pengentasan masyarakat dari kemiskinan butuh perjuangan. Perjuangan itu digambarkan melalui perumpamaan. “Makin sedikit yang miskin bukan semakin mudah, justru semakin sulit untuk dihilangkan. Ibarat nasi liwet, ini adalah keraknya yang harus didatangi satu-satu,” kata Muhadjir, akhir pekan lalu.
 
Republik ini memang telah berusia 76 tahun. Agustus nanti sudah 77 tahun. Namun, dua dekade menjelang seabad usia Indonesia, masih ada 9,71% orang hidup dalam belitan kemiskinan. Persentase itu setara dengan 26,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2021, ada sekitar 10,8 juta orang (sekitar 4% populasi) hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kemiskinan ekstrem terbanyak ada di Jawa Barat. Jumlahnya lebih dari 1,7 juta jiwa.
 
Pada 2021, pemerintah telah berupaya untuk menanggulangi kemiskinan ekstrem di 35 kabupaten prioritas di 7 provinsi dengan 24 kabupaten di antaranya berada di wilayah pesisir. Pada 2022, pemerintah memperluas cakupan penanggulangan kemiskinan ekstrem di 212 kabupaten dan kota di 25 provinsi dengan 147 kabupaten dan kota di antaranya berada di wilayah pesisir.
 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menargetkan kemiskinan ekstrem sirna atau nol persen hingga 2024. Itu artinya dua tahun lagi, Indonesia harus sudah bersih dari kemiskinan ekstrem. Kerak-kerak liwetan nasi harus sudah diangkat semua tanpa ada sisa. Mengangkat 10,8 juta orang dari kubangan kemiskinan ekstrem bukanlah pekerjaan mudah.

 
Halaman Selanjutnya
Lalu, siapa kah penduduk yang…
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif